Petualangan Melihat Air Terjun Parangloe Gowa

Air terjun Parangloe terletak di Parangloe Kabupate Gowa, Sulawesi Selatan, sekitar 30 km dari Kota Makassar arah ke Malino. Banyak yang belum mengetahui tempat ini karena memang belum begitu disentuh oleh pemerintah untuk dijadikan sebagai tempat wisata.

Masyarakat Parangloe sendiri, seringkali menyebutnya sebagai Air terjun Bantimurung II, atau air terjun bertingkat dan air terjun bersusun. Disebut demikian karena memang karakteristiknya yang bertingkat dan bersusun. Bila dilihat dari nama-nama tersebut seolah ada benarnya, karena Air terjun Parangloe konon katanya bermuara dari Air terjun Bantimurung yang ada di Maros.

Boleh dibilang, air terjun Parangloe ini memiliki potensi wisata. Tak sedikit yang membicarakannya di media sosial, atau setidaknya di kalangan pecinta alam. Saya sendiri pertama kali mendengarnya dari seorang teman kampus medio tahun 2010 yang kebetulan berasal dari Parangloe.

Sekitar akhir tahun 2012, saya pun mencoba untuk mengunjunginya dengan bekal keberanian dan sedikit informasi kala itu. Sayang, saya gagal menemukannya. Walau begitu, saya tak langsung menyerah dan menanamkan niat untuk bisa mengunjunginya suatu hari nanti.

Beberapa bulan berselang, tepatnya 17 Agustus 2013 yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan, saya dan ketiga orang teman pun melanjutkan petualangan menuju air terjun Parangloe ini. Tak mau kecele lagi, kali ini saya sudah mengumpulkan informasi cukup lengkap hingga saya yakin akan menemukannya.

 

Perjalanan menuju Air terjun Parangloe

Untuk menuju Air terjun Parangloe terbilang gampang-gampang susah. Akses angkutan umum menuju kesana sedikt sulit dan butuh waktu lama. Naik motor adalah pilihan yang tepat karena dapat mengambil jalur lebih singkat yakni melewati Samata kemudian keluar di Jalan Poros Sungguminasa — Malino. Sekitar pukul 9 pagi, kami berkumpul di depan kampus UIN Samata untuk kemudian konvoi bersama menuju lokasi.

Tak lama berselang kami sudah tiba di depan kantor kehutanan. Menurut informasi yang saya dapat sebelumnya, di samping kantor kehutanan tersebut ada jalan masuk. Dari situ kemudian kami belok kanan hingga menemukan jalan setapak berbatu sekitar 200 meter dari jalan poros Malino.

Manggala Agni Daops Gowa
Manggala Agni Daops Gowa, Kementerian Kehutanan

Untuk menuju air terjun ada dua pilihan dimana kita bisa memarkir kendaraan kemudian trekking atau tetap melanjutkan naik motor hingga ke lokasi. Kami pun memutuskan mengambil pilihan kedua, memaksakan naik motor ke lokasi dengan pertimbangan menghemat energi sekaligus bisa merasakan jalur off-road.

Jarak dari Kantor Kehutanan hingga lokasi air terjun sekitar 2 km. Sepanjang jalan kami melewati jalur berbatu dan sedikit tanjakan. Inilah salah satu hal yang seru ketika saya mencoba menghindari batu cadas namun malah mengenai batu itu juga. Di tengah perjalanan juga terdapat pohon tumbang yang menghalangi bahu jalan tapi itu bukan penghalang bagi saya dan teman-teman untuk berhenti.

Kondisi jalan menuju Air Terjun Parangloe

Jalan menuju air terjun Parangloe

Tak terasa kami menemukan sebuah plang himbauan dari SAR tentang waspada air bah. Ini merupakan salah satu petunjuk yang saya dapatkan bahwa jika sudah berada disini cobalah diam sejenak dan dengarkan suara air karena dari sini bisa terdengar suara gemuruh air. Mendekati sumber suara air namun sedikit mendapatkan halangan karena jalur yang curam dan jika dipaksakan akan berbahaya.

Salah seorang teman saya kemudian menyarankan untuk mengambil jalan memutar, yakni lewat jembatan kemudian menyusuri air terjun dari atas. Ia sebelumnya sudah pernah kesini tapi melewati jalur yang berbeda dan ternyata lupa dengan jalurnya. Kami pun hanya menurut.

Melewati jembatan gantung , dimana ini berada di hulu air terjun kemudian memarkir motor di salah satu kebun warga dan menyusuri air terjun dari atas. Pemandangan air terjun dari atas sedikit berbeda dan membuat nyali saya sedikit ragu untuk memilih jalur ini dengan melompati batu tebing hingga sampai bawah.

Sisi lain air terjun Parangloe

Saya masih mengutamakan prinsip aman dan selamat, dengan ucapan bismillah saya melompati batu kemudian berpegangan di rumput, memeluk batu sambil memegang tas kamera. Ini memang jalur yang jarang dilewati atau bahkan mungkin kami ini yang pertama.

Alhamdulillah, setelah perjalanan panjang akhirnya kami tiba di bagian bawah air terjun dan istirahat di tepi bawah pohon sambil menunggu matahari turun karena memang pada saat kami tiba sudah pukul 12 alhasil kami hanya bercanda sambil menikmati cemilan yang kami bawa.

Air terjun Parangloe Gowa Makassar

Saya masih belum percaya akan keindahan Air terjun Parangloe dengan susunan batu-batunya yang bertingkat. Warnanya yang menghitam dan suara air yang jatuh seolah iringan musik dari alam. Salah satu keindahan yang masih alami dan patut berbangga yang bisa berkunjung. Saya menghela napas dan mengingat kembali perjalanan saya hingga sampai disini bahkan masih teringat dipikiran saat flashback ketika saya gagal menemukan tempat yang indah ini. Butuh perjuangan dan pengorbanan untuk perjalanan saya kali ini.

Tujuan utama saya adalah bagaimana mereflesikan perjuangan pahlawan dengan apa yang saya mampu saat ini. Saya ingin mengangkat Indonesia ‘Syal Trip’ dan mengenalkan potensi keindahan Indonesia.

Air terjun Parangloe saat Hari Kemerdekaan
Air terjun Parangloe saat Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2013.
Bareng teman perjalanan di Parangloe
Albie, Juma, Cumi dan Saya. Kami mencintai Indonesia.

***

Matahari mulai turun dan panas matahari mulai bersahabat tanpa pikir panjang kami melompat ke air dan bercanda ria. Saya seperti orang yang kegirangan tapi itulah salah satu bentuk ekspresi dan mencoba meresapi arti sebuah perjuangan. Tak ada kata yang bisa mengungkapkan lebih detil arti keindahan yang saya liat.

Beberapa momen sempat terekam dari kamera saya dan Albie salah seorang travelmate saya.

Keseruan di air terjun Parangloe

IndonesianHolic di air terjun

Aksi di air terjun Parangloe Gowa Makassar

Puas bermain air lanjut mengabadikan lansekap air terjun dan sesekali menjadi objek. Saya memang sudah menyiapkan tripod dan remote untuk mengabadikan setiap momen perjalanan. Tentu sesekali saya juga ikut dalam momen itu. Seorang fotografer tidak selalu harus melawan hasratnya untuk tidak ikut dalam sebuah foto tapi bagi saya mencoba untuk menggabungkan keduanya dan hasilnya seperti ini. Jangan iri yah.

Lokasi air terjun Parangloe

Foto di Parangloe

Foto di Parangloe Gowa

Mencintai Indonesia dengan cara kita sendiri

Sekali lagi saya merasa bangga dan senang bisa berkunjung dan saya berharap ini bukan kunjungan terakhir dan saya akan mengantar kalian menuju ke air terjun terindah yang pernah saya liat, Air terjun Parangloe.

***

Cara ke air terjun Parangloe

Kalau pengalaman saya dulu saat pertama kali (2013) mengunjungi air terjun ini terbilang cukup sulit, bahkan saya sempat tidak ketemu (2012). Dari sana saya kemudian coba membuat sketsa jalur agar pembaca IndonesianHolic dan teman-teman yang akan ke sini bisa lebih mudah.

Sketsa Jalur ke air terjun Parangloe

Saat ini sudah terbilang mudah. Kamu bisa cek langsung di Google Map lokasi air terjun.

Jalur ke air terjun Parangloe

Transportasi:

  • Saran saya lebih baik menggunakan motor agar lebih efisien di waktu. Selain itu, motor bisa masuk ke dalam hingga lokasi air terjun.
  • Untuk jalur angkutan umum, bisa naik pete’ pete’ warna merah yang mengarah ke Gowa, turun di jalan menuju Malino. Kemudian lanjut lagi naik pete’ pete’ menuju Parangloe. Bertanyalah ke pak sopir.
  • Setelah tiba di Kantor Kehutanan (Manggala Agni Daops Gowa), belok kiri, kemudian susurlah jalan berbatu sepanjang 2 km dan ikuti petunjuk sketsa jalur hingga plang himbauan SAR.
  • Selanjutnya berjalan ke arah sungai sekitar 200 m dengan jalan setapak. Trekking jalan kaki sekitar 30 menit berjalan normal.

 

Tips:

  • Safety first. Selalu utamakan keselamatan.
  • Datanglah disaat pagi hari 07.00 – 10.00 atau sore hari 15.00 – 17.00 karena matahari sudah bersahabat dan cuaca tidak panas.
  • Bawalah persedian minuman dan makanan ringan.
  • Waspada air bah, hati-hati dalam kondisi musim hujan karena seringkali terjadi pengunjung terseret air bah yang berujung kematian.
  • Jika kondisi air keruh dan air semakin tinggi maka cepatlah naik agar tidak terseret bah.
Written by
Muhammad Akbar
Join the discussion

26 comments
  • Tulisannya "awam friendly" gini buat yang mau jalan2 ke air terjun parangloe.
    Tips nya bener banget, hati2 air bah, ada yang bikin batu memoriam buat temennya yang hanyut terbawa air bah di sana

  • Waaaak! Apa-apaan ini! Kok dulu saya nggak sempat kemari! >.<

    Padahal saya ya ke Bantimurung, ke Takapala juga, tapi kok nggak nyasar kemari. Waaah… baguuus. Saya mau ke Makassar lagi, saya mau ke sana! Waaa…. bagus banget. Trims info dan petunjuk jalannya. Semoga saya nggak nyasar kejauhan karena saya kalau pergi hobinya nyasar, hahaha.

  • Salut sama Adminnya,,, Saya uda sering berselancar di dunia maya mencari segala macam destinasi yang ada di Makassar. Baru di blog ini saya dapatkan apa yang saya cari selama ini. Sayang pemerintah sendiri tidak sepeduli admin ini. Greet, makin sukses…

    • Thanks banget untuk menjadikan Blog saya sebagai media mencari destinasi.
      memang tujuan dari hadirnya Blog saya untuk mengenalkan keindahan Indonesia baik yang sudah dikenal maupun tempat2 yang masih mainstream atau belum tersentuh pihak pemerintah.

  • Beberapa kali ke makassar untuk tugas kantor, sehingga hanya bisa kuliner dan keliling di kotanya saja. Insya Allah, 31Januari-3Feb kesana lagi khusus untuk liburan.. Air terjun Parangloe sudah masuk daftar tujuan wajib, setelah Tator.. hehee… Thank you rute jalan sampai ke air terjunnya, bakal kita jadiin panduan.. tapi siapa tahu Admin mau gabung dengan kami ber-4?

    Salam,
    Aprilia G

  • wahhh keren banget tulisan nya kk..semakin jelas ,dan semakin faham nubie. Semoga bisa menemukan tempat ini dengan petunjuk jelas dari kk ..makasih kk

  • Kemarin pulang dari Malino, kami lewat jalan Poros Malino.. tapiiii entah mungkin terlewat.. gerbang/pintu kehutanan tidak ketemu. Cuaca juga kemarin lusa agak mendung dan gerimis.. jadi tidak sempat ke air terjun Parangloe. Sopir kami pun juga belum pernah dengar air terjun ini.. sebagai gantinya kami ke air terjun Takapala di Malino..

  • Tentang air terjun ini, saya pernah ngecamp sekitar 2 malam di sekitar air terjun ini. Juga sempat mengabadikan beberap gambar termasuk mengambil view dari atas air terjun ini. Hanya sayangnya belum sempat saya bikin artikelnya, laptop keburu ada yang pinjam gak bilang-bilang terus belum dikembalikan. hehe…

    tertang airnya yg seringkali tiba-tiba naik, saya pernha mengalaminya sendiri. memang gak sampai terseret air sungainya. Tapi saya dan beberapa rekan sempat terjebak di tepi sebelah, dan harus menunggu hingga malam (tanpa ransum) baru bisa menyebrang…

    • Keren tuh bisa ngecamp disini,
      Waduh sayang banget laptopnya dipinjam tapi belum dikembalikan.

      Waktu kesana juga, beberapa warga mengingatkan untuk berhati-hati dan perhatikan kondisi air. kalau air semakin deras dan meninggi segera naik.

  • tiap traveling, yg paling aku incer itu air terjun…selalu suka ama objek wisata itu ^o^ mungkin krn rata2 air terjun ada d tempat tinggi dan cuacanya cndrung sejuk 😉 … Jadi bawaan ademmm…

    cantik mas air terjunnya…. agak2 mirip curug malela di bandung barat… Tapi malela airnya lebih deras… kalo suatu saat aku k Sulsel, aku pasti datengin ^o^

  • Hai, keren dengan perjuangmu mencari air terjun itu. Salut. Sempat ke Malino meman beberapa waktu lalu, tapi ga sempat ke air terjun ini. Cuma sampai ke Takapala aja n bidadari. Itu juga dah seneng banget. Honest, gw kalo dengar air terjun itu, rada menyeramkan. Lain karena akses yang dominan tidak nyaman, juga akses masuk yang masih rawan dan tidak terjamah. Beberapa memang mudah diraih, macam Takapala, tapi air terjun bidadari sekalipun gw ga berani turun. Padahal dah di depan mata. Medan cenderung licin dan berlumut, dan sepi. Sekali lagi, keren perjuangan lo, bro!

    • Thanks, ini perjuangan karena tidak mau gagal untuk kedua kalinya.
      Yapp. Akses Takapala sudah terjamah dengan baik dan mobil sudah bisa masuk tapi kalau Air Terjun Bidadari harus siapkan tenaga ekstra untuk menuruni ratusan anak tangga.