Showing posts with label Jawa. Show all posts

Aneka Kuliner Favorit Selama di Cepu

Ini sebuah catatan saya dalam menjajah kuliner di Cepu. Tak perlu begitu kaget dengan nama kota tersebut, bukan tentang pengalaman ngebolang saya melainkan ini hanya pengalaman saya selama di Cepu yang hampir enam bulan menjalani proses pendidikan. 

Cepu merupakan sebuah kota kecil, salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Cepu juga merupakan gerbang terakhir Jawa Tengah sebelum masuk Jawa Timur dimana hanya dibatasi oleh sungai Bengawan Solo. Selain itu Cepu juga dikenal sebagai kota minyak karena terdapat banyak sumur minyak.  Masih membutuhkan penjelasan tentang Cepu? selengkapnya baca disini

Dua tahun terakhir selama di pulau jawa, seperti yang saya ceritakan sebelumnya kalau saya menghabiskan waktu sekitar enam bulan di kota Cepu untuk mengenyam pendidikan di Pusdiklat Migas Cepu, salah satu instansi pelatihan dan pendidikan minyak dan gas dibawah naugan Kementrian ESDM. Kota ini telah banyak melahirkan para pekerja kilang yang sudah tersebar di seluruh perusahaan Migas yang ada di Indonesia maupun yang ada di dunia, semuanya berawal dari dari sini. Tak hanya itu di Cepu juga terdapat  AKAMIGAS STEM, perguruan tinggi kedinasan kementerian ESDM. Akamigas merupakan sekolah dibawah kerjasama kementerian.
Selama di Cepu saya tinggal di Widya Patra 3, gedung tiga lantai milik Pusdiklat Migas yang diperuntukkan untuk para pelajar dengan suasana seperti asrama atau mess. Hidup disini serba terjamin dari transport, laundry dan makan. Khusus untuk masalah makanan, ini yang menjadi kendala saya selama di Cepu. Beberapa menu yang disajikan tidak sesua dengan tenggorakan saya, solusinya cari jajanan di luar.

Ada beberapa warung makan yang sangat saya rekomendasikan jika anda sedang berada di Cepu.

BAKSO & MIE AYAM MUTIARA
Bakso dan Mie Ayam Mutiara lokasinya di Jalan Sorogo tepatnya di depan Pusdiklat Migas Cepu. Sesuai dengan nama warungnya, menu yang tersedia ada Bakso, Mie Ayam dan Mie Ayam Bakso. Jika kalian bertanya apa menu pavorit saya kalau datang kesini pasti jawabnya Mie Ayam Bakso, harganya tidak mahal amat sesuailah dengan isi dompet. Semangkok Mie Ayam Bakso dihargai Rp. 10.000,- , Murah kan??!!!

Mie Ayam Bakso

AYAM KREMES DEPOT PAK KUMIS
Ayam kremes depot pak kumis lokasinya di kawasan taman 1000 lampu dekat dari RSUD Cepu. Menunya disini ada banyak seperti warung makan pada umumnya tapi yang sangat populer ayam kremes. Ayam goreng yang diselimuti campuran telur dan tepung makanya disebut ayam kremes, tak hanya itu sambalnya juga sangat khas dan ada juga lalapan. harganya sedikit lebih mahal tapi jika dibandingkan dengan rasanya itu tak ada apa-apanya, 1 porsi ayam kremes dihargai Rp. 19.000,-. Pokoknya makan disini dijamin manyoos dan paling enak ditutup dengan Es Teh.

Paket Ayam Kremes

SOTO LAMONGAN CAK BONDET
Soto Lamongan cak bondet lokasinya di jalan Stasiun KA dekat dari SMA 1 Cepu. Sesuai dengan namanya disini tersedia Soto Lamongan itu artinya kuliner ini berasal dari Lamongan. Setiap daerah punya penamaan soto sesuia dari daerah asalnya namun yang berbeda dari soto lamongan adalah semangkok sop sudah dicampur nasi didalamnya, isinya ada daging ayam, irisan telor dan bawang goreng.

(Sumber : kaskus)
CFC
Ini bukan Ayam KFC pada umumnya namun rasanya beda tipislah. CFC ini lokasinya di Jl. Pemuda dekat dari bekas rel KA. Ada beberapa paket yang tersedia tapi saya sering milih menu paket 4 (nasi + dada + es teh) dari segi harga sangat bersahabat, hanya Rp. 13.500,- sudah bisa memilih paket ini. CFC juga bisa delivery untuk area Cepu & sekitarnya. Restorannya dua lantai dan di setiap dindingnya terdapat lukisan musik, pokoknya tempatnya cukup keren lah untuk yang pengen suasana romantis terutama yang di lantai 2.

CFC Cepu Fried Chicken

Let's Travel to Experience The Beauty of Indonesia
Follow Twitter @indonesianholic




Nikmatnya Ayam Panggang Bu' Suryani di Desa Gandu

Ayam Panggang Desa Gandu
Perjalanan pulang dari Sarangan kami sempatkan menikmati kuliner di kawasan ayam panggang, dikenal sebagai desa ayam panggang "Sentra Ayam Panggang Desa Gandu" sebuah gang kecil yang semua rumah menyajikan ayam panggang. Sentra ayam panggang tepatnya berlokasi di jalan Ngawi - Magetan, Kecamatan Karangrejo Kabupaten Magetan, Jawa Timur.

Bus yang membawa kami berhenti di sebuah desa yang terbilang sepi. Sepanjang perjalanan saya tertidur pulas dan ketika dibangunkan saya kebingungan kenapa bus berhenti disini yang biasanya berhenti di SPBU atau mesjid. Kami semua turun dari bus kemudian menyusuri sebuah gang kecil dimana semua rumah penduduk menyajikan ayam panggang. Setiap rumah memiliki nama warung sesuai dengan nama penghuninya, diantaranya ada Bu' Bari, Bu' Mar, Mbak Lastri, Bu' Setu, Bu' Sarmi, Bu' Sri, Mbak Mimin dan Bu' Suryani. Mereka menjual berdampingan tetapi mereka punya prinsip bahwa rezeki sudah ada yang mengatur sehingga para ibu -ibu mempunyai langganan sendiri tanpa ada rasa kecemburuan.

Kami memilih ayam panggang Bu' Suryani yang lokasinya paling ujung dari semua deretan rumah makan. Sebuah rumah dua lantai berwarna putih dengan corak ungu. Terdapat sebuah balai-balai dan ayunan yang terbuat dari kayu. Ada yang berbeda disini dimana tak ada satupun kursi dan meja seperti rumah makan pada umumnya, yang ada hanya hamparan tikar anyaman plastik yang dibentangkan. Pengunjung menikmati hidangan ayam panggang dengan konsep lesehan.

Tampak Depan Rumah Bu' Suryani
warung makan dengan konsep lesehan
Kami memesan dua porsi ayam panggang dengan varian rasa pedas dan gurih dengan sambal bawang, sambal terasi, lalapan dan aneka macam sayur. Ayam panggang rasa pedas warnanya kemerahan karena cabenya sedangkan ayam panggang rasa gurih warnya agak kekuningan dari rempah kunyit. 

Ayam panggang yang disajikan berasal dari ayam kampung sehingga dagingnya sangat empuk. Tak hanya itu ayamnya dipanggang menggunakan tungku tanah dan kayu bakar sehingga aromanya sangat terasa. Paduan sambal dan ayam panggangnya sungguh nikmat hingga membuat saya pantang untuk mundur sebelum habis walaupun saya dibuat ngos - ngosan oleh sambalnya.

Ayam Panggang Pedas dan Ayam Panggan Gurih
Tungku Tanah dengan Kayu Bakar
Bu' Suryani (baju batik)
Tak salah jika saya harus mengatakan bahwa Ayam Panggang Bu' Suryani merupakan ayam panggang paling enak yang pernah saya nikmati. Berkunjung ke Ngawi, sepertinya harus sempatkan berkunjung ke Desa Gandu untuk menikmati ayam panggangnya. Jika Madura punya Bebek Sinjay dan Makassar punya Coto Makassar, Desa Gandu juga punya Ayam Panggang yang bisa diadu kenikmatannya. Recomended

Toss Es teh dulu sambil Elus perut

Sentra Ayam Panggang Desa Gandu

Ayam Panggang Bu' Suryani
(0351) 7788088

Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic

www.indonesianholic.com



Outbond Ceria di Kampoeng Pinus Sarangan


Masih dalam edisi liburan bersama di Sarangan dimana rundown acaranya kami juga mengunjungi Kampoeng Pinus Sarangan. Ada banyak permainan outbond yang tersedia tergantung mau mencoba yang mana tapi harus disesuaikan dengan tingkat adrenalin dan selera.

Lokasinya masih berada di kawasan Sarangan, cuaca yang dingin dengan pohon pinus yang menjulang tinggi dan semua bangunannya terbuat dari bahan dasar bambu sehingga terkesan alami sehingga pengunjung merasa tenang dan adem. Langsung saja yah wahana apa saja yang ada disini, Cekidot !!!

FLYING FOX 
Outbond flying fox merupakan permainan yang sering ditemukan di wahana outbond lainnya. Meluncur dari titik ketinggian dengan sebuah tali dan sebuah pengaman harness. Setiap peserta kami hanya diberikan kesempatan sekali untuk meluncur.

Sebelum memulai kegiatan, salah satu instruktur dari Kampoeng Pinus Sarangan memberi pengarahan dan bekal ilmu tentang peralatan yang digunakan serta kekuatan tiap alat outdoor. Hal ini sangat penting bagi kami sebelum melakukan kegiatan. Setelah pengarahan selesai, dilanjutkan dengan olahraga ringan untuk streching agar badan kami tidak kaku sehingga tidak terjadi cedera. Streching dimulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Streching ringan sebelum flying fox
Berhubung lintasan flying fox hanya satu maka kami harus mengantri sambil menunggu giliran. Saya mencoba menikmati dengan duduk bersandar di bawah pohon pinus sambil menghirup udara segar. Tak hanya itu kami juga saling bercanda lepas yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Terkadang harus memojokkan salah seorang teman sebagai bahan candaan walaupun ini hal yang kurang baik tapi dengan sebuah candaan yang membuat keakraban mengalir. 

Tak terasa tiba giliran saya untuk melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan teman sebelumnya. Saya harus berjalan dulu menuju titik ketinggian kemudian menaiki sebuah tangga menuju atas pohon. Tak hanya itu sebelum ke titik peluncuran masih ada lagi jembatan dua tali yang harus dilalui yang terhubung diatara dua pohon pinus. Bagi saya ini bukanlah tantangan yang membuat saya harus menjerit atau berteriak ketakutan seperti teman kami yang perempuan.

Setelah tiba di titik peluncuran, petugas mengaitkan carbiner di tali sambil mengarahkan saya untuk memegang tali sebagai pegangan. Sempat khawatir dan sedikit deg-degan juga tapi dengan penuh keyakinan saya meluncur sambil berteriak, bukan teriak ketakutan tapi ini cara saya menikmati permainan flying fox.

Eksis dulu  sebelum naik
Meluncur dari titik ketinggian
ATV & MINI TRAIL
Selain Flying Fox ada juga ATV bisa dijadikan sebagai pilihan wisata. ATV merupakan kendaraan bermotor untuk segala medan yang memiliki 4 buah roda. Beberapa teman saya juga mencoba mengendarai mobil ATV dengan mengelilingi lintasan yang sudah tersedia. Mengendarai ATV tak semudah yang dilihat butuh keahlian dan kekuatan tangan terutama ketika melewati jalur penanjakan. Sensasi trailnya sangat terasa, kami meneriaki ketika salah seorang teman ketika menabrak dinding tanah atau tertabrak di pohon pinus. Saya tak ikut main ATV karena tak banyak waktu, saya lebih mengutamakan ikut Downhill.



Eksis Bersama di Game ATV

DOWNHILL
Downhill merupakan olahraga bersepeda menuruni pegunungan yang sangat memacu adrenalin. Adrenalin saya muncul ketika melihat papan informasi, dimana tersedia olahraga Downhill maka saya langsung tertarik untuk mencobanya. Masa kecil saya memang kebanyakan di atas sepeda. Masih teringat jelas di ingatan saya dengan sepeda wim cycle hadiah dari mama yang sering saya kayuh di kampung. Tak hanya itu, saya memang paling senang naik sepeda lintas daerah bahkan waktu usia sekolah SMP sering ikut lomba balap sepeda kelas grass track bahkan untuk kelas cross juga.

Lintasan Downhill Sarangan ternyata sudah berstandar nasional bahkan beberapa bulan yang lalu Kejurnas Downhill etape terakhir lokasinya di Sarangan. Saya semakin bersemangat dan tak sabar untuk mencobanya. Sebenarnya saat itu hari sudah mulai sore bahkan kabut tipis sudah turun tapi saya tak ragu sedikit pun untuk membatalkannya walaupun sudah ditawari untuk melanjutkannya besok pagi. Pantang mundur sebelum mencoba.

Mobil pick-up membawa kami menuju titik start yang berlokasi di atas bukit. Jalanan yang berliku menanjak  membuat mobil harus bekerja ekstra hingga kami tiba di sebuah tempat start. Sebelum memulai downhill, pendamping menginstruksikan untuk memakai APD (Helm, Penutup sikut dan Penutup Lutut) dan menjelaskan medan secara umum. Tak lupa berdoa agar kami diberikan keselamatan.

Menuruni penurunan dengan lintasan yang diapit pepohonan dan jalur bebatuan membuat saya harus jeli memperhatikan jalur didepan. Saya memilih berada di urutan kedu dibelakang pendamping kemudian disusul Erick dan Edi. Tak diperlukan mengayuh kerena medannya sudah penurunan yang dibutuhkan hanya mengikuti jalurnya dan menghindari batu dan kayu. Selang beberapa menit saya sudah terjungkal dari sepeda hingga saya terperosok. Saya hanya bisa tersenyum ternyata downhill tak semudah yang dibayangkan. Saya banyak belajar dari kecelakaan tadi walaupun pada akhirnya saya terjatuh tiga kali sebelum tiba di finish.

Mengayuh sepeda gunung mengejar waktu yang mana hari sudah mulai gelap dan kabut berubah menjadi gerimis semakin membuat saya semakin bersemangat walaupun Erick dan Edi terlihat sangat berhati-hati sehingga harus singgah sejenak menunggu mereka yang jauh tertinggal dibelakang. Tak terasa kami tiba di garis finish padahal saya masih belum puas dan pengen mencobanya kembali.

Akhirnya saya juga bisa merasakan Downhill, wajib dicoba untuk menguji kemampuan anda dalam bersepeda. 

Deretan Sepeda Gunung untuk Downhill
Eksis dulu sebelum memulai
Eksis bersama Crew DownHill
KAMPOENG PINUS SARANGAN :
-  Wahana Edukasi dan Rekreasi Keluarga -
Tarif Wahana
  • Flying Fox              Rp. 40.000 - Rp. 80.000
  • ATV & Mini Trail    Rp.  30.000,- / 3 putaran
  • Downhill                Rp. 110.000,- / race
  • Paint Ball               Rp.  60.000,-

Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

Foto : Kawasan Kelapa Gading Jakarta

View in The Night ( taken from top of Patra Jasa Hotel )
View in the Afternoon ( taken from top of Patra Jasa Hotel )
Kelapa Gading Jakarta Utara dikenal sebagai kawasan metropolitan yang tertata rapi dan sangat berkembang pesat. Kota Metropolitan diindikasikan dengan banyaknya gedung bertingkat. Mall Of Indonesia, Mall Kelapa Gading dan Apartemen Summarecon Agung dan gedung bertingkat lainnya adalah pemadangan pavorit saya di kala malam hari dimana saya dapat menikmati indahnya kelap kelip lampu. Dibalik keindahannya di malam hari tersimpan kesemrawutan, kawasan Kelapa Gading - Jalan Layang Cempaka Putih merupakan sarang kemacetan pada saat sore hari menjelang malam. 
 
" Kelapa Gading dalam pandangan dua sisi yang berbeda "

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan edisi 37 dengan tema Pencakar Langit oleh 
www.catatanruslan.blogspot.com

Liburan Bersama di Air Terjun Tirtosari Sarangan

Kunjungan saya di Telaga Sarangan dalam sebuah liburan bersama teman, liburan kali ini lebih banyak mengikuti jadwal yang sudah diatur. Sesuai dengan schedule, hari minggu pagi tanggal 26 januari 2014 kami akan menuju Air Terjun Tirtosari yang lokasinya sekitar 3 km dari Telaga Sarangan. Berhubung Lokasinya yang tidak terlalu jauh maka kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil olahraga pagi. 

Semua diharapkan berkumpul di depan hotel sesuai dengan waktu yang ditentukan, namun pada akhirnya beberapa teman terlambat termasuk saya sendiri dan teman lainnya. Bak gayung bersambut membuat pembimbing melampiaskan kemarahannya atas kelakuan kami yang tak menghargai waktu. Ada benarnya juga, dimana kami harus memperhatikan hal-hal yang kecil.

Perjalanan dimulai dengan kami berjalan beriringan menuju lokasi air terjun, dimana lokasinya berada di sebelah barat daya Telaga Sarangan, untuk menemukannya sangat mudah dimana di depan pintu gerbang masuk terdapat tugu pesawat tempur lengkap dengan pesawat tempurnya. Melalui pintu masuk hanya dengan melemparkan senyum dan lambaian tangan ke penjaga karcis karena semua karcis sudah dibayarkan jadinya kami hanya lewat saja. Harga tiket masuknya Rp. 7.000,-/orang.

Pemandangan yang Terlihat Menuju Air Terjun Tirtosari
Melewati pintu gerbang terdapat dua jalur, jalur pejalan kaki dan jalur kendaran bermotor. Pengunjung yang punya kendaraan bisa memilih jalur pertama sampai di desa terakhir kemudian melanjutkan jalan kaki sekitar 1 km. Kami meimilih jalur kedua sesuai dengan kesepakatan awal kami ingin berjalan kaki maka kami lebih memilih jalan setapak yang diperuntukkan untuk pejalan kaki. Menyusuri jalan setapak permanent dimana pemandangan yang disuguhkan sangat indah memanjakan mata kepada setiap orang yang melihatnya. Saya sangat menikmati setiap langkah demi langkah menyusuri perbukitan ditemani pemandangan sawah yang tersusun dengan rapi dan sesekali kabut tipis berseliweran, sungguh pemandangan yang hanya bisa di dapatkan di Sarangan. Terlihat sebuah desa yang terletak di sebuah lembah yang diapit oleh dua buah gunung. Betapa beruntungnya masyarakat yang tinggal disini dimana setiap hari bisa menikmati udara segar dan pemandangan nan elok setiap pagi, kontras dengan kehidupan di perkotaan yang penuh dengan kemacetan dan kesemrawutan.

Hampir setiap sudut yang kami lewati seakan menarik kami untuk mengabadikannya dengan foto kebersamaan. Seperti semut menemukan gula, ibaratnya dengan beberapa teman saya dimana jika sudah melihat kamera makan dalam hitungan detik semua sudah berkumpul untuk dijadikan model jepretan.

Jalan setapak yang kami tempuh itu panjangnya 3 km dan normalnya bisa ditempuh sekitar 45 menit, namun perjalanan kami berbeda, rasa capek menyusuri perbukitan membuat kami ngos - ngosan tapi rasa itu seketika hilang ketika melihat panorama keindahan sambil menghirup udara segar. Tak ayal lama perjalanan kami sekitar 1 jam lebih karena harus menuruni perbukitan sehingga terkadang harus melewati penanjakan yang membuat kami berhenti untuk istirahat. 

Setiap perjalanan itu harus dinikmati, bukan hanya bagaimana mencapai tujuan destinasinya

Foto Bersama Sambil Berjalan Menyusuri Jalan Setapak

Bendungan Aliran Air  Terjun Tirtosari
Air Terjun Tirtosari memiliki ketinggian air terjun sekitar 50 meter, airnya dingin karena lokasinya berada di ketinggian 1200 mdpl. Ada cerita yang berkembang, jika kita membasuh muka dengan air dari air terjun maka bisa membuat kita akan awet muda dan tampak cantik bagi wanita.

Tiba di lokasi air terjun membuat saya sedikit kecewa karena apa yang saya lihat jauh dari harapan. Pemandangan sepanjang jalan masih lebih indah jika dibanding Air Terjun Tirtosari, kenapa saya mengatakan hal itu karena Air Terjun Tirtosari sudah mengalami proses pemugaran dan dibangun jalan bertingkat sehingga terlihat seperti bendungan. Air terjunnya memang bertingkat tapi itu tidak terbentuk secara alami sehingga saya merasa kurang puas. Niat awalnya untuk mandi saya urungkan dan lebih memilih berdiam sejenak dan  mengambil beberapa jepretan lewat kamera. Saya juga lebih memilih menikmati segelas teh dan gorengan di sebuah warung dekat dari lokasi air terjun.

Memilih menikmati keindahan dengan cara saya sendiri karena persepsi keindahan tergantung cara kita menikmatinya.
 
Air Terjun Tirtosari
Pose Wajib #IndonesianHolic
This is Indonesia
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

Pesona Keindahan Telaga Sarangan di Kaki Gunung Lawu

Kunjungan ke Telaga Sarangan merupakan program liburan yang sudah terjadwal dari Instansi Pendidikan dan Pelatihan Cepu, tempat saya mengambil sertifikasi keahlian saat ini. Sebenarnya Telaga Sarangan adalah program liburan yang ketiga semenjak saya berada di Cepu. Sebelumnya kami sudah pernah ke Malang dan Jogja. Keduanya termasuk liburan yang tergolong mewah dan paling penting semuanya gratis. Waktu ke Malang kami menginap di Hotel Sahid Montana dan jalan-jalan ke Jatimpark 2 dan waktu ke Jogja kami menginap di Hotel Grand Zuri terus jalan-jalannya ke Candi Borobudur. hanya sekedar informasi

Entah kenapa setelah diumumkan bahwa kami akan liburan ke Sarangan saya tak begitu tertarik, tempat yang masih awam bagi saya pribadi. Saya juga tak terlalu bersemangat untuk mencari info lebih jelas. Kami hanya diinstruksikan untuk membawa jaket tebal karena cuaca disana sangat dingin.

Biarkanlah ini menjadi liburan yang berbeda dibanding liburan - liburan saya sebelumnya dimana setiap ingin mengunjungi tempat saya biasanya rajin browsing untuk cari info tempat menarik disekitarnya.
Pagi hari kami berangkat meninggalkan Cepu menuju Sarangan. Melintasi Bojonegoro, Ngawi dan Magetan. Setelah meninggalkan kota Magetan, kontur jalan mulai berubah yang tadinya landai menjadi menanjak, cuaca juga mulai berubah menjadi dingin dan gerimis. Pemandangan bukit - bukit berselimut kabut menemani perjalanan kami sampai tiba di sebuah jalan masuk telaga sarangan. Hanya sekitar 2 jam perjalanan untuk tiba di lokasi. 

Tiba di Telaga Sarangan saya sudah melihat hamparan air yang tertutupi kabut sehingga terlihat seperti laut. Lokasinya yang berada di atas gunung yang membuat saya berdecak kagum dan telah membuat saya tertipu karena sudah mengira telaga sarangan adalah laut kesasar di atas gunung. Telaga Sarangan adalah kawasan wisata Kabupaten Magetan, berada di ketinggian 1287 mdpl tepatnya di kaki Gunung Lawu. Memiliki kedalaman sekitar 14 meter dan luas sekitar 3 km. Sebenarnya Telaga Sarangan bukanlah nama sebenarnya melainkan Telaga Pasir tapi memang lebih populer dengan nama Telaga Sarangan.

Telaga Sarangan Mulai Tertutup Kabut
Untuk liburan kali ini kami menginap di Hotel Telaga Mas Internasional, hotel dengan dua lantai dan lokasinya persis berada di depan telaga dan bagian belakangnya adalah perkebunan warga. Hotelnya terbilang berumur tapi fasilitas kamarnya cukup memuaskan. Hawa dingin diluar membuat saya merasa betah dan malas beranjak dari kamar. Hawa yang dingin membuat saya lapar, itu sudah bagian yang tak terpisahkan.

Makanan sudah tersedia di ruang makan tinggal menunggu untuk dilahap, menunya bervariasi dan terlihat segar membuat nafsu makan saya lebih lahap dari biasanya. Sayur mayurnya terlihat lebih segar karena langsung didapatkan dari perkebunan warga yang ada disekitar hotel.

Berkunjung ke telaga sarangan adalah saatnya saya menikmati hari bebas tanpa ada beban, waktu dua hari sudah cukuplah bagi saya untuk menelusuri telaga sarangan dan sekitarnya. Telaga sarangan sudah didesain oleh pemerintah dan masyarakat setempat sebagai tempat wisata. Pengunjung bisa menikmati dengan fasilitas yang sudah tersedia seperti naik kuda Rp. 50.000,-/putaran menelusuri sepanjang pinggiran telaga atau naik speedboat Rp. 50.000,-/tiga putaran mengarungi Telaga Sarangan. Tak hanya itu bagi anda yang suka beli oleh-oleh, pengunjung dengan mudahnya mendapatkan di sepanjang jalan sebelah timur telaga.

Kawasan Pusat Oleh - Oleh Sarangan
Mengarungi  Telaga dengan Speed Boat
Malam pun tiba, dimana sebelumnya dari siang hingga sore kami menhabiskan waktu di tempat outbond. Pemandangan Telaga Sarangan di malam hari begitu indah, deretan villa memantulkan cahaya lampunya ke telaga merupakan sebuah keindahan tersendiri bagi saya. Apa yang terlihat sungguh memanjakan mata saya untuk terus memandanginya. Hawa udara semakin dingin tak menyurutkan langkah saya untuk berjalan menyusuri telaga untuk mencari spot - spot keindahan dari berbagai sudut pandang.

Warung makan mulai  menjajakan jualannya dari tadi sore hingga malam hari. Deretan warung dengan aneka kuliner Sarangan sudah tersedia, tergantung kita mau makan apa. Ada satu hal untuk berbeda, dimana jika anda adalah salah satu penyayang kelinci, saya sarankan jangan berkunjung kesini, kenapa? alasannya setiap warung menyajikan menu sate kelinci dan itu sudah menjadi kuliner khusus di Telaga Sarangan, harga satu porsinya Rp. 10.000,- sudah termasuk dengan lontongnya. Apakah anda tertarik?

View Telaga Sarangan di Malam Hari
Jika pemandangan tadi malam sangat indah, di kala pagi pun tak kalah indahnya. Panorama sunrise dan lautan awan menjadi pemandangan di pagi hari. Saya sudah menunggu indahnya sunrise walaupun sedikit terlambat karena bangunnya telat tapi masih sempat melihat gradasi warna langitnya yang tersusun dari deretan warna hitam, kuning keemasan dan biru mengingatkan saya sunrise di Bromo. Saya memilih duduk balkon belakang kamar karena viewnya langsung menghadap ke arah timur sambil menunggu matahari muncul. Saya melihat lautan awan yang sedikit bercampur kabut perlahan matahari pagi mulai muncul namun perlahan dengan pasti semakin tinggi meninggalkan peraduaanya dan menyapa dunia dengan hangat cahayanya.

View Sunrise dan Lautan awan dari Balkon Belakang Kamar
Panorama Telaga Sarangan di Pagi Hari
Aroma udara pagi hari sangat sejuk, terlihat banyak pengunjung yang jogging dan melakukan aktivitas pagi lainnya. Saya dan tiga orang teman memilih melakukan hal yang berbeda dimana kami berjalan menuju perkebunan warga di atas bukit, sehingga saya bisa melihat dengan jelas landscape Telaga Sarangan, sungguh indah pemandangan pagi itu. Sepertinya tak pernah habis kata untuk mendeskripsikan keindahan telaga sarangan. Saya bersyukur bisa menginjakkan kaki di Telaga Sarangan dan merasakan sendiri keindahannya.

Sebelum menutup tulisan ini yang penuh dengan sanjungan dan pujian, saya juga punya sedikit kritikan untuk para penyedia jasa naik kuda harap memperhatikan air kencing kudanya karena itu sangat mengganggu dengan bau pesin kuda sepanjang jalan. Ada satu lagi, kurang lengkap rasanya jika saya tak melakukan pose wajib di Telaga Sarangan sebagai bukti nahwa saya pernah berkunjung.

Pose Wajib #IndonesianHolic
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

Semarang Trip (part 2) : Catatan Pendakian 10 November Gunung Ungaran

Menikmati senja di Simpang Lima Semarang sambil menikmati semangkok soto semarang, salah satu kuliner kota semarang yang membuat saya sangat lahap. Sore itu, saya menunggu kabar dari sept yang akan mengajak saya ke Gunung Ungaran, seorang yang saya kenal dari group FB Backpacker Semarang. Dia bersama temannya akan muncak di Gunung Ungaran. Gunung Ungaran sendiri memiliki ketinggian 2050 mdpl, terletak di kawasan wisata sidomukti. Awal ke Semarang niat awalnya saya hanya ingin mengitari semarang di malam hari malah berubah haluan naik gunung dan memilih ikut dengan mereka. 

Sept menjemput saya di Taman KB, tak jauh dari kawasan Simpang Lima. Kemudian kami menuju Indomaret untuk membeli cemilan dan minuman untuk bekal, selanjutnya menuju ke STEMBA (STM Pembangunan) Semarang. Disana sudah menunggu beberapa orang yang akan ikut juga bersama kami muncak, ada Septian, Rizky, Dedy, Fitry dan Sept. Sebelum berangkat kami sholat isya di mushollah sekolah. Tepat pukul 20.00 kami berangkat bersama meninggalkan semarang menuju Sidomukti dengan mengendarai motor. 

Perjalanan menuju Sidomukti melewati jalan poros Semarang - Jogja kemudian belok kanan ke arah kawasan wisata Sidomukti. Cuaca dingin Sidomukti mulai terasa dan gemerlap lampu kota semarang sangat indah dan menakjubkan. Saya tak hentinya memperhatikan kelap kelip kota semarang sambil mengendarai motor (jangan ditiru). Kawasan wisata sidomukti juga merupakan tempat favorit para muda-mudi ababil  "cabe cabean" yang berduaan di pinggir jalan. Saya sedikit iseng mengganggu mereka dengan memainkan lampu motor, seketika juga mereka terlihat panik dan berhenti dari aktivitas yang membuat mereka merasa dunia ini sudah milik mereka berdua.(maaf yah, cuma iseng)  

Tak terasa kami sudah berada di gerbang Umbul Sidomukti, kawasan wisata outbond yang sudah sangat terkenal. Sebelum masuk kami harus bayar iuran masuk 3000,-/ motor. Berhubung tujuan kami di pos mawar, maka kami tetap melanjutkan perjalanan. Butuh waktu sekitar 15 menit dari pintu masuk ke pos mawar, pos terakhir atau pos pelaporan sebelum muncak. Kami tiba sekitar pukul 21.30, ternyata malam ini sudah beberapa motor sudah terparkir dan ada banyak orang yang akan muncak malam ini. Saya baru sadar ternyata besok adalah 10 November 2013, makanya banyak orang naik ke Gunung Ungaran untuk merayakan Hari Pahlawan di puncak.

Sekitar pukul 22.00 kami meninggalkan pos mawar. Sebelum berangkat terlebih dahulu kami berdoa bersama agar perjalanan malam ini kami semua diberi kesehatan dan keselamatan, Rezky yang memimpin doa malam itu, seorang yang saya kenal sangat humoris dengan segala kelucuannya. Inilah perjalanan muncak terekstrim yang pernah saya jalani, dimana kami muncak tanpa ada yang bawa tenda, matras, kompor dan nesting, betul - betul perjalanan yang luar biasa. Kami memang niatnya hanya pulang pergi (PP) jadi tak perlu membawa peralatan lengkap, kami hanya membawa perlatan pribadi masing-masing. Ada yang lebih ektrim lagi, diantara kami berenam ternyata belum ada yang pernah naik ke Gunung Ungaran bahkan Dedy dan Fitry ini adalah awal dia mengenal naik gunung. Entah kenapa saya percaya saja dengan kelompok mereka, mungkin karena Rizky, Septian dan Sept sudah pernah ke Gunung Merbabu dan Merapi. Tak perlu khawatir karena jalur Gunung Ungaran sangat jelas dengan tanda - tanda yang sudah dipasang permanent. Ada banyak tanda yang mengarahkan perjalanan kami.

Kami berjalan beriringan sambil bercerita satu sama lainnya dan saya juga mencoba mengenal mereka satu sama lainnya. Sepanjang perjalanan kami diiringi oleh musik dari handphone yang dibawa rizky membuat kami menikmati setiap langkah demi langkah sehingga perjalanan kami tak terasa. Terkadang kami harus saling mengabari jika sudah mulai berjalan berjauhan. Kami juga tak sungkan untuk istirahat jika salah satu kami ada yang lelah. Terkadang banyak pendaki yang terlalu memaksakan berjalan tanpa melihat kondisi timnya atau dirinya sendiri, itulah mengapa kita tak harus malu untuk bilang capek. Bagi saya pribadi, jalur Gunung Ungaran sangat bersahabat untuk para pendaki pemula tapi saya tidak pernah sama sekali meremehkan karena setiap gunung punya cerita dan tantangan sendiri.

Tak terasa kami sudah tiba di desa Promasan, kami istirahat agak lama bahkan saya sempat tertidur sejenak. Berdasarkan lembaran peta yang diberikan di pos mawar, ini masih 1/4 perjalanan. Kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pos bukaan, pos yang berada dikawasan kebun teh. Kami sepakat untuk istirahat di pos bukaan untuk pemulihan tenaga sebelum zummit attack. Perjalanan disini sedikit lebih mudah karena kami hanya mengitari jalan desa.

Sebenarnya selain pos mawar kita juga bisa juga memilih jalur Promasan untuk menuju Gunung Ungaran. Terlihat beberapa tenda di pinggiran kebun teh, saya mengindikasikan bahwa inilah pos bukaan sesuai dengan petunjuk dari peta. Berhubung kami tak bawa tenda, maka untuk malam ini kita hanya istirahat di pinggiran kebun teh dan mendekati api unggun yang telah dinyalakan salah seorang pendaki. 

Sekitar pukul 03.00, sept membangunkan saya dari tidur saya yang lelap walaupun hanya tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Saya memang tergolong orang yang mudah tidur. Sudah waktunya zummit attack, saya mengumpulkan semangat dan tenaga untuk bisa melihat matahari 10 November di puncak Gunung Ungaran. Saya sangat bersemangat karena dengan semangat kita bisa melupakan rasa capek dan mengurangi rasa lelah. Banyak pendaki yang gagal sampai di puncak karena tidak punya semangat. Perjalanan dimulai dengan jalanan yang masih landai mengitari kebun teh, namun selang beberapa menit tiba-tiba hujan pun turun. Saya masih berjalan kedepan dan menghiraukan hujan karena menurut saya ini hanya hujan sementara tapi tenyata Dedy ragu untuk melanjutkan perjalanan, raut muka Fitry pun ragu untuk lanjut. Rizky dan Septian mencoba untuk memahami mereka tapi entah kenapa saya sedikit egois dan mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa ini hanya hujan sementara dan itu sering terjadi area ketinggian seperti ini, Sept mencoba pula meyakinkan mereka dan tanpa ada rasa keraguan dari raut mukanya untuk tetap lanjut. Akhirnya mereka nurut juga untuk lanjutkan perjalanan. Mereka mengeluarkan mantel dari tas mereka masing - masing dan saya hanya bermodalkan jaket. Bagi saya ini tidak jadi masalah asal kami tetap melanjutkan pendakian.

Jalur menajak dan licin menjadi tantangan sendiri bagi kami. Halang rintang kayu yang membuat kami harus merangkak untuk melewatinya. Kami tetap mencoba untuk tidak berjalan berjauhan karena kabut sudah mulai turun juga. Saya teringat perjalananku ke Gunung Bawakaraeng 3 bulan lalu yang tiba di puncak dalam kondisi badai dan berkabut, apakah kali ini saya akan merasakan hal yang sama. Saya tak menghiraukan itu, puncak adalah tujuan tapi langkah menuju puncak adalah segalanya, itulah pemikiran saya saat itu. Berjalanlah karena rahasia tuhan kita tidak pernah tahu. Kami tetap berjalan menembus kabut dan melawan waktu yang sedikit lagi matahari akan terbit. Saya sudah tak berharap banyak untuk tiba di puncak sebelum matahari terbit, tapi tuhan berkata lain kami tiba di pra puncak dengan penuh harapan. Awan hitam yang menutupi sang mentari kini mulai bergeser membiarkan cahaya matahari menyapa kami dengan kehangatannya. Sungguh terharu bisa menyaksikan matahari pagi ini, kami bersuka cita menyambutnya. Wajah lelah diantara kami terbayarkan juga.

Matahari Pagi 10 November 2013
Menyapa Keindahan Indonesia
Kami bersuka cita dengan pencapaian kami dan mengapresiasi segala usaha dan kerja keras kami hingga bisa berada di titik ini. Kami sempatkan beribadah kepada sang khalik dengan menunaikan sholat subuh berjamaah. Selanjutnya kami beristirahat sejenak sambil menikmati logistik yang kami bawa, kami berbagi dengan lainnya. Cerita perjalanan dari tadi malam masih terbersit di pikiran kami masing-masing.

Kami tersadar bahwa kami masih berada di pra puncak, itu artinya kami harus lanjutkan perjalanan lagi. Para pendaki  yang lain mulai berdatangan dan mendahului kami. Setelah kami merasa cukup lama istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Puncak Gunung Ungaran sudah terlihat, semangat kami semakin bertambah pula. Jalur kali agak menanjak lagi tapi lebih mudah karena matahari sudah menerangi langkah kami.


Jalur Menuju Puncak
Akhirnya kami tiba di puncak Gunung Ungaran yang mana memiliki ketinggian 2050 mdpl. Beberapa pendaki sudah memenuhi puncak. Puncaknya sendiri memiliki tanah yang landai dan terdapat tugu yang di bangun oleh militer setempat dan terdapat pula sebuah tiang berdiri kokoh mengenggam bendera merah putih.

Inilah akhir dari perjalanan dengan menapaki jejak - jejak sejarah para pahlwan yang telah mendahului, dengan mengorbankan jiwa raganya demi merah putih. Setelah istirahat sejenak kami yang sudah tergabung dari beberapa kelompok pendaki  dan akan melakukan upacara bendera hari pahlawan dengan dipimpin oleh seorang pemuda yang kami percayakan. Ada ratusan orang memberi hormat dan melantunkan Indonesia raya. saya terharu, bergetar dan merinding mendegar dentuman suara teman-teman, ini upacara terkhitmat yang pernah saya ikuti walaupun tanpa susunan konsep tapi kami sangat merasakan aura nasionalime upacara kali ini. Setelah Indonesia raya, dilanjutkan lagu padamu negeri, dan ditutup lagu syukur. Saya merasakan betul arti sebuah perjuangan walaupun masa kami tidak melawan penjajah tapi kami melawan bangsa kami sendiri. Semoga kami dapat mengambil pesan dari pendakian ini agar jiwa nasionalisme semakin membara dan tak akan lekang oleh waktu dan zaman.

Upacara Hari Pahlawan 10 November
Hormatku untuk Pejuang Indonesia
Jempol untuk Indonesia dengan background Gunung Merbabu
Setelah tujuan kami tercapai kami pun turun kembali menuju pos mawar. Perjalanan turun lebih cepat tapi tak semudah yang dibayangkan. Saya harus menahan kaki agar tak tergelincir turun. Untuk sampai di pos mawar, perjalanan sekitar 3 jam itupun sudah jalan sedikit lambat karena kami berlama - lama menikmati udara pagi di kebun teh promasan .

Sebelum menutup catatan perjalan saya, tak lupa saya ucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan dan keselamatan kepada kami selama pendakian. Terima kasih pula untuk teman muncak saya, kalian semua luar biasa. Semoga bisa mencapai puncak yang lain di lain kesempatan.

Best Travelmate Gunung Ungaran 2050 mdpl
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com


Semarang (part 1) : Jalan Sendiri Keliling Kota Semarang

Perjalanan ke Semarang merupakan catatan perjalanan pertama kali dengan solo trip atau liburan seorang diri. Tentunya saya harus lebih berani dibanding jika liburan bersama teman. Banyak hal yang harus dipersiapkan mulai dari itinerary, fisik, mental dan tentunya isi dompet. Saya harus lebih madiri dan bijak dalam menghadapi masalah. Sebenarnya travelmate sangat ngebantu banget buat saya yang punya sifat teledor dan pelupa, contohnya beberapa kali saya harus diingatkan jika HP saya terkadang salah simpan dan membuat mereka panik. Mungkin mereka yang sering ngetrip bareng sama saya akan mengerti. Anyway, tapi inilah saatnya saya buktikan ke mereka kalau saya sudah tidak teledor dan pelupa.

Sabtu, 09 November 2013
Kereta Blora Jaya AC dengan pemberangkatan pukul 04.40 WIB mengantarkan saya ke Semarang dengan harga tiket 28.000,-. Perjalanan pun dimulai dimana saya hanya ditemani tas daypack dan tas kecil berisi kamera. Memilih duduk didepan seorang ibu yang ditemani oleh suaminya dimana tangannya saling merangkul sedangkan saya hanya duduk sendiri, sungguh kasian nasibku. Di luar sana masih gelap dan kondisi saya masih mengantuk, mungkin sebaiknya saya istirahat dulu mengingat perjalanan masih panjang.

Matahari pagi memancarkan kehangatnnya dan menyilaukan mata saya, yang masih tertidur pulas dengan kondisi memeluk tas. Perjalanan sudah 1 jam meninggalkan kota Cepu, jika dari jadwal kereta dimana akan tiba di Stasiun Poncol semarang pukul 09.00 pagi. Saya kembali tertidur dan berharap ketika saya bangun sudah tiba di Semarang. 

Setelah beberapa Stasiun yang terlewati  kini mulai memasuki kota Semarang. Kereta yang tadinya melaju kencang kini mulai melambat. Sebenarnya di Semarang ada 2 Stasiun tapi saya memilih turun di Stasiun poncol karena lokasinya yang berdekatan dengan tujuan pertama saya.

Selamat Pagi Semarang
Alhamdulillah setelah melewati 4 jam perjalanan di atas kereta akhirnya tiba juga di tujuan akhir. Ketika tiba  saya langsung mencari toilet, karena kebiasaan di pagi hari. Toiletnya bersih dan harum. Setelah rutinitas wajib terselesaikan saya cuci muka dulu karena sepanjang perjalanan saya hanya tertidur.
Tujuan pertama adalah Kota Lama Semarang, menurut informasi yang saya dapatkan dari mbah google, jika Kota Lama merupakan kota pertama dari semarang,  pada saat Belanda masih menguasai negeri kita seperti Kota Tua di Jakarta. Ada beberapa bangunan yang sudah berwajah usang tetapi masih dipertahankan agar nilai-nilai sejarah masih bisa kita lihat. Sebenarnya Semarang adalah kota yang penuh dengan sejarah jadi kebanyakan tempat yang akan saya kunjungi  adalah tempat-tempat bersejarah.

Sebelum ngebolang dimulai, saya sarapan dulu di warung di depan stasiun tepat di samping gedung Pabrik Rokok Praoe Lajar. Saya memesan nasi campur dengan porsi lebih banyak seharga 9.000 menjadi sumber energi saya untuk hari ini. 

KOTA LAMA SEMARANG
Jangan membayangkan Kota Lama seperti Kota Tua di Jakarta, tak ada tanda-tanda kalau tempat saya sekarang ini adalah kawasan kota lama. Saya hanya berjalan lurus dan menyusuri jalan, tujuan saya adalah Gereja Blenduk. Ya, disini baru mulai terasa karena disampingnya ada taman dan terlihat beberapa orang yang sedang asyik bercengkrama dan sesekali mengambil gambar.

Gereja Blenduk yang berasitektur Eropa
Sebuah Gereja dengan arsitektur Eropa dan beberapa gedung disampingnya juga terlihat tua. Mencoba menikmati perjalananku dengan  mengangap orang yang saya temui adalah teman. saya dapat informasi kalau di sini ada beberapa gedung tua yang sering dijadikan sebagai objek oleh seorang photographer. Memutar balik arah dan menyusuri jalan beraspal dan menjepret setiap sudut gedung. Kurangnya informasi yang saya dapatkan membuat saya tak lama berada di tempat ini. Semoga pemerintah setempat khususnya bagian pariwisata bisa lebih memperhatikan Kota Lama yang menurutku punya potensi wisata jika dikelola dengan baik

Pabrik Rokok Praoe Lajar (Perahu Layar)
Gedung Marba
Kota Lama Semarang
LAWANG SEWU
Perjalanan dilanjutkan ke destinasi selanjutnya, tujuan saya Lawang Sewu. Sebelum berangkat saya selalu sempatkan bertanya untuk dapatkan info yang lebih jelas, dari ibu warung saya dapat info bahwa untuk menuju Lawang Sewu cukup naik bus dan turun di perempatan lampu merah dekat tugu pemuda. 

Lawang Sewu
Lawang sewu adalah salah satu tujuan wisata utama jika berkunjung ke Semarang. Lawang artinya pintu dan Sewu artinya seribu, jadi lawang sewu adalah seribu pintu. Gedung yang penuh dengan sejarah dan cerita mistis. Tiket masuk 10.000,-/orang untuk orang dewasa, dari pos tiket berjalanlah ke arah kanan atau jalur masuk menuju halaman gedung. Ada beberapa gedung dengan label masing-masing, terlihat jelas Lawang Sewu memiliki banyak pintu tetapi jika diperhatikan tidak semuanya pintu melainkan jendela, dan ternyata pintunya tidak cukup1000 tapi memang ada ratusan sih, dicukupkan saja!

Beberap pemandu menawarkan jasanya jika anda membutuhkan informasi lebih detail dengan tempat ini. Pemandu dengan baju batik seragam banyak kita jumpai di halaman gedungdibawah pohon mangga besar. Berhubung saya sendiri, makanya saya harus mencari rombongan untuk bisa share cost. Sambil menunggu, saya mengambil beberapa gambar karena cuaca sangat bersahabat terlihat langit yang membiru dengan balutan awan yang memutih yang membuat saya betah mengambil gambar.

Gedung Lawang Sewu
Beberapa rombongan pun mulai berdatangan tetapi saya masih memilih-milih. Diantara beberapa rombongan, ada 1 rombongan yang terlihat lebih ramah dibanding yang lain. Ada 5 orang yang ternyata mereka dari jakarta, saya pun ikut dengan mereka menyusuri setiap sisi gedung.  Gedungnya ada 3 lantai tetapi ada juga lantai paling  atas, yang katanya dulu dijadikan sebagai tempat penyimpanan bahan pangan dan tempat untuk pos pemantau. Selain itu ada juga ruang bawah tanahnya yang dijadikan sebagai ruang tahanan. Diantara semua lantai, ruang bawah tanah lah yang sangat istimewa tetapi tidak semua orang bisa berkunjung kesana, hanya orang-orang yang berani dan bernyali. 

Ruang bawah tanah lawang sewu yang penuh dengan cerita mistis, dimana  pernah dijadikan sebagai tempat uji nyali di salah satu TV swasta. Konon ceritanya, orang yang ikut uji nyali tersebut mengalami sakit jiwa dan selalu merasa diikuti, dari kejadian itulah kemudian tempat ini dilarang dijadikan sabagai tempat uji nyali.

Jika anda tertarik turun, pengunjung harus membayar lagi 20.000,-/orang untuk penyewaan sepatu boot dan senter. Saya mengiyakan saja ketika pemandu menawarkan untuk turun ke ruang bawah tanah. Sebelum turun kita harus bersihkan niat kalau kunjungan kita hanya untuk melihat bekas-bekas sejarah bukan untuk niat yang lain.

Sebuah tangga kayu menghubungkan kami ke ruang bawah tanah. tempatnya gelap, pengap dan lantainya berair. tak ada titik cahaya yang terlihat ketika kami tiba karena memang sengaja semua alat penerang dimatikan untuk merasakan bagaimana suasana sebenaranya tempat ini. Oiya, ruang bawah tanah ini dulunya dijadikan sebagai tahanan untuk orang-orang pribumi oleh penjajah. Ada banyak sekat-sekat ruangan dan ada juga seperti kolam, konon ceritanya di dalam ruangan yang terdapat kolam dijadikan sebagai penjara jongkok, dimana kolam diisi air kemudian para tahanan dimasukkan kedalam sampai meninggal. Sungguh keji dan kejam.

Ada lagi yang lebih kejam, dimana terdapat sebuah sekat ukuran kecil, namanya penjara berdiri. Para tahanan dimasukkan kedalam hingga sesak kemudin pintunya ditutup dan dibiarkan sampai mereka meninggal. Terbayang gak jika ruangan itu muatnya untuk 5 orang tetapi diisi oleh 10 orang terus pintunya ditutup dan kita didalam mati berdesak-desakan. Itulah yang dirasakan para tahanan dulu. Terdapat juga beberapa ruangan yang sudah ditutup dengan beton, konon ceritanya tempat ini sengaja ditutup permanent karena didalam masih tersimpan bangkai para tahanan.
Jejak sejarah masa lalu di ruangan bawah tanah ini sungguh tidak berperikemanusian, sungguh beruntunglah bagi kita yang hidup di zaman modern ini. sebelum meninggalkan, kukirimkan doa untuk mereka yang meninggal ditempat ini dan berharap mereka diberikan tempat yang terbaik disisi sang pencipta.

Penjara Berdiri
Rombonganku di tempat lokasi uji nyali
Sebelum meninggalkan Lawang sewu, saya sholat dzuhur dulu di musholla yang berada di sudut gedung. Destinasi selanjutnya ke Vihara Sam poo kong. Setelah sholat saya bertemu seorang pemandu wanita, dia sarankan untuk ke MAJT terlebih dahulu karena akses transportasi lebih mudah dibanding ke Sam Poo Kong. Itinerary pun saya berubah dan saya mengikuti sarannya.

MESJID AGUNG JAWA TENGAH (MAJT)
Cuaca Semarang yang panas, membuat saya dehidrasi. Terlihat indomaret di seberang jalan kemudian saya memilih 2 botol pulpy. Istirahat dulu sambil menikmati setiap tegukan pulpy sambil menanyakan jenis angkot yang menuju MAJT. Untuk menuju Mesjid Agung Jawa Tengah, saya harus naik angkot warna merah kemudian turun di Lottemart. Kemudian lanjut lagi naik becak karena angkot agak susah untuk jalur masuk ke MAJT.

Tampak Mesjid Agung Jawa Tengah dari Menara Putar.
Mesjid Agung Jawa Tengah adalah mesjid terbesar di Semarang dan menjadi kebanggaan kota Semarang. Mesjid perpaduan arsitektur Jawa, Arab dan Romawi. Setiap sisi mesjid memiliki arti dan maksud sendiri. Apa saja mari kita simak penjelasannya dari informasi saya dapatkan.

Dibagian depan sebelum masuk kita akan melihat 9 air mancur yang menandakan 9 wali songo, Sembilan orang wali yang menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Lanjut lagi ada 5 air mancur yang menandakan Lima rukun islam. Menara putar yang tingginya 9.9 meter yang menandakan 99 Asmaul Husna. Setelah kita berjalan mendekati mesjid kita akan melihat bangunan  melingkar mempunyai 25 pilar yang menandakan 25 Nabi/Rasul. Bangunan ini menyerupai coloseum Roma. Tak cukup sampai disini, Terdapat 6 buah payung raksasa yang  menyerupai payung yang ada di Mesjid Nabawi di Arab. Jika mesjid ini sudah bernuasa Arab dan Roma tetapi ciri khas mesjid Jawa tak tetap dipertahankan terlihat dari adanya kubah bersusun menyerupai Mesjid Demak dan Mesjid Kudus.

Sungguh berutung rasanya saya bisa berkunjung. Tak ayal saya tak menyia-nyiakan kedatanganku, saya memilih naik di menara putar lebih dulu dimana dari atas kita bisa melihat Mesji Agung Jawa Tengah dari atas dan tentunya Kota Semarang. Sebelum naik kita membeli tiket masuk 5.000,-/orang kemudian naik lewat scalator. Selang beberapa menit saya sudah berada di lantai paling atas. Hembusan angin sangat terasa karena hanya dibatasi trali besi yang sengaja dibuka sehingga angin bisa leluasa masuk.

Ada banyak pengunjung sudah berada diatas. Terdapat juga teropong yang bisa digunakan untuk melihat Kota Semarang dari dekat, tentunya harus dimasukkan koin pecahan 1000 sebelum digunakan. Saya memilih selojoran dan sempat tertidur juga, namun berhubung waktu sholat ashar sebentar lagi, saya pun turun menuju mesjid. Oiya sebelum turun saya sempatkan dulu berkunjung ke museum yang ada di lantai 3 dan 4. Sejarah Islam di tanah jawa dan proses pembangunan mesjid bisa kita dapatkan disini.

Dibalik kemegahan Mesjid Agung Jawa Tengah, ternyata punya kekurangan juga dari segi kebersihan. Tempat wudhu dan toilet yang pengap dan sedikit berbau tampaknya kurang diperhatikan, terlebih lagi ketika saya hendak berwudhu air yang keluar dari kerang warnanya sangat keruh. Saya sangat tidak nyaman dengan kondisi seperti ini. Jawaban yang saya dapatkan dari salah satu petugas bahwa kurangnya air karena  musim kemarau. Apapun alasannya, semoga ini bisa lebih diperhatikan untuk kenyamanan jemaah.

Halaman Mesjid dengan payung raksasa
Bangunan Pilar yang menyerupai Coloseum Roma

Koleksi Al Qur'an dengan Ukuran 145 cm dan 95 cm

Eksis dulu sebagai bukti kunjunganku

SIMPANG LIMA SEMARANG
Sebenaranya tujuan awal saya ke Sam Poo Kong tetapi jadwal kunjungan disana hanya sampai jam 3 sore, maka dengan berat hati saya tak bisa kesana. Hari sudah mulai sore, saya lebih memilih turun di kawasan Simpang Lima Semarang.

Simpang Lima Semarang merupakan pusat ibukota semarang, memang benar kalau disini terdapat 5 persimpangan. Terdapat juga lapangan besar dengan pasilitas olahraga untuk warga Semarang atau lebih dikenal dengan alun alun. Sepanjang jalan ada banyak warung kuliner dan juga terdapat mall. 
Sore hari di Simpang Lima sangat ramai dikunjungi oleh beberapa pengunjung, banyak aktivitas yang bisa dilakukan disini seperti naik sepeda, Atv, olahraga dan kegiatan lainnya.

Menikmati senja hari dengan wisata kuliner kota semarang. Datang ke suatu tempat tanpa menikmati kuliner khas adalah sesuatu hal yang wajib. Pilihannya pun jatuh ke soto semarang, sotonya agak mirip soto lamongan dimana nasinya sudah dicampur kedalam. Makanku sangat lahap hingga soto semarang hanya hitungan menit sudah habis. Seperti kata pak bondang, Manyooosss. wuenak tenang.

Simpang Lima di kala senja
Hidangan 1 porsi Soto Semarang
Pengeluaran Hari Pertama
  • Tiket Kereta                                                : Rp. 28.000,-
  • Nasi Campur                                               : Rp. 10.000,-
  • Bus Kota lama - Lawang Sewu                    : Rp.  4.000,-
  • Tiket Lawang Sewu                                      : Rp. 10.000,-
  • Penyewaan Sepatu + Guide                          : Rp. 30.000,-
  • Pulpy 2 botol + Roti                                     : Rp.15.000,-
  • Angkot Lawang Sewu -  MAJT                    : Rp.14 .000,-
  • Tiket Menara Putar                                       : Rp.  5.000,-
  • Angkot MAJT - Simpang Lima                     : Rp. 14.000
  • Soto Semarang                                             : Rp. 10.000,- 
  • TOTAL                                                       : Rp. 140.000,-

Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com