Showing posts with label Sulawesi. Show all posts

Destinasi Wisata Anti Mainstream di Maros

Saya tertarik dengan kata Mainstream yang lagi populer saat ini untuk para kalangan anak muda. Jika ngomongin tentang kata tersebut, kaum traveler pun meyakini adanya kata Mainstream, lantas apa sih itu yang dimaksud? Main artinya utama dan Stream artinya arus, jika digabungkan artinya arus utama. Arus utama jika disederhanakan memiliki arti sebagai kebiasaan utama atau perilaku umum. Masih mau lebih disederhanakan lagi? Jika dihubungkan dengan dengan traveler, hal-hal yang sering orang lakukan dan kunjungi sebagai acuan  untuk juga melakukan hal tersebut. Sebagai contoh, Jika sebagian orang berkunjung ke Makassar, kurang lengkap rasanya jika tidak datang ke Pantai Losari serta tidak lupa abadikan moment berfoto di depan tulisan Pantai Losari. Can you ever do that? Tidak ada yang salah, intinya mau itu Mainstream atau Anti mainstream tergantung cara kamu menikmatinya. 

Berawal dari ajakan Enda, kawan saya dari Makassar Backpacker mengajak saya dan beberapa teman lain mengeksplore destinasi wisata yang ada di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Tujuan utama kami adalah mengunjungi sebuah Bukit dan Susur Gua. Kabupaten Maros memang memiliki banyak gua-gua diantara pegunungan karst. Destinasi wisata Air Terjun Bantimurung, Taman Purbakala Leang-Leang dan Rammang-Rammang. Ketiganya merupakan destinasi wisata yang sering banget orang kunjungi atau sudah mainstream. Apalagi Rammang-Rammang, destinasi wisata yang lagi puncak populernya dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Saya tidak akan menuliskan ketiga tempat tersebut karena bagi saya itu sudah mainstream, maka dari itu saya akan rekomendasikan 4 destinasi wisata anti mainstream di Kabupeten Maros. Ada apa aja? Mari bahas satu-satu.

BUKIT TELETUBBIES MAROS


Rasa penasaran membawa kami mengunjungi Bukit Teletubbies Maros yang terletak di Jalan Poros Camba-Maros. Kami berangkat hanya bermodalkan nekat tanpa alamat yang jelas. Sepanjang perjalanan entah berapakali singgah untuk menanyakan tempat ini, namun bukan jawaban yang tepat yang kami dapatkan tetapi muka kebingungan dan hanya geleng-geleng kepala. Tempat ini memang tidak begitu populer apalagi dengan namanya yang membuat penduduk lokal tidak percaya kalau Bukit Teletubbies itu ada di sini.

Gundukan bukitnya tidak sebanyak bukit teletubbies yang ada di Bromo tapi keindahan tempat ini punya arti sendiri. Udara pegunungannya terasa sekali, pemandangan pegunungan dari kejauhan yang sesekali ditutup awan. Tempat ini cocok untuk camping bersama teman atau pasangan dan atau sekedar foto-foto kemudian upload di instagram kamu.

So, jika berkunjung ke Maros sempatkalah datang ke Bukit Teletubbies, tempat ini juga cocok buat yang lagi galau, yakinlah kamu akan menemukan banyak inspirasi di tempat ini.

Pegunungan dengan selimut awannya
Tiduran ala-ala syahrini tapi ini lebih eleghant

Lokasi:
Jalan Poros Camba-Maros
Dusun Rebbo, Desa Bengo
Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros

HUTAN PINUS BENGO-BENGO


Tidak jauh dari Bukit Teletubbies terdapat sebuah hutan pinus, namanya Hutan pendidikan Bengo-Bengo Universitas Hasanuddin. Tempat ini menawarkan kesejukan apalagi dengan pohon pinusnya yang menjulang tinggi. Tak hanya itu, tempat ini juga memiliki camping ground area lengkap dengan beberapa arena outbound.

Menemukan tempat ini tidaklah terlalu sulit karena memang sudah dikenal cuma lokasinya agak masuk ke dalam melewat beberapa rumah warga. Sebelum masuk terdapat sebuah pos namun satpamnya jarang tinggal disana. Jika hanya ingin berkunjung sebentar dan sekedar foto-fot saja, tidaklah perlu harus melapor.

Hutan Pinus Bengo-Bengo juga menyediakan beberapa fasilitas guest house dan gedung pertemuan. Menggunakan beberapa fasilitas disini diharuskan melakukan registrasi atau mengirim surat ke pengelolanya. Tempat ini sering dijadikan ajang kaderisasi mahasiswa utamanya dari kampus Universitas Hasanuddin.

Pohon Pinus Menjulang Tinggi

Lokasi:
Jalan Poros Camba-Maros
Desa Bengo
Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros

TEBING TAK BERNAMA


Saya menghentikan laju motor ketika melihat sesuatu yang beda disisi kiri jalan dalam perjalanan pulang dari Hutan Bengo-Bengo. Rasa penasaran membawa saya untuk menelusurinya lebih dalam walaupun ada rasa keraguan sampai ke ujungnya. Sebenarnya tempat ini bukanlah tujuan dari daftar destinasi yang kami rencanakan. Sebuah lorong yang ujungnya entah kemana yang diapit oleh dua buah tebing yang  menjulang tinggi seakan membuat sekat dan sisinya ditumbuhi oleh beberapa pohon dan tumbuhan menjalar.

Saya menyebutnya Tebing Tak Bernama, karena memang tak punya nama. Tempat ini juga sepertinya tidak pernah ada yang menelusuri sebelumnya. Terlihat dari pinggir jalan, untuk sampai ke bawah dasarnya kami harus menuruni dan melewati sebuah gundukan sampah.

Tempat ini  tidak saya rekomendasikan, tapi bagi yang punya jiwa adventure kamu bisa menyelusurinya lebih ke dalam lagi.

Dinding tebingnya menyerupai bebatuan karst
Terlihat ujungnya sebuah cahaya, kami cukup sampai disini.

Lokasi:
Jalan Poros Camba "Sisi kiri jalan berkelok"
Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros



GUA ANJING TADDEANG


Perjalanan kami terhenti di kawasan Taddeang tepat di depan Masjid Taddeang. Tidak jauh dari tempat kami berhenti ada sebuah gua yang akan kami susur siang itu, namanya Gua Anjing. Walaupun nama guanya agak sedikit menakutkan tapi keindahan stalaktik dan staklakmiknya tidak usah diragukan. Yah, orang sekitar gua ini mengenalnya dengan nama itu. Dulunya gua ini ditemukan oleh seorang warga yang mencari anjingnya dan ternyata anjingnya bersembunyi di dalam gua.

Gua Anjing Taddeang memiliki dua lubang masuk, dengan ukuran yang berbeda. Lubang yang pertama memiliki ukuran yang besar sehingga kami masuk lewat disini sedangkan lubang yang kedua hanya bisa dileawati dengan merangkap, kami keluarnya lewat lubang ini. Panjang guanya sekitar 400 meter, ini gua paling panjang yang pernah saya masuki dibading Gua Bawaleang, Londa di Toraja dan Gua Kelelawar. Jika biasanya gua identik dengan udara yang terbatas tapi di Gua Anjing ini saya tidak merasakan sesak sama sekali.

Lubang Masuk dengan ukuran lebih besar
Dengan peralatan seadanya kami masuk dengan headlamp masing-masing, tanpa senter kami tak bisa melihat apapun karena memang sumber cahaya cuma ada di lubang saat kami masuk. Semakin menyusur kedalam kami menemukan beberapa kolam air yang tenang. Saya merasa takjub akan apa yang saya lihat pada saat itu, banyak spot-spot keren dengan bentuk yang berbeda-beda. Ujung dari Gua Anjing terdapat sebuah kolam yang dipenuhi dengan air, lagi-lagi kami tidak berani turun menyelaminya lebih dalam tanpa peralatan yang lengkap dan orang yang sudah paham dengan gua ini.


Airnya cuma seukuran lutut, masih ada lagi yang lebih dalam
Sebuah Kolam berada di Ujung Gua, Mentok!!
 Lokasi:
Dusun Ta'Deang, Desa Samanggi
Kecamatan Simbang
Kabupaten Maros

So, Tertarik untuk mengunjungi keempat destinasi wisata anti mainstream yang sudah saya kunjungi? saya ulangi kembali, Tidak ada yang salah, intinya mau itu Mainstream atau Anti mainstream tergantung cara kita menikmatinya kawan!!!.



10 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Liburan di Makassar

Apa sih yang kamu ketahui tentang Kota Makassar, tentu tidak hanya Pantai Losari dan Coto Makassar nya. Kalau cuma itu yang kamu ketahui, berarti kamu harus cepat-cepat datang ke Makassar. Makassar merupakan salah satu kota dari lima kota besar di Indonesia dari Medan, Jakarta, Surabaya, Bandung dan tentunya Makassar. Tak hanya itu, Kota Makassar merupakan gerbang dari Indonesia bagian timur, dengan adanya Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai tempat transit sebelum melancong ke Manado, Maluku dan Papua. So, jika kamu mau liburan ke Raja Ampat di Papua atau liburan ke Pantai Ora di Ambon, kamu mesti transit dulu di Makassar walaupun sekarang sudah ada juga sih penerbangan langsung.

Ada banyak yang kamu bisa nikmati jika liburan di Makassaar, mulai dari wisata kuliner, wisata belanja, wisata sejarah, wisata alam, wisata budaya dan wisata pantai. Semuanya lengkap deh, tergantung kamu mau pilih menikmati liburanmu dengan cara yang bagaimana. Tidak hanya itu, kamu tidak perlu takut kesasar atau tersesat karena kota Makassar sudah tersistematis dari segi transportasi mulai dari angkutan umum seperti taxi, pete' - pete', becak dan lainnya. Bahkan, saat ini sudah terdapat busway dengan nama Trans Mamminsata walupun masih belum terlalu maksimal seperti busway TransJakarta tapi setidaknya kota Makassar sudah selangkah lebih maju memikirkan tentang transportasi massal.

Jika sudah punya rencana akan liburan ke Makassar tapi bingung mau ngapain dan tempat menarik apa yang bisa dikunjungi atau dinikmati. Baiklah, saya akan menuliskan 10 Hal Yang Bisa Kamu Lakukan Ketika Liburan di Makassar. So, Ayo berkunjung ke Makassar


1. Abadikan moment dengan berfoto di depan tulisan Pantai Losari 


Pantai Losari merupakan salah satu landmark Kota Makassar, tempat ini memang paling wajib kamu kunjungi. Ikon kota Makassar ini sudah tidak asing lagi bagi orang Makassar dan sekitarnya. Pantai Losari terletak di sebelah barat kota Makassar, lebih tepatnya di jalan penghibur. Pantai Losari memiliki keunikan dimana dari tempat ini kamu bisa menyaksikan sunrise dan sunset dari posisi yang sama, walaupun menyaksikan matahari terbit tidak seindah menyaksikan matahari terbenam karena sebelah timurnya sudah terlalu banyak hotel yang menjulang tinggi yang menghalangi cahaya matahari pada saat terbit.

Pantai Losari terbuka setiap waktu selama 24 jam tapi paling ramai di saat jam 4 sore hingga jam 9 malam. Pantai Losari juga dapat dinikmati tanpa pungutan biaya alias gratis. Jika kamu ingin mengabadikan moment dengan berfoto di depan Pantai Losari, saya sarankan datanglah di pagi hari sehingga kamu leluasa berekspresi tanpa gangguan orang lain.

2. Menikmat Kuliner Coto Makassar


Makassar merupakan surganya kota kuliner, ada banyak kuliner yang siap memanjakan kamu dengan cita rasanya mulai dari kuliner pinggir jalan hingga kuliner yang tersedia di cafe-cafe. Kuliner Makassar paling terkenal tentunya Coto Makassar, kurang lengkap rasanya jika kamu tidak mencicipi makanan khas kota daeng ini yang terbuat dari jeroan dan daging sapi yang dihidangkan dengan kuah yang khas penuh dengan cita rasa rempah-rempah. Coto Makassar dihidangkan dalam mangkok kecil dan ketupat sebagai pasangannya.

Coto Makassar tersebar di setiap sudut kota Makassar, namanya pun sesuai dengan lokasinya seperti Coto Nusantara di Jalan Nusantara, Coto Gagak di Jalan Gagak, Coto Petarani di Jalan Pettarani. Garring Coto atau deman karena belum makan coto, sebegitu kuatnya pengaruh makanan ini terhadap orang-orang Makassar. Begitupun saya sendiri, Coto Makassar adalah salah satu makanan favorit dintara kuliner makassar lainnya. Jika kamu datang ke Makassar, saya sarankan kamu mencobanya di Coto Nusantara, Coto Maros, Coto Gagak dan Coto Paraikatte. Keempat tempat itu adalah tempat makan coto favorit saya.

3. Mengunjungi Sisa Peninggalan Sejarah Di Fort Roterdam


Fort Roterdam salah satu destinasi wisata yang wajib kamu kunjungi. Fort Roterdam adalah benteng peninggalan Kerajaan Gowa - Tallo. Masyarakat dulu mengenalnya benteng pannyua (penyu) dengan filosofi kekuatan perang bisa berjaya di darat dan di lautan. Peningalan sisa bangunan penjajah Belanda menjadi ciri khas di tempat ini, kamu akan merasa seperti di Belanda. Tak hanya itu, kamu juga bisa melihat tempat pengasingan atau tahanan  Sultan Pangeran Dipenogoro yang berada di sisi kanan pintu masuk. Ada juga Museum La Galigo, kamu bisa melihat sejarah Bugis- Makassar disini dari segi budaya, alat perang dan lainnya.

4. Mengunjungi Replika Rumah Adat Di Benteng Somba Opu


Jika Jakarta punya Taman Mini Indonesia Indah yang memparadekan semua rumah adat tiap provinsi, tak mau kalah, Sulawesi Selatan juga punya Benteng Somba Opu yang juga parade rumah adat tiap kabupaten. Rumah adat Bugis, Toraja, Makassar, dan Mandar semunya ada disini. Rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan kombinasi bambu menjadi ciri khas rumah di Sulawesi Selatan. Tak hanya itu, jika kamu tidak sempat berkunjung ke Toraja, kamu bisa datang kesini melihat secara langsung rumah adat Tongkonan. 

5. Menikmati Es Teler Kuburan Panaikang


Cuaca panas Kota Makassar paling enak menikmati segelas es teler. Tempat menikmati es teler paling saya rekomendasikan adalah Es Teler Kuburan. Lokasinya berada di Jalan Urip Sumoharjo tepat di depan Taman makam Pahlawan. Tempatnya bukan di cafe melainkan hanya di pinggir jalan. Tempatnya boleh di pinggir jalan tapi rasanya boleh diadu terbukti tempat ini selalu ramai. Cita rasa tinggi dan soal harga pun sangat bersahabat untuk semua kantong. Segelasnya dihargai 7K ditambah suasana teduh di bawah pohon kenari yang menjulang tinggi wajib anda rasakan.

6. Mengunjungi Masjid Terbesar Di Makassar


Masjid Al Markas Al islami merupakan masjid terbesar di kota Makassar. Masjid ini dibangun tahun 1974 oleh seorang Jendral M.Jusuf, mantan panglima ABRI dari Makassar sebagai bentuk niatya mengembangkan peradaban islam di Indonesia bagian timur. Jika kamu perhatikan, masjid ini tidak memiliki kubah seperti masjid pada umumnya tapi berbentuk segiempat seperti atap rumah ada suku Bugis-Makassar dan juga mirip seperti Masjid Katangka, Masjid tertua di di Sulawesi Selatan.

7. Mengunjungi Trans Studio Makassar


Selain Pantai Losari sebagai Landmark kota Makassar, kini hadir Trans Studio Makassar sebagai  ikon baru kota Makassar. Trans Studio merupakan theme park terbesar ke dua di Indonesia setelah Trans Studio Bandung. Trans Studio Makassar terletak di Jalan Kawasan Tanjung Bunga. Ada banyak wahana yang bisa menguji adrenalin kamu dan tentunya tempat ini juga sangat cocok untuk liburan bersama keluarga. Semua kelompok umur memiliki wahana permainan tersendiri. Dengan membayar 100K, kamu sudah bisa menikmati semua wahana yang ada. 

8. Menikmati indahnya Pulau Kodingareng Keke



Pulau tak berpenghuni yang ditempuh sekitar 1.5 jam dari Pelabuhan Kayu Bangkoa Makassar ini memiliki keindahan yang luar biasa. Gradasi warna air lautnya, pasir putih dan alam bawah lautnya yang membuat kamu tidak mau meninggalkan tempat ini. Pantai Kodingareng Keke merupakan satu dari pulau dari gugusan Kepulauan Spermonde.

9. Menikmati Matahari Terbenam Di Pantai Losari


Tidak bisa dipungkiri keindahan Sunset dari Pantai Losari. Tempat ini selalu ramai dipenuhi warga Kota Makassar. Warna keemasan dari cahaya matahari membuat kamu merasa tenang berada ditempat ini. Kamu juga memesan pisang epe' sambil memandangi indahnya sore hari kota Makassar. Jika kamu seorang muslim, jangan lupa sholat di Masjid Amirul Mukminin atau lebih dikenal dengan Masjid Terapung.

10. Melihat Kelap Kelip Makassar Malam Hari Dari Karebosi SkyLounge


Candotel Hotel merupakan Hotel pendatang baru di Kota Makassar, Memiliki cafe rooftop dengan nama Karebosi Skylounge bisa menjadi pilihan destinasi wisata kamu. Kelap kelip lampu kota Makassar akan memanjakan mata kamu melihat kota Makassar dari ketinggian. Sore hari menjelang matahari terbenam adalah waktu yang tepat datang ke tempat ini, kamu juga bisa menyaksikan sunset dari tempat ini. Sebelum naik ke Rooftop, setiap pengunjung diharuskan membayar 100K/Orang, dimana nantinya kamu bisa tukarkan dengan makanan dan minuman.


Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka blog competition yang diadakan oleh #TravelNBlog

Catatan Pendakian Bersama KSR 121 Menuju Gunung Bulusaraung (Part 2)

Hujan gerimis semalaman mengguyur pos 9 malam itu membuat saya sedikit terganggu dengan tidur saya, tenda tak mampu melindungi kami dari rembesan air di sedut-sudut tenda. Kami bertiga di dalam harus saling merapatkan diri ke tengah agar tidak kebasahan, perlahan masalah itu kami bisa atasi dan akhirnya tertidur dengan lelap walaupun kontur tanah dibawah kami tidak rata tetapi bagi saya pribadi tidak menjadi masalah besar. Suara dengkur bersahut-sahutan mengalahkan suara gerimis diluar, banyak orang tak bisa tidur dengan kondisi seperti ini tapi bagi saya suara dengkur adalah dongeng pengantar tidur.

Alarm handphone tak mampu membangunkan saya dari tidur lelap, akhirnya kami agak kepagian walaupun cuaca di luar masih gelap dan kelihatannya gerimis sudah tidak turun lagi. Saya kemudian keluar dari dalam tenda dan memperhatikan area sekitar, ternyata yang lain masih berkutat di tenda masing-masing. Setelah itu, saya mengajak dua orang untuk menemani saya menuju sumber air untuk mengambil air wudhu karena persedian air di sekitar tenda sudah habis. 

Jaga dan Lestarikan
Kesempatan menyaksikan sunrise di puncak Gunung Bulusaraung masih bisa asalkan kami bisa bergerak cepat, seketika mungkin personil sudah siap summit attack, tak lupa membawa persediaan air minum dan cemilan sebagai bekal di puncak. Selain itu saya juga tak lupa pula membawa kamera, ini barang paling penting dan tak boleh ditinggal.

Kami berjalan beriringan menuju puncak, walaupun yang lainnya masih mempersiapkan dirinya masing-masing, tapi saya memilih berjalan lebih awal agar masih bisa melihat sunrise. Pos 9 menuju Pos 10 merupakan jalur menanjak dan berbatu, inilah aslinya pendakian Gunung Bulusaraung jika dibandingkan jalur yang sudah dilalui kemarin ketika menuju Pos 9. Saya beberapa kali berhenti sambil menghela nafas panjang. Saya pun menerapkan tips berjalan menuju puncak dimana ketika kita berjalan menanjak jangan pernah melihat keatas tetapi menatap ke bawahlah dan nikmati setiap langkap kakimu, ini terbukti berhasil dan membawa saya sedikit lagi berada puncak. Menara radio puncak Gunung Bulusaraung sudah terlihat, itu sebagai pertanda kalau puncak sedikit lagi.

Semangat yah..
Akhirnya saya dan beberapa teman yang lain akhirnya tiba di puncak sebelum matahari terbit. Terlihat juga beberapa pendaki yang lain sudah berada di puncak. Sambil menunggu semua tim lengkap, saya memilih sibuk sendiri dengan kamera untuk mengabadikan moment dan mengmabil beberapa foto landscape. Gradasi warna sunrise sudah tidak terlihat dan mulai tertutupi kabut tapi mataharinya belum keluar. Tak lupa juga  berfoto bersama dengan kamera Gopro, kamera mini anti hujan dengan hasil foto landscapenya membuat saya iri karena dari kemarin kamera Nikon D5100 ku belum bisa keluar karena cuaca yang tak menentu. Disinilah awalnya saya tertarik dengan kamera Gopro hingga akhirnya sepulang dari pendakian saya langsung membeli Gopro Hero4.

* * *

Setelah semuanya berada di puncak, tampak sebuah keharuan dari raut muka mereka karena berhasil mencapai puncak, terutama bagi perempuan yang ikut, apalagi beberapa diatara dari mereka ini adalah pertama kalinya mendaki. Salut dengan kegigihan mereka, mengingatkan saya ketika pertama kali ikut mendaki dan akhirnya saya merasa mendaki itu menyenangkan.

Memang cuaca di puncak memang sulit ditebak, yang awalnya cerah tiba-tiba berselimut kabut. Sekeliling puncak hanya terlihat kabut berseliweran menutup keindahan puncak pagi itu. Foto dengan cuaca seperti ini sama halnya foto dengan latar belakang tembok. Perlahan tapi pasti, kabut mulai membuka diri dan menampakkan keindahan apa yang dari tadi dia sembunyikan. Kami pun tak ingin ketinggalan dan secepatnya saling bergantian untuk berfoto. Pagi itu mengajarkan saya arti sebuah kesabaran, sabar menunggu cuaca bersahabat. 

Sisi puncak yang lain sudah menampakan dirinya.
Berdiam diri atau melompat
Kabut tipis datang lagi menutup dirinya

Mendaki kali ini juga mengajarkan saya arti sebuah perjuangan, berjuang menuju puncak walau tubuh sudah tak mampu lagi tapi dengan keyakinan tekad puncak Gunung Bulusaraung bisa saya capai. Sebuah pencapaian yang luar biasa bukan karena saya sudah berada di titik tertinggi Gunung Bulusaraung tapi saya berhasil mengalahkan semua keraguan saya. Bukankah begitu?

Puncak Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1353 mdpl, memang terlihat lebih rendah jika dibanding Gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian 2883 mdpl. Jumlah posnya pun sama walaupun jalur Gunung Bulusaraung sedikit lebih bersahabat, namun cukup membuat saya kewalahan hingga bisa berdiri di puncaknya. Setiap gunung beda cerita, tapi pendakian kali ini memiliki arti tersendiri bagi saya bersama keluarga besar KSR 121 PNUP. 

Senyum sumringah
Matahari sudah mulai meninggi, kami pun turun dari puncak menuju pos 9. Setelah tiba, tak perlu menunggu lama untuk membongkar tenda dan membereskan semua untuk kembali. Tak lupa pula kami membawa pulang sampah kami, karena gunung bukan tempat sampah. Setidaknya kami bertanggung jawab dengan sampah kami sendiri ketika kami tak mampu membersihkan semua sampah plastik di pos 9. 

Kami pun kembali pulang menuju desa Tompobulu, tempat kami memarkir motor dan selanjutnya kembali menuju Makassar. Sebelum tiba di Makassar, kami sempat singgah di salah satu warung dekat pertigaan jalan poros Pangkep untuk mengisi perut yang memang dari pagi belum terisi. Nasi goreng telur dadar lengkap dengan ayam cabik-cabiknya menu siang itu, namun entah kenapa saya jauh lebih menikmati makanan semalam walaupun dengan menu seadanya tapi itu sungguh nikmat. Selanjutnya kami pun kembali ke Makassar dengan cerita masing-masing.

Akhir kata, semoga masih ada kesempatan untuk kembali mendaki bersama karena di alam kita jauh lebih merasa dekat. Terima kasih untuk semuanya.

Let's Explore Indonesia
INDONESIANHOLIC


Catatan Foto Pendakian Gunung Bawakaraeng

Cerita perjalanan pendakian ini sebenarnya sudah lama tepatnya Agustus 2013, Menapak jejak kaki di Gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian 2883 mdpl yang terletak di Kabupaten Gowa merupakan sebuah mimpi yang terpendam yang akhirnya terwujud juga, lokasinya dekat dengan Malino yang dikenal dengan kawasan wisata dengan cuaca yang dingin.

Gunung Bawakaraeng sudah tak asing lagi para pecinta alam, dimana lokasinya tidaklah terlalu jauh dari kota Makassar hanya dibutuhkan dua jam perjalanan untuk sampai di Lembanna, desa terakhir sebelum memulai pendakian.

Sebuah kebanggaan bagi saya bisa mendaki Gunung Bawakaraeng, gunung yang memiliki cerita sendiri bagi masyarakat gowa dan sekitarnya, mereka percaya dengan keyakinannya bahwa puncak Gunung Bawakaraeng memiliki hubungan dengan lokasi berhaji di Mekkah karena struktur tanahnya yang memiliki kemiripan.

Gunung Bawakaraeng memiliki 10 pos untuk sampai di puncak dan Desa Lembanna merupakan desa terakhir sebelum memulai pendakian. Beberapa rumah di Lembanna bisa dijadikan pos pelaporan tapi biasanya para pendaki melapor di Tata Rasyid, sahabat para pendaki yang memiliki segudang cerita yang dibungkus dengan gaya humornya.

Pendakian ini merupakan Pendakian bersama dengan KSR PMI Unit 121 Politeknik Negeri Ujung Pandang, Organisasi sewaktu kuliah yang sudah menjadi keluarga sendiri bagi saya sendiri.  Sepertinya  cerita pembukanya sudah cukup, mari menyimak cerita perjalanan pendakian lewat sebuah foto yang sempat saya rekam. 

Jumat, 23 Agustus 2013
Markas 121 - Malino - Desa Lembanna - Pos 1 - 5

Sebelum berangkat kami terlebih dahulu briefing sekaligus berdoa semoga perjalanan kami diberikan kemudahan.
Deretan carrier dan backpack siap menemani

Tepat pukul jam 19.00 kami tiba di desa Lembanna
Perjalanan dari Desa Lembanna kami lalui dengan istirahat disetiap pos.
Sabtu, 24 Agustus 2014
Pos 5 (Camp malam pertama) menuju Pos 10 (camp terakhir)
Selamat pagi dari Pos 5, tempat kami menginap semalam
Pesona Langit biru di Pos 5
Sebelum meninggalkan pos 5 kita foto bersama dulu yah
Berdoa, Bagian tak terlupakan sebelum melanjutkan pendakian
Kerjasama, salah satu bagian penting dalam pendakian

Mari melanjutkan perjalanan
Istirahat dulu dinda, jangan dipaksa
Senyum semangat di Pos 7
Bentangkan Bendera Kebanggaan
Bertemu Kanda Mul dan dua teman bulenya di Pos 8, tak lupa sempatkan foto bersama
Jurais sudah tak mampu lagi
Lokasi foto ini sudah dekat dengan Pos 9
Minggu 25 Agustus 2013
Pos 10 (Camp Terakhir) - Puncak Bawakaraeng

Hujan Badai tak menyurutkan langkah kami untuk mencapai puncak Bawakaraeng
Moment tak terlupakan bersama keluarga KSR 121 PNUP
Foto paling wajib untuk setiap anggota
Kanda Fandi dan Kanda Sapot
Sempatkan foto bersama depan tugu rute pendakian sebelum kembali ke Makassar

Tulisan ini saya dedikasikan untuk keluarga besar UKM KSR PMI Unit 121 PNUP, bahwa kita adalah keluarga yang tak terpisahkan walaupun kami berbeda angkatan namun kita tetap satu dalam sebuah naugan kerbersamaan. Terima kasih untuk semuanya.

Tunggu kedatangan saya di Makassar dan kita akan melanjutkan pendakian lagi. Saya belum sempat melihat sunrise di puncak Gunung Bawakaraeng, dan mimpi itu masih tertunda sampai sekarang.

Let's Travel to Experience the Beauty of Indonesia
INDONESIANHOLIC