Ngebolang di Rammang Rammang, Pegunungan Karst Maros

Rammang Rammang Maros

Besok kemana yah !!!

Otak saya bekerja keras setelah teman-teman saya mengajak untuk jogging dan menikmati car free day di Pantai Losari. Bukannya saya menolak, tapi itu sudah biasa. Intinya saya harus cari ide baru agar mereka ngikut dengan rencana saya.

Bagaimana kalau kita ke Rammang Rammang, beberapa dari teman saya langsung membrondol pertanyaan ke arah saya (waktu itu, 2013, Rammang Rammang belum seterkenal sekarang)

Rammang-Rammang itu dimana?
Kita kesana naik apa?
Disana apa yang bisa dinikmati?
Jauh gak dari Makassar?

Dengan menarik nafas dan mundur selangkah akhirnya saya menjawab pertanyaan mereka satu-satu hingga mereka hanya mengangguk tanda mereka setuju.

“Rammang Rammang adalah sebuah desa di Maros dikenal sebagai desa Karst. Pegunungan Karst Rammang Rammang adalah terbesar ke-2 di dunia. Akses menuju kesana kita bisa naik angkot jurusan pangkep kemudian turun di pertigaan arah jalan masuk semen bosowa, dari pertigaan sekitar 200 meter kita akan menemukan jembatan. Samping kiri jembatan ada dermaga dari sana kita akan naik perahu menyusuri sungai pute. Pemandangan disana sangat menakjubkan dengan pegunungan karst dan melewati sungai dalam goa. Lama perjalanan normal dari makassar sekitar 1 jam.“ jawab saya panjang.

Waktu itu, Minggu pagi, petualangan ngebolang menuju Rammang-Rammang siap beraksi dengan crew Kak Amri, Kak Rhey, Kak Chelli, Cimma dan saya sebagai leader ngebolangnya.

Sebelum naik angkot “pete-pete” kami terlebih dahulu membeli beberapa persiapan makanan dan cemilan di ALF* M*RT dan sarapan nasi kuning. Tepat jam 10 pagi kami pun berangkat menuju Maros dengan pete-pete Pangkep.

Selama perjalanan banyak hal yang kami ceritakan, maklum crew ngebolang ini baru bertemu lagi setelah terpisah puluhan tahun, maksudnya puluhan bulan setelah masing-masing kerja di kota berbeda. Hingga tak terasa kami sudah berada di jalan masuk semen bosowa. Sopir pete-pete kemudian berbaik hati mengantar kami masuk ke dalam karena sebelumnya kami sudah sepakat untuk mengantar kami sampai desa Rammang-Rammang.

Saya melihat sebuah pintu masuk bertuliskan Desa Rammang Rammang tepat disamping Kantor PLN.

“Pak sopir, stop…stop…stop…”, sahut saya

“Sudah lewat mi jalan masuknya, kasi mundurki pete-peteta”, ucap saya lagi menggunakan logat Makassar.

Akhirnya kami menyusuri jalan setapak yang terlihat baru dibeton. Pete-pete terhenti karena ada plang kayu ditengah jalan yang manghalangi. Kami harus turun dan melanjutkan perjalanan jalan kaki menuju dermaga dibawah panas terik matahari. Kami berjalan dengan sedikit keraguan bahwa apakah kami tidak tersesat. Saya sendiri sudah yakin dengan pilihan saya bahwa jalan ini sudah benar.

Melihat sebuah warung kami kemudian berlarian ibarat gula melihat semut. Setelah menjelaskan maksud dan tujuan kedatangan kami kepada seorang bapak pemilik warung, akhirnya saya baru sadar kalau kami memilih jalur yang kurang tepat tapi tidak salah, dimana 500 meter kedepan juga terdapat dermaga walaupun itu bukan tujuan awal kami.

Saya pun merasa bersalah dengan teman-teman ngebolang lainnya. Tapi, kan, ngebolang tanpa tersesat rasanya kurang lengkap hehehe.

Walau jaraknya sudah cukup dekat, namun kami ternyata tidak sanggup dengan panasnya matahari kala itu terasa sejengkal di atas kepala kami. Diputuskanlah untuk naik ojek dengan membayar Rp 5.000. Setiba di dermaga kedua, kami juga memilih untuk istirahat sebentar sembari bercengkrama dengan anak-anak kecil yang sedang mandi di sungai.

Melihat pemandangan pegunungan karst yang tertutupi oleh hijaunya pepohonan serta aliran sungai Pute, seketika pula pikiran saya merasa seperti sedang berada di Vietnam. Lokasi Rammang Rammang ini persis seperti salah satu film hollywood, Rambo, yang pernah saya lihat.

Pegunungan Karst Maros
Pegunungan Karst Rammang Rammang Maros

 

Sungai Pute Maros
Karst Maros dengan apitan sungai pute

***

Tujuan utama kami adalah Dusun Berua. Dusun ini cukup unik. Kata orang-orang, dusun ini terisolasi oleh pegunungan karst tersebut. Dari dermaga, kami kemudian memilih jalur sungai dengan menggunakan perahu ‘Jolloro’ dengan tarif (waktu itu) Rp 120.000 (PP). Sebenarnya, untuk menuju Dusun Berua ini bisa melalui jalur trekking.

Namun, karena umumnya menggunakan perahu, pun kammi tidak tahu medannya, tentu kami lebih memilih jalur yang aman saja. Pun menyusuri sungai Pute dengan perahu memiliki pengalaman tersendiri. Kadang perahu miring ke kanan, dan ke kiri, membuat kami berteriak, antara rasa takut dan tertantang.

Laju perahu sangat pelan menyusuri sungai sambil melawan arus kecil dan jalur yang berbelok. Ketika saya melihat sebuah bebatuan karst yang menutupi jalur sungai merasa takjub bahwa tempat seperti ini ternyata ada di Maros yang sebelumnya saya lihat dalam sebuah tayangan National Geographic.

Terkadang kita terlalu membanggakan wisata luar negeri dan menghabiskan uang yang banyak untuk mengunjunginya. Kita seperti tak sadar bahwa Indonesia jauh lebih indah karena surga dunia itu ada di Indonesia tergantung cara kita menikmatinya.

Jalan jalan ke Rammang Rammang
Akbar, kak Rhey, Cimma, kak Amri dan kak Celli #Crew Ngebolang
Teman Ngebolang ke Rammang Rammang
Andika Kangen Band, Kapten perahu Cinta Sejati
Menyusuri gua dengan perahu
Ada aliran sungai di dalam goa

Dusun Berua, menjadi pemberhentian terakhir perahu. Sebuah dusun yang terdiri dari 16 KK dimana mereka sangat mandiri. Ada sawah dan empang yang semata-mata untuk penghidupan mereka. Begitu tenang dan damai tempat ini. Sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Cuaca Dusun Berua sangat panas dikala kami berkunjung berhubung karena lagi musim kemarau dan kami juga datang di waktu yang tidak tepat dimana jam menunjukkan jam 12 siang.

Kami memilih sebuah balai-balai di tengah sawah dan pohon kapuk disampingnya untuk berlindung dari sengatan matahari. Masih belum percaya begitu nikmat dan tentramnya masyarakat Dusun Berua yang kehidupan mereka tak pernah melihat keatas tapi bagaimana mereka menikmati hidup dari alam. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan perkotaan yang selalu menuntut dengan hidup glamour.

Tiba di Desa Berau Rammang Rammang

Rammang Rammang Maros
Dusun Berua, Rammang Rammang Maros.

Setelah puas menikmati pemandangan karst dan angin sepoi-sepoi walaupun cuaca sangat panas. Kami pun memutuskan untuk pulang. Perahu tadi sudah menunggu dan mengantar kami pulang. Masih dengan jalur yang sama namun kami akan menuju dermaga utama yang dekat dengan jalan poros.

Karst sesungguhnya ternyata berada di luar yang dari tadi kami cari dan membuat kami penasaran tapi berhubung lagi cuaca panas kami urungkan niat untuk kesana. Hanya bisa menikmati dari perahu karena sesungguhnya pemandangan itu tidak selalu harus diabadikan dengan kamera. Tapi mata adalah kamera sesungguhnya yang akan terekam oleh memori.

Batuan Karst di Sungai Pute Maros
Batuan Karst di Sungai Pute Maros
Dermaga Rammang Rammang
Dermaga Rammang Rammang

Tiba di dermaga Rammang-Rammang kami mencari warung makan berhubung hari sudah siang. Sebuah warung di sebelah jembatan menjadi pilihan kami dengan menu bakso dan Coto Makassar tapi sangat tidak recommended karena cita rasa jauh dari harapan. Setelah makan kami kembali ke Makassar dengan naik pete-pete Maros kemudian lanjut pete-pete Makassar.

 

Tips berkunjung ke Rammang-Rammang:

  1. Berkunjunglah di pagi hari atau di sore hari atau jika anda punya waktu anda bisa camping di Dusun Berua. Selain Dusun Berua anda juga bisa mengunjungi Telaga bidadari dan Goa telapak tangan.
  2. Ajak teman anda minimal 5 orang agar bisa share cost untuk perahu.
  3. Untuk mencapai Rammang-Rammang. Naik pete-pete jurusan pangkep kemudian turun di pertigaan jalan masuk semen bosowa. jarak dari pertigaan sampai dermaga sekitar 1.5 km jika tidak mau jalan kaki anda bisa naik ojek.
  4. Dermaga Rammang Rammang berada disisi kiri jembatan pertama dari jalur masuk semen bosowa. Jika anda ingin berkunjung ke Telaga bidadari dan Gua telapak tangan anda bisa memilih jalur samping kantor PLN. Jaraknya sekitar 3 km, untuk lebih jelas silahkan bertanya di penduduk.

***

Estimasi Pengeluaran (saat berkunjung tahun 2013):

  • Ongkos pete-pete Daya ke daerah Sudiang = Rp. 4000,-
  • Ongkos pete-pete Pangkep (antar sampai desa rammang rammang) = Rp. 10.000,-
  • Sewa Perahu Jolloro (085 396 356 325 / Perahu Cinta Sejati) = Rp. 120.000,- PP
  • Ongkos pete-pete maros ke pasar maros = Rp. 5.000,-
  • Ongkos pete-pete Makassar (Antar sampai makassar “Nusa Tamalanrea Indah”) = Rp. 8.000,-
Written by
Muhammad Akbar
Join the discussion

38 comments