Cerita Tentang Pemahat Kayu dari Tana Toraja #SMESCONV

Dari kejauhan saya melihat sebuah pondok di tengah sawah, saya pun berjalan mendekati karena ada rasa penasaran untuk melihatnya lebih dekat. Seorang bapak tua dengan baju kaos putih sedang sibuk dengan pekerjaannya, beliau lagi mengukir kayu. Dari sebuah batang kayu disulap menjadi sebuah tau-tau, sebutan replika atau tiruan patung orang yang terbuat dari kayu yang biasanya banyak ditemukan di situs-situs pemakaman Tana Toraja. Jika yang pernah ke berkunjung ke Tana Toraja pasti akan mengerti kenapa sih harus membuat tau-tau. Untuk membuat sebuah tau-tau, beliau menghabiskan waktu dua minggu bahkan sampai satu bulan tergantung dari kesulitannya, semakin mirip dengan orangnya maka butuh waktu juga untuk mengerjakannya dan tentunya juga semakin mahal.


Deretan hasil karyanya disandarkan di pinggir pondoknya, ternyata beliau tidak hanya membuat tau-tau tapi juga membuat pajangan dinding,  keranjang dari bambu, miniatur orang toraja lengkap dengan balutan kain khas torajanya dan patung orang yang sedang bepelukan mesra. Barang-barang yang dibuatnya bisa juga dijadikan sebagai hiasan di dalam rumah, sebut saja ukiran kayu seni torajanya yang khas dengan motif corak warnanya.

“Silahkan dilihat-lihat pak, siapa tau berminat” kata bapaknya sambil menunjuk karyanya.

Sambil saya melihat-lihat karyanya, beliau menyelipkan cerita bagaimana dia bertahan hidup dengan pekerjaannya ini. Dari pekerjaannya dia bisa menghidupi keluarganya. Beliau menuturkan banyak cerita tentang apa yang dikerjakannya. Namun pendapatannya sekarang tidak sebanyak seperti dulu. Banyak hal yang menjadi kendalanya baik dari segi bahan baku maupun dari segi pemasaran dalam penjualan. Namun dia tetap bangga akan pekerjaanya, apa yang dia kerjakan ini tidak semua orang bisa melakukannya. Beliau diberi keahlian dalam memahat kayu, maka itulah dia jadikan kelebihan dalam menggantungkan hidupnya.

Mahakarya Indonesia dari sebuah batang kayu
Cindera Mata dari Tana Toraja

Apa yang menjadi kendala bapak pemahat kayu dari Tana Toraja, cukup mewakili apa yang terjadi oleh para industri kreatif yang kian hari semakin sulit bersaing dengan gempuran bahan-bahan impor. Yang dibutuhkan sekarang adalah wadah bagi mereka dalam memasarkan produknya. 

Sudah saatnya memikirkan permasalahan ini, karena masyarakat bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan kreatifitas. Sudah seharusnya kita berbangga dengan menghadirkan secercah harapan buat mereka para seniman yang memiliki tangan-tangan kreatif, bukankah local brand lebih keren jika kita membandingkan dengan barang dari luar negeri, dari segi harga jauh lebih murah namun tidak murahan.

Kembali ke bapak pemahat kayu yang di Toraja, saat itu saya tidak sempat membeli barang jualannya. Ada rasa penyesalan, Liburan ke Tana Toraja namun tidak sempat membeli cindera mata dari bapak pemahat kayu sepertinya masih mengganjal sampai sekarang. Terlintas di pikiran saya tentang Smesco kenapa tidak ke sana saja setidaknya bisa menjadi penawar rasa sesal yang membelenggu.

Smesco, sebagai pusat cindera mata dan produk nusantara. Sepertinya ukiran Toraja bisa saya temukan di smesco,  saya sih belum pernah ke sana namun info dari teman blogger, bahwa di smesco kita bisa menemukan produk-produk Indonesia. Terdapat stand 34 provinsi. dari seluruh penjuru Nusantara. Ada banyak barang dari tangan-tangan kreatif yang bisa ditemukan tanpa harus keliling Indonesia.

Lukisan Batik 
Kreatif gak?
Hadirnya smesco sebagai awal kemajuan industri kreatif Indonesia apalagi dengan misi dari smesco, sebagai wadah dalam mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada dunia internasional, maka dari itu dibutuhkan pelayanan yang professional terbaik kepada seluruh mitra yang terlibat.

Peluang dan tantangan Indonesia menyambut pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan semakin berperan besar,  kita hadir sebagai produsen bukan hanya sebagai konsumen. Produk kita bisa bersaing dengan produk luar negeri yang lain, namun semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Apakah kita sudah cukup bangga dengan produk lokal? 
Written by
Muhammad Akbar