Mengejar Sunrise di Gunung Bromo

Ramainya Sunrise Point Bromo

Berkunjung ke Gunung Bromo adalah salah satu mimpi di antara seribu mimpi saya. Sebelumnya saya memang sudah niatkan untuk mengunjungi Bromo saat liburan Idul Adha.

Saya kemudian googling dan blogwalking untuk mencari beberapa informasi tentang liburan ke Bromo.

Rezeki memang tak kemana, disaat saya ingin ke Malang, ternyata saya dan beberapa teman mendapatkan paket liburan ke Malang. Pikirku ini adalah kesempatan terbaik untuk mengambil kesempatan tersebut.

Paket liburan ke Malang yang diadakan oleh instansi pelatihan yang saya ikuti sudah usai. Saya kemudian mengusulkan ide ke beberapa teman untuk memperpanjang waktu liburan di Kota Malang. Guna dan Uccank, dua orang sahabat saya kemudian tertarik dengan ide saya tersebut. Sementara teman yang lain kembali ke Cepu. Tentu setelah mendapat izin dari instansi.

***

Saatnya petualangan (kembali) di Kota Malang. Untungnya ada Elly, teman yang saya kenal dari Temu Bakti KSR PMI Nasional di Samarinda medio 2011 yang lalu. Padanya kami meminta tumpangan untuk beristirahat sejenak sambil menunggu keberangkatan ke Bromo. Dia kemudian menawarkan agar kami beristirahat di KSR Universitas Merdeka Malang. Bagi saya tak masalah, seperti apapun tempatnya tak jadi soal asal kami bisa beristirahat.

Hari sudah siang, tapi entah kenapa saya susah untuk menutupkan mata sedangkan Guna dan Uccank sudah terlelap dalam tidurnya. Saya masih gelisah karena pihak yang menawarkan open trip Bromo yang sudah deal malam sebelumnya mendadak susah dihubungi. Berkali-kali saya sms dan telpon tapi tak ada jawaban. Apakah ini hanya PHP semata.!? Saya akan merasa bersalah jika tak jadi berangkat. Apalagi mengajak teman tapi ujung-ujungnya tak jadi itu seperti duduk diatas bom. Dorrrr…

Akhirnya, berita bahagia pun datang setelah sms dari Citra, teman yang saya kenal dari twitter — seorang backpacker dari Palu — menawarkan CP Mas Arief, seorang sopir Jeep yang juga punya open trip ke Bromo. Paket 250 ribu sudah termasuk jemputan PP, tiket masuk dengan destinasi Penanjakan, Kawah Bromo, Bukit Cinta, Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik dan Coban Pelangi. Tanpa pikir panjang saya hanya mengiyakan saja. Setelah terjadi kata sepakat, hati saya sudah merasa lega. Saya pun melanjutkan istirahat untuk menyimpan tenaga untuk tengah malam nanti.

Tak terasa saya terbangun di sore hari. Singkat cerita, dimalam harinya saya ke BNS untuk menikmati malam sebelum berangkat ke Bromo.

 

Perjalanan menuju Gunung Bromo

Handphone saya berbunyi, sebuah pesan dari mas Arief yang memberitahukan untuk bersiap-siap. Kemudian saya membalasnya: “OK, saya tunggu di dekat Alfamart tepat depan kampus Universitas Merdeka”. Kami menuju alfamart, membeli air minum dan beberapa cemilan untuk amunisi buat besok.

Terlihat mobil Jeep dengan warna biru gelap berhenti di depan kampus. Saya memberi kode kalau kami sudah siap. Bersalaman dan saling berkenalan, kami naik mobil kemudian melaju kencang dengan knalpot bogartnya. Jreng…Jreng…Jrong..Jrong…

“Sabar ya mas, kami akan jemput 4 orang lagi”, pinta mas arief

“OK, mas…” jawabku secara spontan.

Saya sudah tahu konsekuensi jika open trip, dimana kita akan digabung dengan beberapa orang. mau tidak mau atau suka tidak suka harus diterima. Terkadang ikut open trip itu harus sabar jika orangnya menjengkelkan, tapi juga bisa perjalanan sangat menyenangkan jika orang-orang yang ikut orangnya asyik.

Mobil berhenti tepat di salah satu lorong, seketika itu mas Arief menelpon yang akan menjadi teman kami. Saya pun masih belum melihat batang hidung ke 4 orang yang dimaksud mas Arief. Tiba -tiba dari kejauahan muncul 4 sosok perempuan berjalan beriringan mendekat ke jeep kami.

Guna dan Uccank yang tadinya duduk di depan harus merelakan tempat duduknya ditempati (emansipasi). Sementara dua lainnya duduk di belakang bersama kami. Saya tak bisa melihat jelas raut muka mereka karena saya sangat mengantuk dan sedikit malas untuk mengenalinya. Saya duduk bersama Guna satu deretan sedangkan Ucccank harus rela duduk berimpitan bersama dua orang yang mana normalnya satu deretan untuk dua orang. Sepanjang perjalanan kami hanya berbalas senyum dan sesekali menyambung pembicaraan. Kami ini masih cuek, padahal sebenarnya kami harus saling mengenal. Tak ada keberanian di antara kami. Intinya saya dan kamu masing-masing punya tujuan sendiri cuma bedanya kita sama ikut di mobil yang sama.

Tepat pukul 01.00 dini hari, Jeep melaju melewati kota Malang kemudian masuk di jalur penanjakan, kalau tidak salah jalur tumpang yang mana jalur yang dilalui ketika kita ingin mendaki ke Semeru. Sebenarnya untuk menuju Bromo bisa juga lewat Probolinggo. Di tengah perjalanan, Jeep kami mengalami kerusakan di bagian mesin yang memaksa kami turun dari mobil, seketika juga rasa dingin seperti menembus jaket saya. Melihat ke atas, ada jutaan bintang yang berderang di atas langit, sumpah keren banget tapi rasa dingin masih membuat saya tak tenang di luar.

“Ayo, naik semua..mobilnya sudah OK”, pinta arief ke kami dengan sedikit wajah kurang sedap.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Didalam mobil kami seperti diobok-obok. karena memang kondisi jalan yang kurang bagus. Sebenarnya jalur tidak terlalu jauh, tapi berhubung waktu itu lagi ada proses perbaikan jalan jadinya kami harus memutar. Jeep sudah mulai jalan beriringan dengan Jeep lainnya, ternyata banyak juga yang ke Bromo.

Tepat jam 04.30 Jeep kami menepi dan berhenti. Mas Arief menganjurkan untuk berhenti disini karena didepan sudah macet. Dalam hati saya masih bertanya-tanya dimana sebenarnya posisi Gunung Bromo ini berada. Di sekeliling hanya ada gelap dan lampu mobil yang mengantri serta bunyi klakson yang terdengar. Kami turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan melewati kemacetan. Ternyata Bromo bisa macet juga, ya.

Sebelum jalan saya mengumpulkan rombongan untuk berdoa bersama sebelum jalan. Ini hal yang wajib kita lakukan sebelum kita melakukan sesuatu terlebih lagi kita berada di daerah yang baru. Setelah berdoa, saya berjalan lebih duluan untuk menembus puluhan ojek motor yang menawarkan jasa tumpangan sampai di puncak. Sebenarnya saya tak ingin naik ojek tapi karena rasa kasihan melihat teman yang sudah mulai berjalan ngos-ngosan dan kedinginan terlebih 4 wanita yang ikut bersama kami. Oiya lupa, sebelum kami turun tadi dari mobil kami sudah berkenalan. Namanyan Rezki, Ayu, Nia dan Icha. Mereka adalah sahabat semasa kuliah yang terpisahkan dengan pekerjaannya masing-masing. Intinya lagi merayakan reuninya dengan liburan ke Bromo.

Waktu semakin cepat berlalu, saya berpikir jika berjalan mengikuti irama langkah mereka maka saya akan ketinggalan sunrise. Saya sepakat untuk meninggalkan mereka dan berjalan lebih cepat menuju View Sunrise Point. Di sepanjang jalan menuju sunrise point terlihat disamping kiri dan kanan jalan ada banyak warung makan, jual baju dan oleh-oleh dan ada juga yang menawarkan jasa sewa jaket.

Tiba di spot sunrise ternyata saya belum terlambat. Alangkah kagetnya melihat tempat sudah dipenuhi oleh ratusan orang. Apakah sebanyak ini orang menunggu kemunculanmu, duhai matahari terbit?? Saya kemudian memilih mendekati tembok pembatas dan mencari celah untuk duduk diatas pagar. Ini hal yang beresiko tapi mau tidak mau saya harus naik agar pandangan saya tidak terhalang oleh ratusan orang.

***

Golden Sunrise Bromo

Setelah saya melihat langsung matahari terbit Bromo, alasan yang membuat saya semakin percaya jika Golden Sunrise memang adanya di Bromo. Indonesia memang indah. Tak ada alasan lagi buat saya untuk tidak mencintai keindahan Indonesia. Pesona keindahan Bromo bukan hanya dikenal dengan wisatawan domestik tapi dunia pun sudah mengakui keindahannya. Jangan heran jika ditengah ratusan orang terdapat pula turis asing yang terselip yang juga ingin melihat keindahan matahari terbit Bromo.

Ramainya Sunrise Point Bromo
Ramainya Sunrise Point Bromo

Fajar menyongsong di Gunung Bromo

Matahari muncul perlahan. Seketika itu juga terdengar ratusan bunyi jepretan, gemerlap flash kamera dan teriakan histeris dari seluruh pengunjung yang sempat membuat saya merinding terharu. Inilah alasan yang membuat saya datang dari jauh dan rela menembus kedinginan hanya untuk menikmati keindahan matahari terbit di Gunung Bromo.

Matahari terbit di Bromo
Matahari terbit yang ditunggu-tunggu

“You don’t need a doctor when you stress. All you need is a journey” — @adistakdos

Saya percaya bahwa sebuah perjalanan akan membuat kita merasa bebas yang berarti terbebas dari segala belenggu permasalahan. Lupakan semua masalah dan nikmati keindahan di depan matamu.

Sunrise di Gunung Bromo

Saya begitu menikmati pemandangan yang tersuguhkan di depan mata saya. Ini seperti saya melihat foto pemandangan yang biasa terpasang di dinding rumah tapi ini bukan lagi gambar, tapi nyata. Gunung Bromo memang keren. Tak salah jika orang begitu berbondong-bondong mendatanginya dari seluruh penjuru dunia. Akses untuk menuju Bromo pun terbilang sangat mudah, ini salah satu keberhasilan pemerintah setempat untuk mendongkrak pariwisata yang secara tidak langsung menambah penghasilan juga untuk daerah setempat.

IndonesianHolic di Bromo

Liburan ke Bromo bareng sahabat

Peserta open trip Bromo
Travelmates baru

Matahari sudah menghangatkan embun di dedaunan. Pancaran sinar matahari sudah terasa hangat tapi dingin bromo masih lebih kuat terasa. Sesuai janji bahwa setelah melihat sunrise kita akan menuju kawah Bromo. Pukul 06.00 adalah waktu yang sudah kita sepakati untuk kembali ke mobil. Tiba lebih awal membuat kami harus menunggu rombongan lain.

Perjalanan dilanjutkan menuju Kawah Gunung Bromo. Cerita pun mengalir dari kami semua tentang keindahan yang kami saksikan. Masing-masing punya perspektif keindahan sendiri. Oh ya, sebelum ke Kawah Bromo kami sempat singgah di bukit cinta. saya tak tahu kenapa bisa dikatakan dengan bukit cinta. Jika semeru punya tanjakan cinta, Bromo juga punya bukit cinta. Pemandangan dari sini juga keren.

Tak banyak waktu terbuang di bukit cinta, karena tujuan awal kami memang menuju kawah Bromo. Perjalanan yang menurun membuat mobil melaju pelan dan sesekali kami harus merangsek ke depan karena laju pengereman. Tak lama berselang kami melihat lautan pasir dan mobil melaju kencang diatas pasir sehingga mobil seperti membelah lautan berpasir.

Kawah Bromo itu seperti apa sih? pikirku dalam hati sambil melihat melihat keluar jendela.

Written by
Muhammad Akbar
Join the discussion

14 comments