Cerita Pendakian Gunung Bulusaraung Bersama KSR 121

Pendakian Gunung Bulusaraung
Terkadang kita harus ke gunung, karena di alam kita bisa merasa lebih dekat. Semenjak menjadi alumni KSR 121, saya sudah melewatkan beberapa angkatan dan tidak mengenali mereka yang anggota baru. Mengajak mereka mendaki gunung, salah satu cara saya berkenalan dengan adik-adik saya. KSR 121 telah menjadikan kita sebuah keluarga dan merasa dekat walau berbeda generasi. Moment pendakian ini juga pas banget dengan Hari Relawan PMI. Mari mengapresiasinya momentum hari pahlawan dengan cara yang berbeda.

 

Kamis pagi saat itu tanggal 25 Desember 2014, saya sudah packing dan bergegas dari rumah menuju  kampus poltek. Saya melihat beberapa adik-adik sudah berkumpul di depan kampus, ternyata saat itu kami tidak bisa masuk kampus karena libur tanggal merah hari natal. Hampir satu jam saya menunggu sembari menunggu yang lain dan melengkapi perlengkapan yang masih kurang.

Meeting point dan Packing depan kampus Poltek

Setelah semuanya siap dan anggota yang lain sudah datang semua, kami kemudian berkumpul untuk briefing dan berdoa agar senantiasa diberi kesehatan dan keselamatan. Ini sering kami lakukan di KSR 121 setiap memulai kegiatan khususnya urusan mendaki.

Perjalanan dari Makassar menuju Desa Tompobulu dapat ditempuh sekitar tiga jam normal perjalanan, namun kami termasuk sangat lambat berhubung kami seringkali berhenti untuk saling menunggu. Setelah melewati kota Maros, pemandangan bukit karst menemani perjalanan ini sampai di pertigaan jalan masuk Tonasa 1. Disinilah kami menunggu sangat lama. Tak jauh dari lokasi kami berhenti ada sebuah masjid, saya pun menyempatkan sholat dzuhur dan menjamaknya dengan sholat ashar, pikirku nanti tidak sempat lagi karena kemungkinan pendakian akan tiba malam hari.

Setelah personil lengkap, kami pun beriringan menuju Desa Tompobulu dengan motor masing-masing. Jalanan cukup mulus hingga Desa Balocci, selanjutnya banyak jalanan berlubang. Tak hanya itu, tantangan jalan menanjak sekitar 10 km sebelum tiba membuat saya harus berhati-hati karena jalanan sempit dan licin. Salah sedikit bisa jatuh ke jurang. Kan gak lucu kalau harus terjun bebas di jurang padahal niatnya mau mendaki.

Kantor Desa Tompobulu menjadi penanda kalau kita sudah berada di pos pelaporan. Oiya, jangan lupa sebelum kami mendaki terlebih dahulu kami harus registrasi sebagai bukti. Setiap orangnya membayar Rp.7000,-/orang (Exclude Parkiran).

Gunung Bulusaraung memiliki 10 Pos dengan jarak tempuh tiga jam perjalanan, saya melihat info itu di pos pelaporan. Ini pendakian pertama saya di Gunung Bulusaraung tapi saya tidak khawatir sama sekali karena diatara kami sudah ada yang sering banget naik ke gunung ini bahkan sudah ada yang jadi Mbahnya Bulusaraung, tapi apapun itu, kita di alam harusnya selalu merasa kecil karena masih ada yang punya kuasa lebih, intinya kita harus selalu bertawakkal dan tidak takabur.

Kami mempercayakan Ammang, adik junior saya di KSR 121 sebagai leader  memimpin pendakian ini. Dia sudah seringkali juga naik Gunung Bulusaraung. Tak salah jika kami mempercayakan, selain itu saatnya kita melihat jiwa kepemimpinannya. Selain leader ada juga sweaper sebagagai penyapu atau berada paling belakang. Untuk posisi sweaper kami percayakan Sujarman, saudara satu angkatan, untuk urusan gunung, boleh dibilang dialah ahlinya, Puncak Mahameru sudah menjadi saksinya.

Awan hitam mulai mengusik cahaya terang ( (taken by fatinah))

Cuaca bersahabat menyambut kami menuju pos 1 walaupun malam sebelumnya Desa Tompobulu diguyur hujan. Saya sangat senang dengan kondisi cuaca saat itu. Cuaca bersahabat bukan berarti pendakian akan berjalan mulus, masih diawal pendakian kami sudah disambut trek menanjak dan licin sisa-sisa hujan semalam. Sungguh, ini menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan tim yang lain. Saya harus berjalan menanjak sambil menahan diri agar tidak jatuh terpeleset.

Beberapa pendaki berjalan beriringan sambil berpegangan satu sama lain dari atas, mereka sudah pulang. Kami saling menyapa dan melempar senyum, sesekali juga saya tertawa melihat mereka yang jatuh terpeleset. Mereka tak lagi memakai alas kaki dan hanya berplesotan dari atas.

Mendaki gunung itu bukan pada persoalan fisik, namun mental juga paling penting. Dengan kondisi trek seperti ini, saya melihat beberapa perempuan yang ikut sudah kelelahan tapi raut mukanya masih penuh dengan aura semangat menuju Pos 9 tempat kami akan mendirikan tenda. Salut untuk adik-adik perempuan yang ikut dalam pendakian ini, saya lupa namanya, maklum ini pertama kalinya saya bertatap muka sejak mereka masuk sebagai anggota baru dalam keluarga KSR 121.

Wajah lelah tidak tampak dari raut mereka jika sedang selfie (taken by fatinah)

Pos 1 sampai dengan pos 3 sudah menguras tenaga saya dan tim yang lain, tapi setelah itu saya sudah bisa bernafas lega. Jalur selanjutnya sudah terlihat landai melintasi rimbunan pohon yang menjulang tinggi ke atas. Jarak antara pos ke pos tidak terlalu jauh jaraknya, membuat saya semakin semangat jika melewati setiap pos. Saya bersama Kak Sapot, Kak Fhandy dan Sujarman berada di kelompok paling belakang dan kami sempat tertahan di pos 4 sekitar setengah jam berteduh dari hujan.

Sujarman memberikan arahan untuk Ammang agar tetap memimpin tim dan melanjutkan perjalanan hingga pos 9 lewat sebuah radio HT, komunikasi yang begitu apik antara leader dan sweeper.  Hujan tiada hentinya dan perlahan suasana sudah mulai sore, maka kami memutuskan menembus hujan dengan raincoat dan jaket seadanya.

Berjalan beriringan ditemani hujan dari pos 4 hingga tiba di pos 8, untungnya gak ada trekking menanjak seperti jalur pos 1 ke pos 3. Tiba di pos 8, kami berhenti sejenak untuk istirahat. Mendaki Gunung Bulusaraung, sangat disayangkan jika tidak singgah di pos ini, ada menara pandang pemandangan terbuka bisa menjadi pelepas lelah. Sepanjang perjalanan tadi kami hanya melintasi hutan. Pos 8 ini mirip walaupun tak serupa pos 7 di Gunung Bawakaraeng, spot paling wajib untuk mengambil foto.

Setelah terasa cukup istirahatnya, kami meninggalkan pos 8 menuju pos 9, tempat kami akan menginap sebelum kami menuju puncak. Terlihat dari kejauahan ada banyak tenda saat itu, namun kami bisa mengenali tenda yang sudah didirikan oleh adik-adik yang sudah tiba lebih awal.

Tenda sudah berdiri, silahkan dipilih.

Cahaya matahari sudah tak terlihat lagi dari sela-sela pepohonan, kini sore telah berganti menjadi malam. Saya memilih tenda paling ujung bersama kak fandy dan kak sapot, sembari yang lain menuju tenda masing-masing. Perempuan yang ikut sibuk mengurusi perlengkapan dapur sedangkan yang lain menuju sumber air tak jauh dari pos 9 untuk keperluan masak. Sebuah tenda coto warna orange berdiri digunakan sebagai posko dapur. Semua urusan masak memasak dilakukan di posko ini.

Ransum semua dikeluarkan dalam tas kemudian dikumpulkan di tenda dapur, selanjutnya diatur untuk ketersediaan makanan selama dua hari.  Mengatur menu sesuai bahan mentah yang dibawa harus diracik sedemikian rupa, agar semuanya terbagi rata. Biasanya untuk kondisi seperti ini, stamina yang terkuras butuh asupan lebih setelah menempuh perjalanan panjang. Memasak nasi sudah tentu, sambil menunggu nasi matang, mimuman hangat berupa kopi dan teh harus sudah tersedia. Saya memesan teh panas bukan hangat, perubahan suhu dipuncak gunung sangat cepat. Tak lama berselang, suara teriakan luar tenda sambil membawa tiga gelas teh hangat. Sungguh nikmat malam itu di dalam tenda sambil menyeruput teh. Ucapan tak terhingga atas pelayanan adik-adik untuk kami yang sudah menjadi alumni.
Orang-orang hebat dibalik tenda dapur.
Sungguh nikmatnya, ini hasil olahan sendiri di gunung.

Tak terasa sudah waktunya makan malam, sajian santap malam pun tiba. Sepiring nasi lengkap dengan tumis tempe seafood nya. Sungguh nikmat malam itu saat kondisi lapar ditambah hawa dingin. Kami makan bersama di dalam tenda karena sudah tak bisa beranjak lagi dari tenda. Iya, saya seperti itu, kalau sudah dalam tenda rasa-rasanya sudah malas kemana-mana. Saya tak menyangka pelayanan adik-adik senikmat ini.

Wajah – wajah sumringah dan keleelahan bercampur jadi satu.

Kami semua makan dengan lahap, entah karena masakannya yang enak atau memang lagi lapar-laparnya. Entahlah, di alam kita selalu diajarkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat walaupun dengan menu seadanya namun jika di gunung itu terasa luar biasa.

Habis makan maka muncullah ngantuk, itu sudah menjadi penomena alam. Saya lebih memilih beristirahat lebih awal untuk persiapan muncak di subuh harinya. Gerimis di luar menjadi iringan musik alam malam itu, mengantarkan saya ke alam tidurku.

***

Hujan gerimis semalaman mengguyur pos 9 malam itu membuat saya sedikit terganggu dengan tidur saya, tenda tak mampu melindungi kami dari rembesan air di sedut-sudut tenda. Kami bertiga di dalam harus saling merapatkan diri ke tengah agar tidak kebasahan, perlahan masalah itu kami bisa atasi dan akhirnya tertidur dengan lelap walaupun kontur tanah dibawah kami tidak rata tetapi bagi saya pribadi tidak menjadi masalah besar. Suara dengkur bersahut-sahutan mengalahkan suara gerimis diluar, banyak orang tak bisa tidur dengan kondisi seperti ini tapi bagi saya suara dengkur adalah dongeng pengantar tidur.
Alarm handphone tak mampu membangunkan saya dari tidur lelap, akhirnya kami agak kepagian walaupun cuaca di luar masih gelap dan kelihatannya gerimis sudah tidak turun lagi. Saya kemudian keluar dari dalam tenda dan memperhatikan area sekitar, ternyata yang lain masih berkutat di tenda masing-masing. Setelah itu, saya mengajak dua orang untuk menemani saya menuju sumber air untuk mengambil air wudhu karena persedian air di sekitar tenda sudah habis.
Jaga dan Lestarikan
Kesempatan menyaksikan sunrise di puncak Gunung Bulusaraung masih bisa asalkan kami bisa bergerak cepat, seketika mungkin personil sudah siap summit attack, tak lupa membawa persediaan air minum dan cemilan sebagai bekal di puncak. Selain itu saya juga tak lupa pula membawa kamera, ini barang paling penting dan tak boleh ditinggal.
Kami berjalan beriringan menuju puncak, walaupun yang lainnya masih mempersiapkan dirinya masing-masing, tapi saya memilih berjalan lebih awal agar masih bisa melihat sunrise. Pos 9 menuju Pos 10 merupakan jalur menanjak dan berbatu, inilah aslinya pendakian Gunung Bulusaraung jika dibandingkan jalur yang sudah dilalui kemarin ketika menuju Pos 9. Saya beberapa kali berhenti sambil menghela nafas panjang. Saya pun menerapkan tips berjalan menuju puncak dimana ketika kita berjalan menanjak jangan pernah melihat keatas tetapi menatap ke bawahlah dan nikmati setiap langkap kakimu, ini terbukti berhasil dan membawa saya sedikit lagi berada puncak. Menara radio puncak Gunung Bulusaraung sudah terlihat, itu sebagai pertanda kalau puncak sedikit lagi.
Semangat yah..
Akhirnya saya dan beberapa teman yang lain akhirnya tiba di puncak sebelum matahari terbit. Terlihat juga beberapa pendaki yang lain sudah berada di puncak. Sambil menunggu semua tim lengkap, saya memilih sibuk sendiri dengan kamera untuk mengabadikan moment dan mengmabil beberapa foto landscape. Gradasi warna sunrise sudah tidak terlihat dan mulai tertutupi kabut tapi mataharinya belum keluar. Tak lupa juga  berfoto bersama dengan kamera Gopro, kamera mini anti hujan dengan hasil foto landscapenya membuat saya iri karena dari kemarin kamera Nikon D5100 ku belum bisa keluar karena cuaca yang tak menentu. Disinilah awalnya saya tertarik dengan kamera Gopro hingga akhirnya sepulang dari pendakian saya langsung membeli Gopro Hero4.
* * *
Setelah semuanya berada di puncak, tampak sebuah keharuan dari raut muka mereka karena berhasil mencapai puncak, terutama bagi perempuan yang ikut, apalagi beberapa diatara dari mereka ini adalah pertama kalinya mendaki. Salut dengan kegigihan mereka, mengingatkan saya ketika pertama kali ikut mendaki dan akhirnya saya merasa mendaki itu menyenangkan.
Memang cuaca di puncak memang sulit ditebak, yang awalnya cerah tiba-tiba berselimut kabut. Sekeliling puncak hanya terlihat kabut berseliweran menutup keindahan puncak pagi itu. Foto dengan cuaca seperti ini sama halnya foto dengan latar belakang tembok. Perlahan tapi pasti, kabut mulai membuka diri dan menampakkan keindahan apa yang dari tadi dia sembunyikan. Kami pun tak ingin ketinggalan dan secepatnya saling bergantian untuk berfoto. Pagi itu mengajarkan saya arti sebuah kesabaran, sabar menunggu cuaca bersahabat.
Sisi puncak yang lain sudah menampakan dirinya.
Berdiam diri atau melompat
Kabut tipis datang lagi menutup dirinya

 

Mendaki kali ini juga mengajarkan saya arti sebuah perjuangan, berjuang menuju puncak walau tubuh sudah tak mampu lagi tapi dengan keyakinan tekad puncak Gunung Bulusaraung bisa saya capai. Sebuah pencapaian yang luar biasa bukan karena saya sudah berada di titik tertinggi Gunung Bulusaraung tapi saya berhasil mengalahkan semua keraguan saya. Bukankah begitu?
Puncak Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1353 mdpl, memang terlihat lebih rendah jika dibanding Gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian 2883 mdpl. Jumlah posnya pun sama walaupun jalur Gunung Bulusaraung sedikit lebih bersahabat, namun cukup membuat saya kewalahan hingga bisa berdiri di puncaknya. Setiap gunung beda cerita, tapi pendakian kali ini memiliki arti tersendiri bagi saya bersama keluarga besar KSR 121 PNUP.
Senyum sumringah
Matahari sudah mulai meninggi, kami pun turun dari puncak menuju pos 9. Setelah tiba, tak perlu menunggu lama untuk membongkar tenda dan membereskan semua untuk kembali. Tak lupa pula kami membawa pulang sampah kami, karena gunung bukan tempat sampah. Setidaknya kami bertanggung jawab dengan sampah kami sendiri ketika kami tak mampu membersihkan semua sampah plastik di pos 9.
Kami pun kembali pulang menuju desa Tompobulu, tempat kami memarkir motor dan selanjutnya kembali menuju Makassar. Sebelum tiba di Makassar, kami sempat singgah di salah satu warung dekat pertigaan jalan poros Pangkep untuk mengisi perut yang memang dari pagi belum terisi. Nasi goreng telur dadar lengkap dengan ayam cabik-cabiknya menu siang itu, namun entah kenapa saya jauh lebih menikmati makanan semalam walaupun dengan menu seadanya tapi itu sungguh nikmat. Selanjutnya kami pun kembali ke Makassar dengan cerita masing-masing.
Akhir kata, semoga masih ada kesempatan untuk kembali mendaki bersama karena di alam kita jauh lebih merasa dekat. Terima kasih untuk semuanya.
Let’s Explore Indonesia
INDONESIANHOLIC
Written by
Muhammad Akbar
Join the discussion