Pesona Keindahan Telaga Sarangan di Kaki Gunung Lawu

Kunjungan ke Telaga Sarangan merupakan program liburan yang sudah terjadwal dari Instansi Pendidikan dan Pelatihan Cepu, tempat saya mengambil sertifikasi keahlian saat ini. Sebenarnya Telaga Sarangan adalah program liburan yang ketiga semenjak saya berada di Cepu. Sebelumnya kami sudah pernah ke Malang dan Jogja. Keduanya termasuk liburan yang tergolong mewah dan paling penting semuanya gratis. Waktu ke Malang kami menginap di Hotel Sahid Montana dan jalan-jalan ke Jatimpark 2 dan waktu ke Jogja kami menginap di Hotel Grand Zuri terus jalan-jalannya ke Candi Borobudur. hanya sekedar informasi
Entah kenapa setelah diumumkan bahwa kami akan liburan ke Sarangan saya tak begitu tertarik, tempat yang masih awam bagi saya pribadi. Saya juga tak terlalu bersemangat untuk mencari info lebih jelas. Kami hanya diinstruksikan untuk membawa jaket tebal karena cuaca disana sangat dingin.

Biarkanlah ini menjadi liburan yang berbeda dibanding liburan – liburan saya sebelumnya dimana setiap ingin mengunjungi tempat saya biasanya rajin browsing untuk cari info tempat menarik disekitarnya.

Pagi hari kami berangkat meninggalkan Cepu menuju Sarangan. Melintasi Bojonegoro, Ngawi dan Magetan. Setelah meninggalkan kota Magetan, kontur jalan mulai berubah yang tadinya landai menjadi menanjak, cuaca juga mulai berubah menjadi dingin dan gerimis. Pemandangan bukit – bukit berselimut kabut menemani perjalanan kami sampai tiba di sebuah jalan masuk telaga sarangan. Hanya sekitar 2 jam perjalanan untuk tiba di lokasi. 
Tiba di Telaga Sarangan saya sudah melihat hamparan air yang tertutupi kabut sehingga terlihat seperti laut. Lokasinya yang berada di atas gunung yang membuat saya berdecak kagum dan telah membuat saya tertipu karena sudah mengira telaga sarangan adalah laut kesasar di atas gunung. Telaga Sarangan adalah kawasan wisata Kabupaten Magetan, berada di ketinggian 1287 mdpl tepatnya di kaki Gunung Lawu. Memiliki kedalaman sekitar 14 meter dan luas sekitar 3 km. Sebenarnya Telaga Sarangan bukanlah nama sebenarnya melainkan Telaga Pasir tapi memang lebih populer dengan nama Telaga Sarangan.

Telaga Sarangan Mulai Tertutup Kabut

Untuk liburan kali ini kami menginap di Hotel Telaga Mas Internasional, hotel dengan dua lantai dan lokasinya persis berada di depan telaga dan bagian belakangnya adalah perkebunan warga. Hotelnya terbilang berumur tapi fasilitas kamarnya cukup memuaskan. Hawa dingin diluar membuat saya merasa betah dan malas beranjak dari kamar. Hawa yang dingin membuat saya lapar, itu sudah bagian yang tak terpisahkan.

Makanan sudah tersedia di ruang makan tinggal menunggu untuk dilahap, menunya bervariasi dan terlihat segar membuat nafsu makan saya lebih lahap dari biasanya. Sayur mayurnya terlihat lebih segar karena langsung didapatkan dari perkebunan warga yang ada disekitar hotel.

Berkunjung ke telaga sarangan adalah saatnya saya menikmati hari bebas tanpa ada beban, waktu dua hari sudah cukuplah bagi saya untuk menelusuri telaga sarangan dan sekitarnya. Telaga sarangan sudah didesain oleh pemerintah dan masyarakat setempat sebagai tempat wisata. Pengunjung bisa menikmati dengan fasilitas yang sudah tersedia seperti naik kuda Rp. 50.000,-/putaran menelusuri sepanjang pinggiran telaga atau naik speedboat Rp. 50.000,-/tiga putaran mengarungi Telaga Sarangan. Tak hanya itu bagi anda yang suka beli oleh-oleh, pengunjung dengan mudahnya mendapatkan di sepanjang jalan sebelah timur telaga.

Kawasan Pusat Oleh – Oleh Sarangan
Mengarungi  Telaga dengan Speed Boat

Malam pun tiba, dimana sebelumnya dari siang hingga sore kami menhabiskan waktu di tempat outbond. Pemandangan Telaga Sarangan di malam hari begitu indah, deretan villa memantulkan cahaya lampunya ke telaga merupakan sebuah keindahan tersendiri bagi saya. Apa yang terlihat sungguh memanjakan mata saya untuk terus memandanginya. Hawa udara semakin dingin tak menyurutkan langkah saya untuk berjalan menyusuri telaga untuk mencari spot – spot keindahan dari berbagai sudut pandang.

Warung makan mulai  menjajakan jualannya dari tadi sore hingga malam hari. Deretan warung dengan aneka kuliner Sarangan sudah tersedia, tergantung kita mau makan apa. Ada satu hal untuk berbeda, dimana jika anda adalah salah satu penyayang kelinci, saya sarankan jangan berkunjung kesini, kenapa? alasannya setiap warung menyajikan menu sate kelinci dan itu sudah menjadi kuliner khusus di Telaga Sarangan, harga satu porsinya Rp. 10.000,- sudah termasuk dengan lontongnya. Apakah anda tertarik?

View Telaga Sarangan di Malam Hari

Jika pemandangan tadi malam sangat indah, di kala pagi pun tak kalah indahnya. Panorama sunrise dan lautan awan menjadi pemandangan di pagi hari. Saya sudah menunggu indahnya sunrise walaupun sedikit terlambat karena bangunnya telat tapi masih sempat melihat gradasi warna langitnya yang tersusun dari deretan warna hitam, kuning keemasan dan biru mengingatkan saya sunrise di Bromo. Saya memilih duduk balkon belakang kamar karena viewnya langsung menghadap ke arah timur sambil menunggu matahari muncul. Saya melihat lautan awan yang sedikit bercampur kabut perlahan matahari pagi mulai muncul namun perlahan dengan pasti semakin tinggi meninggalkan peraduaanya dan menyapa dunia dengan hangat cahayanya.

View Sunrise dan Lautan awan dari Balkon Belakang Kamar
Panorama Telaga Sarangan di Pagi Hari

Aroma udara pagi hari sangat sejuk, terlihat banyak pengunjung yang jogging dan melakukan aktivitas pagi lainnya. Saya dan tiga orang teman memilih melakukan hal yang berbeda dimana kami berjalan menuju perkebunan warga di atas bukit, sehingga saya bisa melihat dengan jelas landscape Telaga Sarangan, sungguh indah pemandangan pagi itu. Sepertinya tak pernah habis kata untuk mendeskripsikan keindahan telaga sarangan. Saya bersyukur bisa menginjakkan kaki di Telaga Sarangan dan merasakan sendiri keindahannya.

Sebelum menutup tulisan ini yang penuh dengan sanjungan dan pujian, saya juga punya sedikit kritikan untuk para penyedia jasa naik kuda harap memperhatikan air kencing kudanya karena itu sangat mengganggu dengan bau pesin kuda sepanjang jalan. Ada satu lagi, kurang lengkap rasanya jika saya tak melakukan pose wajib di Telaga Sarangan sebagai bukti nahwa saya pernah berkunjung.

Pose Wajib #IndonesianHolic

Lets travel to experience the beauty of Indonesia

@indonesianholic
www.indonesianholic.com

Written by
Muhammad Akbar