Rumah Sakit Haji 1911 - Pulau Cipir Kep. Seribu

Sunday, May 19, 2013 muhammad akbar 1 Comments



Taman Arkeologi Onrust "Pulau Cipir"

Pulau ini awalnya bernama Pulau Khayangan kemudian berubah menjadi Pulau Cipir. Dalam bahasa Belanda disebut Kuijper. Pulau ini terkait erat dengan Pulau Onrust di seberangnya. Cipir merupakan lahan bekas rumah sakit untuk perawatan dan karantina penyakit menular bagi para jemaah haji pada abad ke-19 atau tahun 1911. Pulau Onrust dan Pulau Cipir dipergunakan sebagai pusat karantina haji. Para jemaah seluruh Indonesia yang ingin naik haji dipusatkan dahulu disini. Rumah sakit yang ada dipulau cipir digunakan untuk merawat orang yang sakit dan ternyata pulau ini punya mitos bahwa banyak pasien yang disuntik mati. (sumber: Artikel pembagian)

Mengapa harus disuntik mati??

Ternyata orang-orang belanda memiliki ketakutan jika para jemaah haji ini membawa pengaruh untuk rakyat Indonesia.  Kekhawatiran akan pemikiran yang sudah berubah setelah menunaikan haji, maka jika ada yang mencurigakan langsung dibunuh. Namun pada akhirnya kekhawatiran belanda berhasil bahwa selama perang kemerdekaan Indonesia banyak orang Indonesia yang bergelar Haji melakukan perlawanan terhadap belanda.


Ada juga cerita tentang "Gelar Haji" yang kita banggakan bahwa setelah menunaikan ibadah haji maka akan bergelar haji. Tapi ternyata di zaman colonial, Belanda lah yang memberikan gelar haji dengan syarat dan lulus dari karantina maka diberikan gelar haji.

Pada saat kunjungan ke pulau cipir, pulau ini ramai dengan para pemancing dan di tengah pulau terdapat warung. Pulau ini sedikit lebih maju dibanding Pulau Kelor. Pulau ini sangat rindang dengan banyaknya dengan pohon besar yang seakan berfungsi sebagai atap. Pulau ini juga masuk dalam kawasa Taman Arkeologi Onrust dan pulau yang dijaga kelestariannya. Melangkah lebih dalam kita akan melihat sisa bangunan tua dan yang sebagian tinggal betonnya saja. Bangunan tua ini ternyata adalah bekas rumah sakit dahulu.

Sisa bangunan yang dijadikan rumah dokter

Salah satu sisi tempat perawatan

Papan nama Rumah Dokter (1911-1933)
Dulunya Pulau Cipir dan Pulau Onrust konon ceritanya terdapat jembatan yang menghubungkan keduanya. saya pun penasaran untuk membuktikannya dengan berjalan ke ujung pulau ini walaupun cuaca yang sangat panas tapi rasa penasaran membuat saya ingin membuktikannya. Setelah menyesuri sisa reruntuhan jalan penghubung ini namun saya hanya sampai disebuah ujung jalan dan setelah itu hanya kelihatan reruntuhan batu bata dari dalam air. Saya pun percaya bahwa memang terdapat jembatan penghubung, namun dalam pikiran saya bahwa orang terdahulu itu sudah cerdas terbukuti dengan bangunan jembatan ini. Konon ceritanya jika air sangat surut maka bekas jembatan itu akan sangat tampak dengan jelas.

Bekas Jembatan
Ujung jembatan (Pulau Onrust dari kejauhan)
Setelah ingin meninggalkan pulau ini, saya sempat bertemu dengan seorang bapak tua. ternyata bapak tua ini sudah tinggal di pulau ini sejak 1983, terbayang dia sudah berada dipulau ini sebelum saya lahir. Saya pun mengajaknya bercerita dan menanyakan beberapa hal tentang pulau ini. Ada hal yang membuat saya kaget, bukan karena dia pernah meilhat penampakan di pulau ini tapi ternyata bapak tua itu berasal dari Makassar. Saya tidak segan mengajaknya berbahasa bugis-makassar. Bapak ini sudah agak malu kembali ke makassar karena tidak punya apa-apa dan merasa terasingkan jika ke makassar. Sedih mendengar ceritanya namun saya banggak akan bapak tua ini karena memiliki rasa mandiri yang kuat sehingga mampu bertahan.

Bapak tua penjaga Pulau Cipir
Bangunan tua yang masih bertahan sampai sekarang

Sisa Bangunan
Adit, Edhy, Akbar (photo by Hajar)
Peserta trip #sahabat jalan ( saya dimana yah ??)
Tulisan ini untuk para peserta trip #sahabat jalan. Semog bisa nge-trip bareng. Mari lanjut ke Pulau Onrust.

1 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Pulau Kecil Menyimpan Sejarah - Pulau kelor Kep. Seribu

Sunday, May 12, 2013 muhammad akbar 5 Comments

Sesuai jadwal trip dari #Sahabat jalan peserta akan mengunjungi pulau Kelor. Pulau Kelor dahulu dikenal dengan nama pulau Kherkof, merupakan pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Secara administratif termasuk dalam wilayah Kabupaten administratif Kepulauan Seribu DKI Jakarta. Pulau Kelor adalah sebuah pulau kecil yang menyimpan sejarah masa lalu. Pulau ini terdapat galangan kapal dan benteng yang dibangun VOC untuk mengahadapi serangan portugis di abad 17 (sumber: Artikel pembagian)

Penampakan Pulau Kelor dari atas perahu

Sisa reruntuhan Benteng Martello
Pulau yang bernama dengan pulau Kelor karena luasnya yang hanya sekitar 2 Ha dan yang paling jelas di pulau ini adalah bekas benteng Martello. Pulau yang tak berpenghuni dan sangat ramai dikunjungi di hari libur/weekend. Pulau ini juga tujuan para orang-orang yang mempunyai hobbi memancing. Menurut salah satu pemancing, spot di pulau Kelor sangat baik dan tak jarang mereka tidak mendapatkan ikan. 

Benteng Martello hanyalah saksi yang masih bertahan sampai sekarang dan mengingatkan pengunjungnya bahwa pulau ini merupakan bekas benteng pertahanan VOC. Benteng Martello adalah benteng bulat dari bata yang dibuat dengan meniru benteng Mortella di Corsica, sebuah pulau di Laut Tengah. Dulu, pulau Kelor adalah garda terdepan untuk mempertahankan Batavia dari serangan angkatan laut musuh yang menyerang dari samudera/laut. Penjagan pulau akan memantau wilayah laut di depannya dan mengabarkan pada batavia jika kapal musuh menampakkan diri.

Pulau Kelor
Benteng Martello dari sisi berbeda
Jejak kaki kami di pasir putih
Benteng Martello sebenarnya sangat luas tapi sayangnya sekarang tinggal sisa reruntuhannya hal ini disebabkan karena faktor umur dari benteng dan akibat meletusnya Gunung Karakatau. Akibat letusannya menyebabkan sebagian pulau ini hancur dan terkikis. Saya mengharapakan pulau ini akan selalu ada karena ini merupakan saksi sejarah. Pulau ini agak kurang terpelihara terbukti dengan semak-semak yang menyelimuti benteng Martello. Saya juga melihat beberapa sampah di sudut pulau, ternyanta sampah itu adalah sampah kiriman dari Jakarta. Sebenarnya pemerintah sudah memperhatikan pulau ini terbukti dari dibangunnya banguan pemecah ombak. Mari kita selalu menjaga obyek wisata terutama wisata yang menyimpan sejarah agar anak cucu kita masih bisa melihat dan merasakannya.
Sisa reruntuhan Benteng Martello

Tiang pancang sebagai pemecah ombak
Tidak lengkap rasanya ke Pulau kelor jika hanya berdiam saja di bawah pohon atau berlinding di dalam benteng. Bagi yang suka berfhoto ria tempat ini sangat cocok. pasir putih, laut biru dan background pulau sangat tepat untuk diabadikan. Saya dan teman tidak berpikir lama untuk melakukannya, percuma datang jauh dari seberang jika tidak mengabadikannaya, silahkan dinikmati kegilaan kami...(jangan iri yah)


2 jempol untuk Indonesia
Senyum Backpacker
Eksis depan Benteng Martello
Peserta #one day trip 3 pulau
Tepat pukul 10.30, bang @widhy20 selaku tour guide  memanggil semua peserta berkumpul untuk menuju pulau Cipir. Sebelum meninggalkan pulau selebar daun kelor ini kami menyempatkan foto bersama. Sebenarnya saya masih kurang puas mengeksplore pulau ini, suatu saat nanti saya masih ingin mengunjunginya. Cerita selanjutnya di Pulau Cipir dan Pulau Onrust

5 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

One Day Trip 3 Pulau

Friday, May 10, 2013 muhammad akbar 10 Comments

Ada pepatah mengatakan "sekali mendayung dua atau tiga pulau terlampaui". Liburan saya ini ada hubungannya dengan pepatah yang diatas, kira-kira sperti ini "sekali naik perahu 3 pulau terkunjungi". Liburan mengunjungi 3 pulau kecil yang menyimpan banyak sejarah. Tiga pulau itu bernama Pulau Kelor, Pulau Cipir dan Pulau Onrust, Ketiga pulau ini terletak di gugusan kepulauan seribu. Untuk mengunjungi ketiga pulau dapat dijangkau dengan perahu kayu di Muara Kamal. 

Trip ini saya bersama 3 teman petualangan (Edhy,Hajar dan Adhit). Liburan akhir pekan ikut dengan trip gabungan #sahabat jalan or @tukang_jalan. Sebelumnya saya teracuni salah satu blogger yang menuliskan tentang pulau Kelor, Cipir dan Onrust, menuliskan bahwa ada pulau yang sangat terkenal di masa lalu dan menjadi catatan sejarah bagi indonesia. Saya penasaran dan mencari info tripnya. Minggu lalu tepatnya sabtu 04.05.13 saya ikut trip gabungan dengan estimasi Rp.100.000,-/orang. Sebelum nge-trip terlebih dahulu membayar uang pendaftaran untuk 4 orang. Menurut estimasi perkiraan tempuh 1 jam 30 menit (Cempaka Putih - Muara kamal) menggunakan busway kemudian lanjut Carry, inerarynya seperti itu jika selama perjalanan lancar dan tidak macet.

Tepat Jam 6 pagi Cempaka Putih - Rawabuaya (Busway tujuan Kalideres) kemudian lanjut carry hitam menuju Muara kamal dan menuju tempat meeting point. Sebelum tiba, kami sempat kesasar dan masuk di pemukiman warga namun yang menjadi hal unik saya serasa berada di kampung halaman. Ternyata sebagian besar warga yang bermukim di Muara kamal adalah suku Bugis-Makassar. Setalah bertanya, saya pun menemukan tempat meeting point. Sebuah rumah batu berlantai 2 tepat disamping laut, disana sudah banyak peserta yang menunggu.  Trip ini memang trip gabungan, dan menurut tour guide pesertanya ada 30 orang. Wooww.

Bismillah, tepat jam 08.30 kami naik di atas kapal kayu yang bermuat sekitar 15-20 orang. Ombak laut sangat bersahabat ketika kami berangkat. Canda tawa selama perjalanan tak terasa kapal akan bersandar di pulau tujuan  pertama. let's eksplore..

1. Pulau Kelor
Pulau yang pertama di kunjungi bernama pulau Kelor. Menurut cerita dari lembaran yang dibagikan seelum trip bahwa Pulau Kelor dahulu dikenal dengan nama Pulau Kherkof. Terdapat benteng Martello di tengah pulau walaupun tinggal reruntuhannya. Pulau ini memiliki luas kurang lebih 2 hektar, makanya disebut pulau kelor karena luasnya yang kecil. Pulau ini juga adalah pulau tak berpenghuni. Aktifitas yang bisa dilakukan disini adalah mengabadikan benteng Martello, bermain air dan sebagian juga datang kesini untuk memancing. lebih lengkapnya klik disini

Pulau Kelor dari kapal

Benteng Martello
Pasir putih pulau Kelor
Melompat lebih tinggi
2. Pulau Cipir
Pulau kedua yang dikunjungi bernama pulau Cipir. Pulau ini sering disebut pulau Khayangan kemudian berubah menjadi pulau Cipir. Pulau ini dulunya merupakan lahan bekas rumah sakit untuk perawatan dan karantina penyakit  menular bagi jemaah haji pada abad ke-19 atau sekitar tahun 1911. Pulau ini merupakan rumah sakit rawat inap dulunya terbukti dengan adanya gedung tua dan reruntuhan gedung.
Lebih lengkapnya klik disini

Papan nama "Rumah Dokter 1911"

Bangunan tua

Bangunan Rumah Sakit

Jalan penghubung pulau Cipir dan Pulau Onrust

Eksis depan pintu masuk
3. Pulau Onrust
Pulau ketiga atau pulau terkahir yang dikujungi  bernama pulau Onrust. Pulau ini memiliki luas sekitar 5 Hektar karena terkikis oleh abrasi pantai. Pulau ini dulunya merupakan asrama haji. orang-orang terdahulu jika ingin ke Mekkah hanya dapat ditempuh dengan jalur laut. Pulau ini menampung calon jemaah haji selama 5 hari untuk menyesuaikan kondisi laut untuk keamanan selama perjalanan. Pulau ini dijadikan pusat arkeologi dan mempunyai Museum. Pulau ini juga merupakan makam para penjajah Belanda.
Lebih lengkapnya klik disini

Papan Taman Arkeologi Onrust

Barak Karantina Haji 1911

Lubang terowongan bawah tanah

Pemakaman orang Belanda

Ikon Pulau Ounrust
Peserta #One day trip 3 pulau
Liburan yang menyenangkan
Liburan pulau sambil belajar sejarah
JAS MERAH
( jangan sekali-kali melupakan sejarah )
-Backpacker Amatiran-

10 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Mie Paling manyoos di Indonesia

Tuesday, May 07, 2013 muhammad akbar 3 Comments

Saya adalah penggemar mie sejak kecil dan puncaknya ketika saya belajar mandiri alias Nge-kost. Sejak masuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) saya sudah hidup mandiri walaupun setiap bulan dapat kiriman. Kalau dipikir saya tidak hidup mandiri cuma tinggal mandiri. Ngomongin tentang mie, siapa sih yang tidak kenal dan saya percaya semua orang pasti pernah makan mie. Mie di indonesia familiar dengan nama Indomie, walaupun merknya ABC atau Sedaap tetap namanya Indomie. Mie sendiri banyak macamnya antaranya mie goreng, mie kuah, mie soto, mie kari, mie pangsit, mie ayam, mie titi, mie.....( tinggal isi sendiri sesuai selera anda ).

Saya sudah mencicipi hampir semua jenis mie. Alasan saya suka mie karena bikinnya sangat praktis, tinggal buka kemasannya masukkan ke dalam wadah dan tuangkan air panas (jika air dingin hasilnya es campur mie) walaupun semua tidak praktis contohnya mie pangsit, harus menunggu beberapa menit untuk menyantapnya. Mie juga sangat digemari oleh para pendaki gunung. Intinya mie sangat membantu dan saya sendiri patut berterima kasih kepada orang yang pertama menciptakan mie. 

Kembali ke judul "Mie paling manyoos di Indonesia". Mie apa yang paling anda suka dan rindu ingin menyantapnya? jika pertanyaan ini ditujukan ke saya,  maka saya akan jawab Mie Apa Yan. Mungkin ada beberapa dari anda tidak mengerti mie Apa Yan itu seperti apa dan dari daerah mana. OK.OK.OK saya akan jawab, Mie Apa Yan adalah mie berasal dari Lhokseumawe Aceh, mienya seperti mia kuah tapi rasanya lain. kata Apa Yan sendiri itu adalah om Yan, nama dari pemilik warung tersebut. Mie Aceh yang punya cita rasa sendiri dan sangat beda dengan mie Aceh pada umumnya. Pilihan cita rasa ada Mie Apa Yan kepiting, udang, daging dan cumi. Saya memesan Mie Apa Yan seafood (udang,cumi,kepiting) ditambah irisan bawang merah dan kerupuk melinjo, manyooossss. Cita rasa yang ditawarkan hanya seharga Rp.12.000,-. Sampai sekarang saya masih ingin menyantap mie Apayan. Jika anda berkunjung ke Lhokseumawe hendaklah menikmati Mie Apayan, tidak sah rasanya jika belum mencobanya.
tampak depan Mie Apa Yan Lhokseumawe
1 Porsi Mie Apa Yan



3 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Trip sehari di Pulau Pari

Sunday, May 05, 2013 muhammad akbar 79 Comments

Bosan dengan rutinitas yang padat membuat saya selalu mencari tujuan destinasi di hari weekend. Mengunjungi keindahan dengan melihat dan merasakan sendiri itu jauh lebih nikmat dibanding bermalasan di kamar. Selama stay di jakarta saya sudah mulai bosan dengan polusi, macet, pengamen liar, kopaja ugal-ugalan, bersesakan di busway. Ini segelintir yang saya rasakan dan mungkin orang pun merasakannya.

Liburan ke pulau seribu yang awalnya hanya bisa mengelap iler jika membaca blog travel para backpacker. saya sedikit tahu tentang kepulauan seribu dari hasil surfing di internet. Akhir maret kemarin saya pun berkesempatan mengunjungi pulau seribu tepatnya di Pulau Pari. Pulau ini sebaiknya dikujungi di hari sabtu dan balik hari minggu (2D1N) namun perjalanan saya kali ini hanya trip sehari walaupun seperti itu saya sudah bisa merasakan snorkling, bersepeda keliling pulau dan menikmati pasir perawan. 

Minggu pagi walaupun masih gelap tepatnya pukul 05.30, saya dan 3 teman berangkat menuju pelabuhan Muara Angke.  Sesampai di Muara Angke, dimana tempat yang masih tabu buat saya pribadi. ada prinsip yang selalu saya bawa jika perngi nge-trip "jangan malu bertanya", setelah bertanya di beberapa orang akhirnya saya ketemu juga Pelabuhan kayu muara angke. Sesampai disana ternyata kapal menuju Pulau Pari itu tidak ada yang berangkat, karena hari minggu memang adalah hari kepulangan dari Pulau Pari. Alangkah celakanya jika liburan yang kami rencanakan harus batal. TIDAKKKKK. Seorang bapak sedikit tua yang sedang ngopi di warung saya datangi untuk bertanya tentang kepastian kapal dan siapa tahu dia punya saran yang lebih baik tentang permasalahan kami. Bapak itu pun menyarankan kami menuju ke Pelabuhan Kaliadem. Pelabuhan yang sudah dikelola oleh Dinas Perhubungan namun kapalnya hanya bisa muat 20 orang dan biasanya kalau kita terlambat maka kuota penumpang tidak ada lagi. Tidak menunggu lama, saya  langsung bergegas menuju Kaliadem walaupun jaraknya tidak terlalu jauh. Munuju Kaliadem kami pun naik taxi karena takut kehabisan kuota. Tuhan memang selalu punya rencana lain, sesampai di kaliadem ternyata antrian sudah dimulai untuk pemebelian tiket. Setelah medekat dengan loket ternyata masih ada sisa kuota 7 orang. Tiket kapal penyebrangan di Kaliadem lebih mahal dibanding dengan Muara Angke. Harga sekali penyebrangan ke pulau Pari Rp.40.000,- dan asuransi Rp.2.000.-. Kapal yang digunakan memang lebih cepat dibanding dengan kapal kayu dan yang paling pasti kapal ini bersih. Kata ini memang tidak pernah salah "harga menentukan kualitas". 

Pelabuhan Muara Angke baru ( Kaliadem )
Ardhy, Ghuna, Akbar, Muhzan #eksis sebelum berangkat
Kapal Kerapu, kapal resmi milik Dinas Perhubungan
Kapal kerapu yang kami tumpangi meninggalkan pelabuhan Kaliadem tepat pukul 08.00. Sepanjang perjalanan kami serasa naik kora-kora dan teriakan histeris dari para penumpang. Kapal kerapu memang terbilang cepat jadi jika menabrak ombak maka kapalnya akan terbang dan terhempas kembali. Sensasi seperti ini menjadi hal yang menarik dan menengankan, tapi jangan takut kapalnya aman kok dan pengemudinya sudah ahli. Sebelum menuju Pulau pari kapal kami transit dulu di Pulau Untung Jawa namun hanya beberapa menit saja. Kapal ini untuk menurunkan dan menaikkan penumpang jika ada yang ingin turun. Sepanjang perjalanan juga kami melewati beberapa pulau, memang benar jika gugusan pulau dinamakan Kepulauan Seribu tapi saya masih belum percaya jika pulau itu ada 1000 pulau. Tidak berselang lama setelah mengarungi lautan selama 1 jam kami pun melihat sosoknya. Pulau Pari I'm coming..

Sesampai di Pulau Pari waktu sudah menujukkan pukul 09.00. Saya ingin memesan tiket pulang dulu sebelum mengeksplore Pulau Pari. Setelah hendak membeli tiket untuk pulang dengan kapal yang sama ternyata tidak bisa karena sebelum kqmi sampai sudah ada yang antri di loket. Setelah bertanya-tanya tentang kapal terkahir yang meninggalkan Pulau Pari, kami pun mendapatkan infonya bahwa kapal terkahir itu pukul 13.00 artinya saya hanya butuh waktu 4 jam untuk mengeksplore. Saya pun bertemu dengan bapak tua walapun tidak terlalu tua klo perkiraan umurnya 45 tahun. Pak Ujang namanya, dialah guide sesungguhnya selama kami di Pulau nan cantik ini. Setelah kami memberitahukan jadwal kami bahwa kami hanya punya 4 jam, dia hanya berekspresi kaget karena memang biasanya 2D1N. Pak ujang ini tidak kehabisan akal untuk membantu kami. Dia mengambil HP dari kantongnya dan menghubungi pihak kapal dan pihak penyewa perlengkapan snorkling. "Sewa kapal, guide dan perlengkapan itu biayanya 600 rb" begitulah kata pak ujang kepada kami. Saya mengajak 2 orang yang memang mereka juga ingin trip sehari di Pulau Pari. Ini dilakukan untuk share pengeluaran. Cost yang kami keluarkan Rp.100.000,-/orang. 

Perahu kayu kecil yang mengantar kami menuju spot snorkling. Lokasi terbaik snorkling memang tidak berada di tepi pantai tapi berada ditengah laut jadi jika ingin melihat keindahan bawah laut harus naik perahu. Guide lokal kami menujukkan lokasi spot snorkling, ternyata dekat dari situ sudah ada 1 kapal yang nangkring di tengah laut. Setelah mendengarkan instruksi penggunaan alat dan cara snorkling yang aman seperti apa. Pasang life jacket, kaki katak dan kacamata snorkling. Lets go....
Eksis dulu setelah pake alat snorkling

Nyemplung, lets do snorkling

This is me

Karang seperti otak berwarna ungu


ikan-ikan di pulau pari sangat ramah
Ini masih Indonesia #syal trip
Memang benar spot ini sangat baik untuk snorkling karena tidak berapa lama setelah turun kami didatangi segerombolan ikan walaupun awalanya agak takut nanti dijadikan mangsa. Ikan-ikan disini bervariasi dan sangat ramah tidak hanya itu karang-karangnya juga bervariasi ada yang seperti mangkok, bentuk otak warna ungu, berbukit-bukit. Saya hanya bisa melihat karangnya walaupun saya tidak mengetahui jenis karangnya karena setiap karang punya nama. Sambil menyelam saya ingin berteriak kalau Indonesia itu memang indah. Saya tidak menyesal sedikitpun bisa nge-trip kesini. Banyak hal yang saya lihat dan saya rasakan yang tidak bisa diungkapkan lewat tulisan. Jika anda tertarik silahkan datang saja. Tak terasa waktu sudah menujunkkan pukul 11.30 itu artinya waktu kami sudah cukup untuk snorkling. Sebenarnya kita masih punya waktu untuk mengujungi spot bawah laut lainnya tapi kami memutuskan untuk kembali ke Pulau Pari karena kami masih  penasaran dengan Pantai Pasir Perawan.

Gerbang Pantai Pasir Perawan

View Pantai Pasir Perawan dengan pasir putihnya

Sudut Pantai
Eksis di atas sepeda masing-masing
Sesampai di pulau pari ternyata pak ujang sudah menunggu kami di tepian. Dia menawarkan sepeda untuk menuju Pantai Pasir Perawan walaupun jaraknya bisa ditempuh dengan jalan kaki tapi karena untuk menghemat waktu makanya kami memilih bersepeda. Sepedanya seperti jenis sepeda yang dipersewakan di Kota Tua Jakarta. Saya pun memilih yang berwarna biru terlebih dahulu untuk menghindari sepeda warna pink. Mengayuh sepeda menuju Pantai Pasir Perawan memang tidak sulit dan tidak mungkin kesasar berhubung pulaunya juga tidak terlalu luas dan sepanjang perjalanan ada papan penujunk arah. Tidak berselang lama kami pun melihat pintu gerbang yang bertuliskan "Selamat Datang di Pantai Pasir Perawan Pulau Pari" itu artinya kawasan ini adalah pantai pasir perawan. Sebelum masuk kami harus terlebih dahulu memarkir sepeda dan membayar tiket masuk Rp.2.000,-. Pantai Pasir Perawan adalah salah satu bagian dari trip di Pulau Pari. Nama pasir perawan konon katanya bahwa disana pernah ditemukan mayat gadis di tepi pantai. Tapi ini juga belum tentu benar tergantung kita mau percaya atau tidak. Pasir putih, lapangan volli dan resort disekelillingnya itulah yang tergamabar dari pantai pasir perawan. Tidak banyak yang saya bisa jelajahi disini berhubung panas terik matahari dan rasa was-was ketinggalan kapal. kami memilih sebuah pondok menghadap ke laut untuk tempat duduk sambil menikmati Indah pantainya. Tempat ini sangat meneyenangkan di kala senja dan malam hari, tapi sayang kami tidak punya waktu untuk mewujudkan itu. Selang beberapa menit pak ujang menghubungi kami untuk menginfokan agar kemabali ke dermaga karena kapalnya sudah mulai berangkat. Tidak menunggu lama kami harus bergerak cepat, jika kami ketinggalan kapal maka kami harus menerima konsekuensi bermalam di pulau pari berhubung kapal yang akan kami tumpangi adalah kapal terakhir. Setelah sampai dermaga dan menemui Pak Ujang, ternyata kapalnya belum berangkat. Terlintas di pikiran saya, bagaimana seandainya jika saya ketinggalan kapal namun untungnya itu tidak terjadi. Kami mengumpulkan Rp.25.000,-/ orang untuk pembayaran tiket kapal yang akan membawa kami kembali ke jakarta. Terima kasih pak Ujang atas bantuannya selama di pulau nan indah ini. See U when I see U.

Pengeluaran:
  • Taksi Cempaka Puith - Muara Angke/Kaliadem                  : Rp. 25.000,-
  • Tiket penyebrangan Kaliadem - Pulau Pari                        : Rp. 40.000,-
  • Asuransi                                                                            : Rp. 2.000,-
  • Snorkling ( Sewa kapal, Perlengkapan dan guide )           : Rp. 100.000,-/orang
  • Sewa sepeda                                                                    : Rp. 10.000,-
  • Tiket masuk Pantai Pasir Perawan                                    : Rp. 2.000,-
  • Tiket penyebrangan Pulau Pari - Muara Angke                : Rp. 25.000.-
  • Taksi Muara Angke - Cempaka Putih                                : Rp. 20.000,- 
  • TOTAL : Rp. 224.000,-



79 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar