Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, langkah kaki semakin cepat menuju parkiran. Mengambil tas di pos tiket sembari mengucapkan rasa terima kasih dan sedikit menunduk sebagai bentuk rasa hormat. Berkunjung ke tempat orang itu janganlah kita merasa sombong, namun cobalah bersikap merendah agar masyarakat sekitar juga menghargai dan menerima kita dengan baik.
Bersama Tandik — teman perjalanan backpacking menyusuri tempat wisata di Tana Toraja — memacu motor dari objek wisata Londa menuju ke Kota Rantepao.
“Tandik, malam ini kita menginap dimana?”, tanya saya di tengah perjalanan.
“Bukannya kamu mau ke Batutumonga melihat sunrise? Menginap di sana saja!”, sahut Tandik.
Sepengetahuan saya, Batutumonga itu terletak di kaki Gunung Sesean. Di sana kita bisa melihat gemerlap lampu Kota Rantepao di malam hari dan menikmati sunsrise di pagi hari.

Sebelum menuju Rantepao, kami singgah dulu di sebuah minimarket yang lumayan besar membeli kaos kaki dan beberapa cemilan. Di minimarket, saya sempat bertemu dan ngobrol dengan seorang turis asing asal Perancis yang sudah menghabiskan waktu 3 minggu keliling Indonesia. Ia masih akan keliling Toraja dan Bulukumba selama seminggu. Walau obrolan kami cukup singkat, Saya begitu senang mendengar kecintaannya akan keindahan Indonesia.
Perjalanan pun dimulai. Kami meninggalkan Kota Rantepao menuju Batutumonga yang berjarak sekitar 30 km ke arah utara. Menyusuri jalan beraspal dan sedikit berlubang. Satu hal menarik dari teman seperjalanan saya — Tandik — walau Ia asli orang Toraja, namun sekali pun belum pernah mengunjungi Batutumonga.
Alhasil, kami pun sering berhenti untuk bertanya bila perjalanan terasa jauh atau mendapatkan persimpangan.
[mks_pullquote align=”right” width=”300″ size=”20″ bg_color=”#dd3333″ txt_color=”#ffffff”]”Malu bertanya sesat dijalan, Malu bertanya jalan terus”[/mks_pullquote]
Ucapan terima kasih kami kepada orang-orang yang telah membantu kami dalam menuju Batutumonga.
Perjalanan yang menanjak dan sempit memaksa motor saya kerja ekstra. Hari semakin gelap dan cuaca semakin dingin menemani perjalanan kami. Hingga tak terasa kami sudah tiba di daerah Tinambayo, yang artinya sudah sangat dekat dengan Batutumonga. Pemandangan dari sini sebenarnya sangat menakjubkan tapi sayang hari mulai gelap jadi indahnya sawah-sawah bertingkat Toraja kurang begitu terlihat.
Tepat pukul 19.00 kami tiba di Batutumonga, tapi kami masih bingung mau menginap dimana. Beberapa homestay kami lewati. Saya masih memacu motor perlahan menyusuri jalan sambil melihat kiri kanan jalan. Kami pun sempat putar balik mencari penginapan yang pas hingga akhirnya memilih Mama Rina Homestay dengan harga Rp 125.000,- per malam tanpa sarapan

(Note. harga tahun 2013, dan mungkin ada perubahan saat ini)
Kami sudah tak punya pilihan lagi untuk mencari penginapan lain, karena cuaca dingin yang membuat saya merindukan tempat tidur. Ternyata penginapan ini menjadi pilihan favorit para turis asing yang sedang liburan ke Batutumonga.
Setelah menyimpan barang di kamar dan sholat magrib dan isya. Kami memesan 2 porsi Indomie telur + nasi dan 1 teko kopi Toraja untuk kami berdua. Makan malam yang begitu nikmat dengan cuaca yang dingin dan pemandangan gemerlap lampu kota Rantepao yang terlihat jelas. Ruang makannya tidak diberi dinding jadi kita bisa melihat keluar secara langsung tanpa sekat tapi cuacanya dingin pake banget.
Dinginnya udara membuat kami untuk memilih tidur lebih cepat agar bisa bangun sebelum matahari terbit.
***
Bunyi alarm yang terdengar semakin keras membangunkan saya di tidur lelapku. Rasanya ingin tetap berada didalam selimut, tapi niat untuk melihat indahnya matahari terbit di Toraja membangkitkan saya dari tempat tidur. Mengambil air wudhu kemudian sholat subuh. Selanjutnya bergegas keluar menuju spot sunrise. Cuaca yang dingin bukan penghalang bagi saya untuk keluar.
“Ada keindahan yang sudah menunggu diluar sana”, batin saya.
Hanya rasa takjub yang saya rasakan akan keindahan panorama apa yang ada didepan mata saya.


Lautan awan dan gradasi warna langit yang begitu indah memanjakan mata. Ingin rasanya melompat dan berselancar di lautan awan. Inilah keindahan yang membuat saya berada ditempat terindah ini.
Rasa syukur tak hentinya saya ucapkan. Tak ada rasa penyesalan sedikitpun walau perjalanan menuju tempat ini begitu sulit. Semua terbayarkan dengan apa yang akan kamu lihat.

Batutumonga, kampung di atas awan. Letaknya yang berada di kaki Gunung Sesean sehingga awan dan desa ini berada di satu garis lurus. Rantepao yang malamnya terlihat gemerlap lampu, pagi ini semuanya ditutupi oleh awan. Terlihat beberapa puncak bukit masih kelihatan, rasanya ingin melompat kesana kemari.

Matahari mulai keluar dari peraduannya untuk menghangatkan embun yang dan menerangi bumi ini dengan cahayanya. Aktivitas masyarakat desa Batutumonga mulai terlihat. Saya melihat beberapa anak SD berjalan menuju sekolahnya tanpa alas kaki dan pakaian yang tidak seragam.


Saya cukup haru melihat adik-adik generasi bangsa di Batutumonga ini yang begitu bersemangat menuntut ilmu walau dalam keterbatasan fasilitas. Tak ingin menyalahkan, namun begitu kontras dengan kehidupan anak sekolahan di perkotaan umumnya yang sudah dilengkapi dengan fasilitas pendukung namun mengabaikan pendidikan.
Tak bisa dipungkiri memang, kapitalisme dan penyalahgunaan teknologi membuat anak jaman sekarang termanjakan dengan fasilitas seperti gadget, naik motor ke sekolah bahkan beberapa ada yang membawa mobil. Harapan saya, semoga anak muda sekarang menyadari betapa pentingnya pendidikan sehingga menjadi lebih semangat belajar dengan dukungan fasilitas yang diberikan orang tuanya.
*curcol
***
Inilah sisi keindahan dari keindahan Tana Toraja. Sebagian orang mengenal Toraja dengan kuburan, Rumah Tongkonan, upacara kematian yang membuat sebagian orang agak takut untuk berkunjung ke Toraja.
Bila berkunjung ke Tana Toraja, datanglah ke Batutumonga, kamu akan disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa indah dan menakjubkan.