Jalan-jalan di Semarang Sendirian Dalam Sehari

Jalan jalan di Semarang

Jalan-jalan di Semarang merupakan catatan perjalanan pertama kali dengan solo trip atau liburan seorang diri. Tentunya saya harus lebih berani dibanding jika liburan bersama teman. Banyak hal yang harus dipersiapkan mulai dari itinerary, fisik, mental dan tentunya isi dompet.

Saya harus lebih mandiri dan bijak dalam menghadapi masalah. Sebenarnya travelmate sangat ngebantu banget buat saya yang punya sifat teledor dan pelupa, contohnya beberapa kali saya harus diingatkan jika HP saya terkadang salah simpan dan membuat mereka panik. Mungkin mereka yang sering ngetrip bareng sama saya akan mengerti. Anyway, tapi inilah saatnya saya buktikan ke mereka kalau saya sudah tidak teledor dan pelupa.

Kereta api Blora Jaya AC dengan pemberangkatan pukul 04.40 WIB mengantarkan saya ke Semarang. Perjalanan pun dimulai dimana saya hanya ditemani tas daypack dan tas kecil berisi kamera. Memilih duduk didepan seorang ibu yang ditemani oleh suaminya dimana tangannya saling merangkul sedangkan saya hanya duduk sendiri, sungguh kasian nasibku. Di luar sana masih gelap dan kondisi saya masih mengantuk, mungkin sebaiknya saya istirahat dulu mengingat perjalanan masih panjang.

Matahari pagi memancarkan kehangatannya dan menyilaukan mata saya, yang masih tertidur pulas dengan kondisi memeluk tas. Perjalanan sudah 1 jam meninggalkan kota Cepu, jika dari jadwal kereta dimana akan tiba di Stasiun Poncol semarang pukul 09.00 pagi. Saya kembali tertidur dan berharap ketika saya bangun sudah tiba di Semarang.

Setelah beberapa Stasiun yang terlewati kini mulai memasuki kota Semarang. Kereta yang tadinya melaju kencang kini mulai melambat. Sebenarnya di Semarang ada 2 Stasiun tapi saya memilih turun di Stasiun poncol karena lokasinya yang berdekatan dengan tujuan pertama saya.

***

Alhamdulillah setelah melewati 4 jam perjalanan di atas kereta akhirnya tiba juga di tujuan akhir. Ketika tiba saya langsung mencari toilet, karena kebiasaan di pagi hari. Toiletnya bersih dan harum. Setelah rutinitas wajib terselesaikan saya cuci muka dulu karena sepanjang perjalanan saya hanya tertidur.

Tujuan pertama adalah Kota Lama Semarang, menurut informasi yang saya dapatkan dari mbah google, jika Kota Lama merupakan kota pertama dari semarang, pada saat Belanda masih menguasai negeri kita seperti Kota Tua di Jakarta. Ada beberapa bangunan yang sudah berwajah usang tetapi masih dipertahankan agar nilai-nilai sejarah masih bisa kita lihat. Sebenarnya Semarang adalah kota yang penuh dengan sejarah jadi kebanyakan tempat yang akan saya kunjungi adalah tempat-tempat bersejarah.

Sebelum ngebolang dimulai, saya sarapan dulu di warung di depan stasiun tepat di samping gedung Pabrik Rokok Praoe Lajar. Saya memesan nasi campur dengan porsi lebih banyak seharga 9.000 menjadi sumber energi saya untuk hari ini.

 

Kota Lama Semarang

Jangan membayangkan Kota Lama seperti Kota Tua di Jakarta, tak ada tanda-tanda kalau tempat saya sekarang ini adalah kawasan kota lama. Saya hanya berjalan lurus dan menyusuri jalan, tujuan saya adalah Gereja Blenduk. Ya, disini baru mulai terasa karena disampingnya ada taman dan terlihat beberapa orang yang sedang asyik bercengkrama dan sesekali mengambil gambar.

Gereja Blenduk Kota Lama Semarang
Gereja Blenduk dengan arsitektur Eropa

Sebuah Gereja dengan arsitektur Eropa dan beberapa gedung disampingnya juga terlihat tua. Mencoba menikmati perjalananku dengan mengangap orang yang saya temui adalah teman. Saya dapat informasi kalau di sini ada beberapa gedung tua yang sering dijadikan sebagai objek oleh seorang photographer.

Memutar balik arah dan menyusuri jalan beraspal dan menjepret setiap sudut gedung. Kurangnya informasi yang saya dapatkan membuat saya tak lama berada di tempat ini. Semoga pemerintah setempat khususnya bagian pariwisata bisa lebih memperhatikan Kota Lama yang menurutku punya potensi wisata jika dikelola dengan baik

Pabrik Rokok Praoe Lajar
Pabrik Rokok Praoe Lajar

 

Lawang Sewu

Perjalanan dilanjutkan ke destinasi selanjutnya, tujuan saya Lawang Sewu. Sebelum berangkat saya selalu sempatkan bertanya untuk dapatkan info yang lebih jelas, dari ibu warung saya dapat info bahwa untuk menuju Lawang Sewu cukup naik bus dan turun di perempatan lampu merah dekat tugu pemuda.

Jalan-jalan di Semarang ke Lawang Sewu
Lawang Sewu

Lawang sewu adalah salah satu tujuan wisata utama jika berkunjung ke Semarang. Lawang artinya pintu dan Sewu artinya seribu, jadi Lawang Sewu adalah seribu pintu. Gedung yang penuh dengan sejarah dan cerita mistis. Dari Pos tiket berjalanlah ke arah kanan atau jalur masuk menuju halaman gedung. Ada beberapa gedung dengan label masing-masing, terlihat jelas Lawang Sewu memiliki banyak pintu tetapi jika diperhatikan tidak semuanya pintu melainkan jendela, dan ternyata pintunya tidak cukup 1000 tapi memang ada ratusan sih, dicukupkan saja!

Pintu di Lawang Sewu

Beberapa pemandu menawarkan jasanya jika anda membutuhkan informasi lebih detail dengan tempat ini. Pemandu dengan baju batik seragam banyak kita jumpai di halaman gedung dibawah pohon mangga besar. Berhubung saya sendiri, makanya saya harus mencari rombongan untuk bisa share cost. Sambil menunggu, saya mengambil beberapa gambar karena cuaca sangat bersahabat terlihat langit yang membiru dengan balutan awan yang memutih yang membuat saya betah mengambil gambar.

Jalan-jalan di Semarang Lawang Sewu

Beberapa rombongan pun mulai berdatangan tetapi saya masih memilih-milih. Diantara beberapa rombongan, ada 1 rombongan yang terlihat lebih ramah dibanding yang lain. Ada 5 orang yang ternyata mereka dari jakarta, saya pun ikut dengan mereka menyusuri setiap sisi gedung. Gedungnya ada 3 lantai tetapi ada juga lantai paling atas, yang katanya dulu dijadikan sebagai tempat penyimpanan bahan pangan dan tempat untuk pos pemantau. Selain itu ada juga ruang bawah tanahnya yang dijadikan sebagai ruang tahanan. Diantara semua lantai, ruang bawah tanah lah yang sangat istimewa tetapi tidak semua orang bisa berkunjung kesana, hanya orang-orang yang berani dan bernyali.

Ruang bawah tanah Lawang Sewu yang penuh dengan cerita mistis, dimana pernah dijadikan sebagai tempat uji nyali di salah satu TV swasta. Konon ceritanya, orang yang ikut uji nyali tersebut mengalami sakit jiwa dan selalu merasa diikuti, dari kejadian itulah kemudian tempat ini dilarang dijadikan sabagai tempat uji nyali.

Jika anda tertarik turun, pengunjung harus membayar lagi 20.000,-/orang (waktu kunjungan tahun 2013, mungkin saat ini sudah ada perubahan) untuk penyewaan sepatu boot dan senter. Saya mengiyakan saja ketika pemandu menawarkan untuk turun ke ruang bawah tanah. Sebelum turun kita harus bersihkan niat kalau kunjungan kita hanya untuk melihat bekas-bekas sejarah bukan untuk niat yang lain.

Mengunjungi penjara bawah tanah Lawang Sewu

Sebuah tangga kayu menghubungkan kami ke ruang bawah tanah. tempatnya gelap, pengap dan lantainya berair. Tak ada titik cahaya yang terlihat ketika kami tiba karena memang sengaja semua alat penerang dimatikan untuk merasakan bagaimana suasana sebenaranya tempat ini.

Oiya, ruang bawah tanah ini dulunya dijadikan sebagai tahanan untuk orang-orang pribumi oleh penjajah. Ada banyak sekat-sekat ruangan dan ada juga seperti kolam, konon ceritanya di dalam ruangan yang terdapat kolam dijadikan sebagai penjara jongkok, dimana kolam diisi air kemudian para tahanan dimasukkan ke dalam sampai meninggal. Sungguh keji dan kejam.

Ada lagi yang lebih kejam, dimana terdapat sebuah sekat ukuran kecil, namanya penjara berdiri. Para tahanan dimasukkan kedalam hingga sesak kemudin pintunya ditutup dan dibiarkan sampai mereka meninggal. Terbayang gak jika ruangan itu muatnya untuk 5 orang tetapi diisi oleh 10 orang terus pintunya ditutup dan kita didalam mati berdesak-desakan. Itulah yang dirasakan para tahanan dulu. Terdapat juga beberapa ruangan yang sudah ditutup dengan beton, konon ceritanya tempat ini sengaja ditutup permanen karena didalam masih tersimpan bangkai para tahanan.

Penjara bawah tanah di Lawang Sewu
Penjara Berdiri

Jejak sejarah masa lalu di ruangan bawah tanah ini sungguh tidak berperikemanusian, sungguh beruntunglah bagi kita yang hidup di zaman modern ini. Sebelum meninggalkan, kukirimkan doa untuk mereka yang meninggal ditempat ini dan berharap mereka diberikan tempat yang terbaik disisi sang pencipta.

Sebelum meninggalkan Lawang Sewu, saya sholat dzuhur dulu di musholla yang berada di sudut gedung. Destinasi selanjutnya ke Vihara Sam Poo kong. Setelah sholat saya bertemu seorang pemandu wanita, dia sarankan untuk ke MAJT terlebih dahulu karena akses transportasi lebih mudah dibanding ke Sam Poo Kong. Itinerary saya pun berubah dengan mengikuti sarannya.

 

Mesjid Agung Jawa Tengah (MAJT)

Cuaca Semarang yang panas, membuat saya dehidrasi. Terlihat indomaret di seberang jalan kemudian saya memilih 2 botol pulpy. Istirahat dulu sambil menikmati setiap tegukan pulpy sambil menanyakan jenis angkot yang menuju MAJT. Untuk menuju Mesjid Agung Jawa Tengah, saya harus naik angkot warna merah kemudian turun di Lottemart. Kemudian lanjut lagi naik becak karena angkot agak susah untuk jalur masuk ke MAJT.

Mesjid Agung Jawa Tengah dari Menara Putar
Mesjid Agung Jawa Tengah dari Menara Putar

Mesjid Agung Jawa Tengah adalah mesjid terbesar di Semarang dan menjadi kebanggaan kota Semarang. Mesjid perpaduan arsitektur Jawa, Arab dan Romawi. Setiap sisi mesjid memiliki arti dan maksud sendiri. Apa saja mari kita simak penjelasannya dari informasi saya dapatkan.

Dibagian depan sebelum masuk kita akan melihat 9 air mancur yang menandakan 9 wali songo, Sembilan orang wali yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Lanjut lagi ada 5 air mancur yang menandakan Lima rukun islam. Menara putar yang tingginya 9.9 meter yang menandakan 99 Asmaul Husna. Setelah kita berjalan mendekati mesjid kita akan melihat bangunan melingkar mempunyai 25 pilar yang menandakan 25 Nabi/Rasul. Bangunan ini menyerupai coloseum Roma.

Bangunan Pilar yang menyerupai Coloseum Roma
Bangunan Pilar yang menyerupai Coloseum Roma

Tak cukup sampai disini, Terdapat 6 buah payung raksasa yang menyerupai payung yang ada di Mesjid Nabawi di Arab. Jika mesjid ini sudah bernuansa Arab dan Roma tetapi ciri khas mesjid Jawa tetap dipertahankan terlihat dari adanya kubah bersusun menyerupai Mesjid Demak dan Mesjid Kudus.

Halaman Mesjid dengan payung raksasa
Halaman Mesjid dengan payung raksasa

Sungguh berutung rasanya saya bisa berkunjung. Tak ayal saya tak menyia-nyiakan kedatanganku, saya memilih naik di menara putar lebih dulu dimana dari atas kita bisa melihat Mesjid Agung Jawa Tengah dari atas dan tentunya Kota Semarang. Sebelum naik kita membeli tiket masuk Rp 5.000,-/orang kemudian naik lewat escalator. Selang beberapa menit saya sudah berada di lantai paling atas. Hembusan angin sangat terasa karena hanya dibatasi trali besi yang sengaja dibuka sehingga angin bisa leluasa masuk.

Ada banyak pengunjung sudah berada diatas. Terdapat juga teropong yang bisa digunakan untuk melihat Kota Semarang dari dekat, tentunya harus dimasukkan koin pecahan 1000 sebelum digunakan. Saya memilih selojoran dan sempat tertidur juga, namun berhubung waktu sholat ashar sebentar lagi, saya pun turun menuju mesjid. Oiya sebelum turun saya sempatkan dulu berkunjung ke museum yang ada di lantai 3 dan 4. Sejarah Islam di tanah jawa dan proses pembangunan mesjid bisa kita dapatkan disini.

Koleksi Al Qur’an di Mesjid Agung Jawa Tengah
Koleksi Al Qur’an dengan Ukuran 145 cm dan 95 cm

Dibalik kemegahan Mesjid Agung Jawa Tengah, ternyata punya kekurangan juga dari segi kebersihan. Tempat wudhu dan toilet yang pengap dan sedikit berbau tampaknya kurang diperhatikan, terlebih lagi ketika saya hendak berwudhu air yang keluar dari kerang warnanya sangat keruh. Saya sangat tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Jawaban yang saya dapatkan dari salah satu petugas bahwa kurangnya air karena musim kemarau. Apapun alasannya, semoga ini bisa lebih diperhatikan untuk kenyamanan jemaah.

Jalan jalan di Semarang

 

Simpang Lima Semarang

Sebenaranya tujuan awal saya ke Sam Poo Kong tetapi jadwal kunjungan disana hanya sampai jam 3 sore, maka dengan berat hati saya tak bisa kesana. Hari sudah mulai sore, saya lebih memilih turun di kawasan Simpang Lima Semarang.

Simpang Lima Semarang merupakan pusat ibukota semarang, memang benar kalau disini terdapat 5 persimpangan. Terdapat juga lapangan besar dengan pasilitas olahraga untuk warga Semarang atau lebih dikenal dengan alun alun. Sepanjang jalan ada banyak warung kuliner dan juga terdapat mall.
Sore hari di Simpang Lima sangat ramai dikunjungi oleh beberapa pengunjung, banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini seperti naik sepeda, Atv, olahraga dan kegiatan lainnya.

Kuliner Soto saat jalan-jalan di Semarang
Soto Semarang

Menikmati senja hari dengan wisata kuliner Kota Semarang. Datang ke suatu tempat tanpa menikmati kuliner khas adalah sesuatu hal yang wajib. Pilihannya pun jatuh ke soto semarang, sotonya agak mirip soto lamongan dimana nasinya sudah dicampur kedalam. Makanku sangat lahap hingga soto semarang hanya hitungan menit sudah habis. Seperti kata pak Bondan, Maknyooosss. wuenak tenan.

Written by
Muhammad Akbar
Join the discussion

23 comments