Mengejar Sunrise di Gunung Bromo (part 1)
| Gunung Bromo dan Puncak Mahameru dari View Sunrise Point |
Paket liburan telah usai, saya mengajak teman yang ingin joint dengan ide saya yang masih tetap ingin tinggal di Malang. Alhasil, Guna dan Uccank yang tertarik dengan ide saya. Teman yang lain sudah kembali ke Cepu dan saya bertiga tetap tinggal di Malang dengan izin dari instansi (baca: penyelenggara paket liburan Malang)
Ini saatnya memulai petualangan di kota Malang. Untungnya ada Elly, teman yang saya kenal dari Temu Bakti KSR PMI Nasional di Samarinda 2011. Dia menawarkan walaupun sebenarnya kami yang meminta tumpangan untuk istirahat sambil menunggu pemberangkatan ke Bromo. Dia menawarkan di sekretariat di KSR Universitas Merdeka Malang. Bagi saya tak masalah, apapun tempatnya tak jadi masalah asal kami bisa istirahat.
Hari sudah siang, tapi kenapa saya susah untuk menutupkan mata sedangkan Guna dan Uccank sudah terlelap dalam tidurnya. Saya masih gelisah karena pihak yang menawarkan open trip Bromo yang sudah deal semalam mendadak susah dihubungi. Berkali-kali saya sms dan telpon tapi tak ada jawaban. Apakah ini hanya PHP semata.!? Saya akan merasa bersalah jika tak jadi berangkat, Mengajak teman tapi ujung-ujungnya tak jadi itu seperti duduk diatas bom. Dorrrr
Akhirnya, berita bahagia pun datang setelah sms dari Citra, teman saya kenal dari twitter seorang backpacker dari Palu menawarkan CP Mas arief, seorang sopir jeep yang juga punya open trip ke Bromo. Paket 250 ribu Include Jemputan PP, Tiket Masuk dengan destinasi Penanjakan, Kawah Bromo, Bukit Cinta, Bukit Teletubbies, Pasir Berbisik dan Coban Pelangi. Tak perlu pikir lama saya hanya mengiyakan saja. Setelah terjadi kata sepakat, hati saya sudah merasa lega. Saya pun melanjutkan istirahat untuk menyimpan tenaga untuk tengah malam nanti.
Tak terasa saya terbangun di sore hari. singkat cerita, dimalam harinya saya ke BNS untuk menikmati malam sebelum berangkat ke Bromo.
Handphone saya berbunyi, sebuah pesan dari mas Arief yang memberitahukan untuk bersiap-siap. Kemudian saya membalasnya dengan kata "OK, saya tunggu di dekat Alfamart tepat depan kampus Universitas Merdeka". Kami menuju alfamart, membeli air minum dan beberapa cemilan untuk amunisi buat besok.
Terlihat mobil jeep dengan warna biru gelap berhenti didepan kampus. Saya memberi kode kalau kami sudah siap. Bersalaman dan saling berkenalan, kami naik mobil kemudian melaju kencang dengan knalpot bogartnya. Jreng...Jreng...Jrong..Jrong...
" Sabar ya mas, kami akan jemput 4 orang lagi " pinta mas arief
"OK, mas.." jawabku secara spontan.
Saya sudah tahu konsekuensi jika open trip, dimana kita akan digabung dengan beberapa orang. mau tidak mau atau suka tidak suka harus diterima. Terkadang ikut open trip itu harus sabar jika orangnya menjengkelkan, tapi juga bisa perjalanan sangat menyenangkan jika orang-orang yang ikut orangnya asyik. Mobil berhenti tepat di salah satu lorong, seketika itu mas arief menelpon yang akan menjadi teman kami. Saya pun masih belum melihat batang hidung ke 4 orang yang dimaksud mas arief. Tiba -tiba dari kejauahan muncul 4 sosok perempuan berjalan beriringan mendekat ke jeep kami.
Guna dan Uccank yang tadinya duduk didepan harus merelakan tempat duduknya ditempati (emansipasi). dan 2 lainnya duduk di belakang bersama kami. Saya tak bisa melihat jelas raut muka mereka karena saya sangat mengantuk dan sedikit malas untuk mengenalinya. Saya duduk bersama Guna satu deretan sedangkan Ucccank harus rela duduk berimpitan bersama dua orang yang mana normalnya 1 deretan untuk dua orang. Sepanjang perjalanan kami hanya berbalas senyum dan sesekali menyambung pembicaraan. Kami ini masih cuek, padahal sebenarnya kami harus saling mengenal. Tak ada keberanian diantara kami. Intinya saya dan kamu masing-masing punya tujuan sendiri cuma bedanya kita sama ikut di mobil yang sama.
Tepat pukul 01.00 dini hari, Jeep melaju melewati kota Malang kemudian masuk di jalur penanjakan, kalau tidak salah jalur tumpang yang mana jalur yang dilalui ketika kita ingin mendaki ke Semeru. Sebenarnya untuk menuju Bromo bisa juga lewat probolinggo. Ditengah perjalanan, jeep kami mengalami kerusakan di bagian mesin yang memaksa kami turun dari mobil, seketika juga rasa dingin seperti menembus jaket saya. Melihat ke atas, ada jutaan bintang yang berderang di atas langit, sumpah keren banget tapi rasa dingin masih membuat saya tak tenang di luar.
" Ayo, naik semua..mobilnya sudah OK " pinta arief ke kami dengan sedikit wajah kurang sedap.
Kami kembali melanjutkan perjalanan. didalam mobil kami seperti diobok-obok. karena memang kondisi jalan yang kurang bagus. Sebenarnya jalur tidak terlalu jauh tapi berhubung lagi ada proses perbaikan jalan jadinya kami harus memutar. Jeep sudah mulai jalan beriringan dengan jeep lainnya, ternyata banyak juga yang ke Bromo.
Tepat jam 04.30 Jeep kami menepi dan berhenti. Mas arief menganjurkan untuk berhenti disini karena didepan sudah macet. Saya masih bertanya-tanya dalam hati bahwa Gunung Bromodimana? sekeliling hanya ada gelap dan lampu mobil yang mengantri serta bunyi klakson yang terdengar. Kami turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan melewati kemacetan. Ternyata bromo bisa macet juga. Sebelum jalan saya mengumpulkan rombongan untuk berdoa bersama sebelum jalan. Ini hal yang wajib kita lakukan sebelum kita melakukan sesuatu terlebih lagi kita berada di daerah yang baru. Setelah berdoa, saya berjalan lebih duluan untuk menembus puluhan ojek motor yang menawarkan jasa tumpangan sampai di puncak. Sebenarnya saya tak ingin naik ojek tapi karena rasa kasihan melihat teman yang sudah mulai berjalan ngos-ngosan dan kedinginan terlebih 4 wanita yang ikut bersama kami. Oiya lupa, sebelum kami turun tadi dari mobil kami sudah berkenalan. Namanyan Rezki, Ayu, Nia dan Icha. Mereka adalah sahabat semasa kuliah yang terpisahkan dengan pekerjaannya masing-masing. Intinya lagi merayakan reuninya dengan liburan ke Bromo.
Waktu semakin cepat berlalu, saya berpikir jika berjalan mengikuti irama langkah mereka maka saya akan ketinggalan sunrise. Saya sepakat untuk meninggalkan mereka dan berjalan lebih cepat menuju View Sunrise Point. Maaf yah.. !!! Sebelum tiba terlihat disamping kiri dan kanan ada banyak warung makan, jual baju dan oleh-oleh dan ada juga yang menawarkan jasa jacket.
Tiba di spot sunrise ternyata saya belum terlambat. Alangkah kagetnya melihat tempat sudah dipenuhi oleh ratusan orang. Apakah sebanyak ini orang menunggu kemunculanmu, duhai matahari terbit?? *sedikit puitis* Saya memilih mendekati tembok pembatas dan mencari celah untuk duduk diatas pagar. Ini hal yang beresiko tapi mau nda mau saya harus naik agar pandangan saya tidak terhalang oleh ratusan orang.
Tepat jam 04.30 Jeep kami menepi dan berhenti. Mas arief menganjurkan untuk berhenti disini karena didepan sudah macet. Saya masih bertanya-tanya dalam hati bahwa Gunung Bromodimana? sekeliling hanya ada gelap dan lampu mobil yang mengantri serta bunyi klakson yang terdengar. Kami turun dari mobil dan berjalan menyusuri jalan melewati kemacetan. Ternyata bromo bisa macet juga. Sebelum jalan saya mengumpulkan rombongan untuk berdoa bersama sebelum jalan. Ini hal yang wajib kita lakukan sebelum kita melakukan sesuatu terlebih lagi kita berada di daerah yang baru. Setelah berdoa, saya berjalan lebih duluan untuk menembus puluhan ojek motor yang menawarkan jasa tumpangan sampai di puncak. Sebenarnya saya tak ingin naik ojek tapi karena rasa kasihan melihat teman yang sudah mulai berjalan ngos-ngosan dan kedinginan terlebih 4 wanita yang ikut bersama kami. Oiya lupa, sebelum kami turun tadi dari mobil kami sudah berkenalan. Namanyan Rezki, Ayu, Nia dan Icha. Mereka adalah sahabat semasa kuliah yang terpisahkan dengan pekerjaannya masing-masing. Intinya lagi merayakan reuninya dengan liburan ke Bromo.
Waktu semakin cepat berlalu, saya berpikir jika berjalan mengikuti irama langkah mereka maka saya akan ketinggalan sunrise. Saya sepakat untuk meninggalkan mereka dan berjalan lebih cepat menuju View Sunrise Point. Maaf yah.. !!! Sebelum tiba terlihat disamping kiri dan kanan ada banyak warung makan, jual baju dan oleh-oleh dan ada juga yang menawarkan jasa jacket.
Tiba di spot sunrise ternyata saya belum terlambat. Alangkah kagetnya melihat tempat sudah dipenuhi oleh ratusan orang. Apakah sebanyak ini orang menunggu kemunculanmu, duhai matahari terbit?? *sedikit puitis* Saya memilih mendekati tembok pembatas dan mencari celah untuk duduk diatas pagar. Ini hal yang beresiko tapi mau nda mau saya harus naik agar pandangan saya tidak terhalang oleh ratusan orang.
| Gradasi Warna Langit yang berwarna |
| Mereka Menunggu Kedatanganmu |
| Sang Mentari telah Muncul |
Setelah saya melihat langsung matahari terbit Bromo, alasan yang membuat saya semakin percaya jika Golden sunrise memang adanya di Bromo. Indonesia memang Indah, tak ada alasan lagi buat saya untuk tidak mencintai keindahan Indonesia. Pesona keindahan Bromo bukan hanya dikenal dengan wisatawan domestik tapi dunia pun sudah mengakui keindahannya. Jangan heran jika ditengah ratusan orang terdapat pula tourist asing yang terselip yang juga tak ingin melewatkan keindahan matahari terbit Bromo.
Matahari 14 Oktober telah muncul perlahan seketika juga bunyi jepretan, gemerlap flash kamera dan teriakan histeris dari seluruh pengunjung sehingga saya sempat merinding. Inilah alasan yang membuat saya datang dari jauh dan rela menembus kedinginan hanya untuk menikmati keindahan Sunrise Bromo.
" You dont need a doctor when you strees, all you need is a journey" @adistakdos.
" You dont need a doctor when you strees, all you need is a journey" @adistakdos.
Saya percaya bahwa sebuah perjalanan akan membuat kita merasa bebas yang berarati terbebas dari segala belenggu permasalahan. Lupakan semua masalah dan nikmati keindahan di depan matamu.
Saya sangat menikmati pemandangan yang tersuguhkan di depan mata saya. Ini seperti saya melihat foto pemandangan yang biasa terpasang di dinding rumah tapi ini bukan lagi gambar tapi Nyata. Bromo memang keren tak salah jika orang begitu berbondong-bondong mendatanginya dari seluruh penjuru. Akses untuk menuju Bromo pun sangat mudah, ini salah satu keberhasilan pemerintah setempat untuk mendongkrak pariwisata yang secara tidak langsung menambah penghasilan juga untuk daerah setempat.
| INDONESIANHOLIC |
| Senyum untuk Indonesiaku. |
Matahari sudah menghangatkan embun yang ada didaunan. Pancaran sinar matahari sudah terasa hangatnya tapi dingin bromo masih lebih kuat. Sesuai janji bahwa setelah melihat sunrise kita akan menuju kawah Bromo. Pukul 06.00 adalah waktu yang sudah kita sepakati untuk kembali ke mobil. Tiba lebih awal membuat kami harus menunggu rombongan lain. #MENUNGGU
Perjalanan dilanjutkan menuju Kawah Bromo. Cerita pun mengalir dari kami semua tentang keindahan yang kami saksikan. Masing-masing punya perspektif keindahan sendiri. Oiya, sebelum ke Kawah Bromo kami sempat singgah di bukit cinta. saya tak tahu kenapa bisa dikatakan dengan bukit cinta,? Jika semeru punya tanjakan cinta, Bromo juga punya bukit cinta. Pemandangan dari sini juga keren, beberapa sudut sempat saya bidik lewat kamera saya. Ini juga kami sempatkan untuk berfoto bersama dengan rombongan yang sebelumnya terpisah.
| Bukit Cinta |
| My Travelmates : Ayu, Rezki, Icha, Nia, Guna, dan Uccank |
| Jempol dan Senyum untuk Panorama Bromo |
| Member of Open Trip Bromo |
Tak banyak waktu terbuang di bukit cinta, karena tujuan awal kami memang menuju kawah Bromo. Perjalanan yang menurun membuat mobil melaju pelan dan sesekali kami harus merangsek kedepan karena laju pengereman. Tak lama berselang kami melihat lautan pasir dan mobil melaju kencang diatas pasir sehingga mobil seperti membelah lautan berpasir.
Kawah Bromo seperti apa sih? pikirku dalam hati sambil melihat melihat keluar jendela.
Bersambung






ruame bet mas....
ReplyDeleteAsli ramai banget mas, seperti pasar.
DeleteWaduh, pengunjungnya sampai membludak gitu apa karena pas moment libur panjang ya? Semoga saja tidak pada buang sampah sembarangan..
ReplyDeleteBtw saya malah belum pernah ke Bromo ini.. #pengakuan
Pengunjung banyak banget karena lagi high season.
DeleteAyo ke Bromo, wajib banget dikunjungi..keren
aku ga sempet ketemu sunrise disana gara2 kabut :( http://www.empieee.net/2013/09/aku-dan-bromo.html
ReplyDeletemakasih Empiee sudah mampir.
ReplyDeletesayang banget yah, padahal itu salah satu keindahan di Bromo.
itu artinya kamu harus datang lagi ke Bromo
open link >>>ke Blogmu
Saya ga mau lagi ke sana pas musim hujan, ga dapat sunrise... :(
ReplyDeleteIya, nunggu waktu yang tepat aja.
Deletesekarang lagi gak bagus karena musim hujan.
rame banget ya di puncak...kami dulu separo aja..tpi itu juga udah bagus view y..
ReplyDeleteAsli rame banget.
ReplyDeleteviewnya sih keren padahal mitos disana kalau lagi banyak orang biasanya cuacanya langsung mendung tapi untungya itu tidak terjadi.
Buset rame banget pas sunrise, dulu aku ke sana habis erupsi jadinya kurang sip pemandangannya.
ReplyDeleteasli rame banget.
Deleteitu artinya, Bromo masih menunggu kunjungan mas ariev.
Penuh kaya pasar sih, tapi tetep asik banget sunrise disana :)
ReplyDeletewww.marischka-prudence.com
Iya pengunjung membludak kayak pasar karena waktu itu lagi libur panjang, jadinya di penanjakan rame banget.
DeleteBromo kereenn yach..
ReplyDeleteJadi nyesel ga mampir kesana waktu habis nanjak semeru kemaren..
Iye, Keren sekali..
Deletetapi lebih keren Semeru.
tapi yang jelas tulisannya lebih kereen lagi, hehee
ReplyDeleteGak juga,
Deletesaya juga termasuk pemula dalam menulis.
Sunrisenya keren badai... wow! Juli nanti mau kesana, puasa-puasa :D
ReplyDeleteAsyik, ditunggu cerita perjalanannya,
Deletewooooo,,, bromoooo,,,,,,, cita2 saya yg masih belum kesampaian melihat sunrise di bromo....
ReplyDeleteAyo wujudkan cita-citanya,
DeleteBromo salah satu tempat terindah untuk menikmati sunrise.
Bromo salah satu destination impian saya. Moga aja Mei nanti kesampaian...
ReplyDeleteMas Akbar... masih punya CP Mas Arief?
ReplyDeletesy dan 3 org teman rencana mau ke Bromo tgl 1-3 Mei besok.
tolong kirimin ke email sy ya...
[email protected]
makasih sangaatt Mas Akbar :)