Lumbung Padi Sulawesi Selatan

Monday, January 27, 2014 muhammad akbar 15 Comments

Musim Tanam di Kampung Aka - Akae
Aka-Akae adalah salah satu kampung yang terpencil di kabupaten Sidrap, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan yang dikenal sebagai lumbung padi Sulawesi Selatan. Suatu sore saya menyaksikan para petani sedang menanam padi. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya petak-petak sawah, ada satu hal yang patut diteladani adalah warga disini selalu bekerja sama dan saling membantu di kala musim tanam karena masyarakat desa Aka-akae masih memegang teguh prinsip gotong royong. Apakah diluar sana prinsip gotong royong masih ada?

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan edisi 34 dengan tema Kampung oleh www.mondasiregar.com

15 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Sop Saudara Asli Pangkep Jalan Irian Makassar

Saturday, January 25, 2014 muhammad akbar 27 Comments

Sop Saudara Jalan Irian
Sop Saudara merupakan kuliner khas Pangkep, Sulawesi Selatan berupa hidangan berkuah dipadukan dengan daging sapi, bihun dan perkedel kentang. Semangkok Sop Saudara dihidangkan dengan sepiring nasi. Sop Saudara memang berasal dari kabupaten Pangkep sekitar 60 km dari kota Makassar. Jika berkunjung ke Pangkep maka sering ditemui Warung Sop Saudara + Ikan bolu bakar (ikan bandeng) di pinggir jalan. Pangkep memang dikenal sebagai kota ikan bolu, jadi kebanyakan warung memadukan sop saudara dan ikan bolu karena itu sudah satu paket yang tak terpisahkan. 

Sop saudara juga diartikan sebagai Saya Orang Pangkep Saudara!!!

Dengan semakin dikenalnya kuliner khas pangkep ini, maka di kota Makassar pun semakin banyak warung yang menyajikan Sop Saudara, namun ada beberapa warung tidak menghidangkan menu ikan bolu bakar. Walaupun sudah ada di kota Makassar namun ada satu hal yang tak pernah hilang, dimana nama warungnya selalu dengan nama Warung Pangkep walaupun berada di Makassar.

Saat ini Sop saudara merupakan salah satu kuliner yang patut dicoba jika berkunjung ke Makassar. Sebagai orang Makassar saya sangat merekomendasikan Warung Pangkep Sop Saudara Jalan Irian, tentunya berlokasi di jalan Irian sesuai dengan namanya. Tak sulit untuk menemukan warungnya karena berada di pinggir jalan dekat dari Pasar Sentral Makassar, selain itu juga dekat dari Lapangan Karebosi Makassar. Oiya, jalan irian saat ini sudah berganti nama dengan jalan Dr. Wahidin S. Husodo tapi yang paling dikenal masih jalan irian. Jika anda masih belum mengerti dan takut tersesat silahkan bertanya di tukang becak yang berjejer rapi di depan Karebosi Link dengan senang hati anda akan diantar.

Papan nama Warung Pangkep Sop Saudara Jalan Irian
Sop Saudara Jalan Irian sudah sangat terkenal dan menjadi tempat favorit berburu kuliner, terlihat dari tempat duduknya yang penuh bahkan untuk duduk pun saya harus mengantri. Warungnya berada di kompleks ruko jadi duduknya memanjang kedalam. Saya memesan Sop Saudara + nasi dan minumnya teh botol. Dengan perasan jeruk nipis dan sedikit kecap dan saos, tak lupa juga saya menambahkan telur itik rebus.  Hanya ada satu kata untuk cita rasanya manyyoooosssss.

Cita rasa bumbu rempah-rempahnya sangat terasa nikmat dan membuat saya semakin lahap. Selain Sop saudara ada juga menu lain yang bisa anda coba, ada konro, kikil, paru dan lidah. Semuanya punya cita rasa sendiri, tapi saya belum mencoba menu lainnya selain sop saudara. Semangkok sop saudara dengan sepiring nasi dihargai dengan Rp. 25.000,-.

Berkunjung ke suatu tempat tanap mencoba aneka kulinernya itu rasanya kurang lengkap. Jika anda berkunjung ke kota Makassar, patutlah melipir ke Warung Pangkep Sop Saudara Jalan Irian untuk menikmati menunya yang manyoos. Lebih penting lagi untuk diketahui kalau Warung Sop Saudara juga buka selama 24 jam. Lapar tengah malam, sop saudara bisa jadi solusinya.

Paket Manyooss
Menu Konro Makassar
Tampak Dalam Warung
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

27 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Pantai Losari 2014 : Anjungan Toraja - Mandar

Friday, January 17, 2014 muhammad akbar 40 Comments

Berkunjung ke Makassar tanpa ke Pantai Losari itu terasa kurang lengkap. Apalagi dengan adanya reklamasi Pantai Losari yang membuatnya semakin indah dan tertata rapi. Pantai Losari sudah tak sendiri dan kesepian lagi, jika setahun sebelumnya sudah diperkenalkan Anjungan Bugis - Makassar maka di penghujung tahun 2013 kembali diperkenalkan Anjungan Toraja - Mandar. Struktur bangunannya hampir mirip dengan adanya patung khas dari masing - masing daerah.

Awalnya Sulawesi Selatan memang terdiri dari 4 suku yaitu Bugis, Makassar, Toraja dan Mandar namun semenjak terbentuknya Provinsi Sulawesi Barat maka suku Mandar terpisah dari Sulawesi Selatan. Tak perlu kecewa, karena sejarah telah mencatat bahwa suku Mandar tetaplah bagian dari masyarakat Sulawesi Selatan terbukti dengan adanya Anjungan Mandar. Intinya Pantai Losari sekarang semakin lengkap dan keren, anda penasaran bagaimana bentuk Anjungan Toraja mandar. Untuk lebih lengkapnya ikuti penjelasan dibawah ini.

ANJUNGAN TORAJA
Anjungan Toraja berada di kawasan jalan penghibur tepatnya di sebelah utara tulisan Pantai Losari. Terdapat tulisan TORAJA sebagai tanda bahwa adanya suku Toraja di Sulawesi Selatan. Bukan hanya itu, ada juga patung tedong bonga, perempuan penari dengan pakaian adat toraja dan miniatur rumah adat tongkonan. Terkhusus untuk patung tedong bonga sangat terpampang jelas dengan corak warnanya yang khas. Tedong Bonga (Kerbau Belang) di Toraja itu harganya sangat mahal jika dirupiahkan sekitar ratusan juta dan biasa dijadikan persembahan upacara adat untuk para kalangan atas. Kesimpulannya Jika tak punya banyak waktu untuk berkunjung ke Toraja, cukup datang ke Pantai Losari namun itu tak cukup mengenal lebih dalam tentang Toraja.

Suku Toraja dikenal dengan kearifan lokalnya tentang memaknai arti sebuah kematian dan pemakaman. Ada banyak tourist asing dan lokal berkunjung ke Toraja karena rasa penasarannya dengan upacara adat Toraja yang mengadakan pesta ketika ada sanak keluarganya yang meninggal. Jangan heran jika destinasi wisata di Toraja kebanyakan kuburan dan upacara adat walaupun panorama alam Toraja juga tak kalah indahnya. Tak hanya itu rumah adat Toraja dikenal dengan rumah Tongkonan yang memiliki bentuk yang berbeda dengan rumah adat lainnya. Jika ingin lebih mengenal toraja baca disini

Anjungan Toraja
Patung Penari dengan Baju Adat Toraja
Tedong Bonga
Miniatur Rumah Adat Tongkonan

ANJUNGAN MANDAR
Anjungan Mandar terletak di sebelah utara Pantai Losari tepatnya sebelum anjungan Toraja. Terdapat tulisan MANDAR yang mengartikan suku Mandar. Tak hanya itu terdapat pula tiga buah bangunan permanen yaitu Patung Pa'tenun, perempuan Penari dan Miniatur Rumah Adat. 

Patung Pa'tenun karena suku Mandar terkenal dengan sarung sutra mandar atau lebih dikenal lipa' sabbe yang merupakan hasil karya seni para pengrajin yang kebanyakan dari ibu-ibu. Lipa' sabbe bisa digunakan untuk acara saat prosesi adat dan bisa dijadikan cindera mata jika berkunjung ke daerah Mandar. Proses pembuatannya pun membutuhkan waktu sekitar dua atau tiga minggu, adapun harganya berkisar Rp. 300 ribu per lembarnya.

Suku Mandar juga terkenal dengan Perahu Sandeq. Kata sandeq yang berarti runcing, memang dari segi bentuk perahu sandeq terlihat runcing. Perahu sandeq sudah sangat dikenal bahkan setiap tahun selalu diperlombakan sebagai olahraga bahari tahunan. Saya pun sempat menyaksikan lomba perahu sandeq 2013 yang mengarungi laut dari Sulawesi Barat dan finish di Pantai Losari. Tak tahu kenapa perahu sandeq tak dibangunkan patung juga di Anjungan Mandar sebagai ciri khas dari Mandar.

Anjungan Toraja
Landscape Anjungan Toraja
Patung Pa'tenun Lipa' Sabbe
Perahu Sandeq dalam Lomba Sandeq 2013
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

40 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Semarang Trip (part 2) : Catatan Pendakian 10 November Gunung Ungaran

Wednesday, January 15, 2014 muhammad akbar 32 Comments

Menikmati senja di Simpang Lima Semarang sambil menikmati semangkok soto semarang, salah satu kuliner kota semarang yang membuat saya sangat lahap. Sore itu, saya menunggu kabar dari sept yang akan mengajak saya ke Gunung Ungaran, seorang yang saya kenal dari group FB Backpacker Semarang. Dia bersama temannya akan muncak di Gunung Ungaran. Gunung Ungaran sendiri memiliki ketinggian 2050 mdpl, terletak di kawasan wisata sidomukti. Awal ke Semarang niat awalnya saya hanya ingin mengitari semarang di malam hari malah berubah haluan naik gunung dan memilih ikut dengan mereka. 

Sept menjemput saya di Taman KB, tak jauh dari kawasan Simpang Lima. Kemudian kami menuju Indomaret untuk membeli cemilan dan minuman untuk bekal, selanjutnya menuju ke STEMBA (STM Pembangunan) Semarang. Disana sudah menunggu beberapa orang yang akan ikut juga bersama kami muncak, ada Septian, Rizky, Dedy, Fitry dan Sept. Sebelum berangkat kami sholat isya di mushollah sekolah. Tepat pukul 20.00 kami berangkat bersama meninggalkan semarang menuju Sidomukti dengan mengendarai motor. 

Perjalanan menuju Sidomukti melewati jalan poros Semarang - Jogja kemudian belok kanan ke arah kawasan wisata Sidomukti. Cuaca dingin Sidomukti mulai terasa dan gemerlap lampu kota semarang sangat indah dan menakjubkan. Saya tak hentinya memperhatikan kelap kelip kota semarang sambil mengendarai motor (jangan ditiru). Kawasan wisata sidomukti juga merupakan tempat favorit para muda-mudi ababil  "cabe cabean" yang berduaan di pinggir jalan. Saya sedikit iseng mengganggu mereka dengan memainkan lampu motor, seketika juga mereka terlihat panik dan berhenti dari aktivitas yang membuat mereka merasa dunia ini sudah milik mereka berdua.(maaf yah, cuma iseng)  

Tak terasa kami sudah berada di gerbang Umbul Sidomukti, kawasan wisata outbond yang sudah sangat terkenal. Sebelum masuk kami harus bayar iuran masuk 3000,-/ motor. Berhubung tujuan kami di pos mawar, maka kami tetap melanjutkan perjalanan. Butuh waktu sekitar 15 menit dari pintu masuk ke pos mawar, pos terakhir atau pos pelaporan sebelum muncak. Kami tiba sekitar pukul 21.30, ternyata malam ini sudah beberapa motor sudah terparkir dan ada banyak orang yang akan muncak malam ini. Saya baru sadar ternyata besok adalah 10 November 2013, makanya banyak orang naik ke Gunung Ungaran untuk merayakan Hari Pahlawan di puncak.

Sekitar pukul 22.00 kami meninggalkan pos mawar. Sebelum berangkat terlebih dahulu kami berdoa bersama agar perjalanan malam ini kami semua diberi kesehatan dan keselamatan, Rezky yang memimpin doa malam itu, seorang yang saya kenal sangat humoris dengan segala kelucuannya. Inilah perjalanan muncak terekstrim yang pernah saya jalani, dimana kami muncak tanpa ada yang bawa tenda, matras, kompor dan nesting, betul - betul perjalanan yang luar biasa. Kami memang niatnya hanya pulang pergi (PP) jadi tak perlu membawa peralatan lengkap, kami hanya membawa perlatan pribadi masing-masing. Ada yang lebih ektrim lagi, diantara kami berenam ternyata belum ada yang pernah naik ke Gunung Ungaran bahkan Dedy dan Fitry ini adalah awal dia mengenal naik gunung. Entah kenapa saya percaya saja dengan kelompok mereka, mungkin karena Rizky, Septian dan Sept sudah pernah ke Gunung Merbabu dan Merapi. Tak perlu khawatir karena jalur Gunung Ungaran sangat jelas dengan tanda - tanda yang sudah dipasang permanent. Ada banyak tanda yang mengarahkan perjalanan kami.

Kami berjalan beriringan sambil bercerita satu sama lainnya dan saya juga mencoba mengenal mereka satu sama lainnya. Sepanjang perjalanan kami diiringi oleh musik dari handphone yang dibawa rizky membuat kami menikmati setiap langkah demi langkah sehingga perjalanan kami tak terasa. Terkadang kami harus saling mengabari jika sudah mulai berjalan berjauhan. Kami juga tak sungkan untuk istirahat jika salah satu kami ada yang lelah. Terkadang banyak pendaki yang terlalu memaksakan berjalan tanpa melihat kondisi timnya atau dirinya sendiri, itulah mengapa kita tak harus malu untuk bilang capek. Bagi saya pribadi, jalur Gunung Ungaran sangat bersahabat untuk para pendaki pemula tapi saya tidak pernah sama sekali meremehkan karena setiap gunung punya cerita dan tantangan sendiri.

Tak terasa kami sudah tiba di desa Promasan, kami istirahat agak lama bahkan saya sempat tertidur sejenak. Berdasarkan lembaran peta yang diberikan di pos mawar, ini masih 1/4 perjalanan. Kami melanjutkan kembali perjalanan menuju pos bukaan, pos yang berada dikawasan kebun teh. Kami sepakat untuk istirahat di pos bukaan untuk pemulihan tenaga sebelum zummit attack. Perjalanan disini sedikit lebih mudah karena kami hanya mengitari jalan desa.

Sebenarnya selain pos mawar kita juga bisa juga memilih jalur Promasan untuk menuju Gunung Ungaran. Terlihat beberapa tenda di pinggiran kebun teh, saya mengindikasikan bahwa inilah pos bukaan sesuai dengan petunjuk dari peta. Berhubung kami tak bawa tenda, maka untuk malam ini kita hanya istirahat di pinggiran kebun teh dan mendekati api unggun yang telah dinyalakan salah seorang pendaki. 

Sekitar pukul 03.00, sept membangunkan saya dari tidur saya yang lelap walaupun hanya tidur beralaskan tanah dan beratapkan langit. Saya memang tergolong orang yang mudah tidur. Sudah waktunya zummit attack, saya mengumpulkan semangat dan tenaga untuk bisa melihat matahari 10 November di puncak Gunung Ungaran. Saya sangat bersemangat karena dengan semangat kita bisa melupakan rasa capek dan mengurangi rasa lelah. Banyak pendaki yang gagal sampai di puncak karena tidak punya semangat. Perjalanan dimulai dengan jalanan yang masih landai mengitari kebun teh, namun selang beberapa menit tiba-tiba hujan pun turun. Saya masih berjalan kedepan dan menghiraukan hujan karena menurut saya ini hanya hujan sementara tapi tenyata Dedy ragu untuk melanjutkan perjalanan, raut muka Fitry pun ragu untuk lanjut. Rizky dan Septian mencoba untuk memahami mereka tapi entah kenapa saya sedikit egois dan mencoba untuk meyakinkan mereka bahwa ini hanya hujan sementara dan itu sering terjadi area ketinggian seperti ini, Sept mencoba pula meyakinkan mereka dan tanpa ada rasa keraguan dari raut mukanya untuk tetap lanjut. Akhirnya mereka nurut juga untuk lanjutkan perjalanan. Mereka mengeluarkan mantel dari tas mereka masing - masing dan saya hanya bermodalkan jaket. Bagi saya ini tidak jadi masalah asal kami tetap melanjutkan pendakian.

Jalur menajak dan licin menjadi tantangan sendiri bagi kami. Halang rintang kayu yang membuat kami harus merangkak untuk melewatinya. Kami tetap mencoba untuk tidak berjalan berjauhan karena kabut sudah mulai turun juga. Saya teringat perjalananku ke Gunung Bawakaraeng 3 bulan lalu yang tiba di puncak dalam kondisi badai dan berkabut, apakah kali ini saya akan merasakan hal yang sama. Saya tak menghiraukan itu, puncak adalah tujuan tapi langkah menuju puncak adalah segalanya, itulah pemikiran saya saat itu. Berjalanlah karena rahasia tuhan kita tidak pernah tahu. Kami tetap berjalan menembus kabut dan melawan waktu yang sedikit lagi matahari akan terbit. Saya sudah tak berharap banyak untuk tiba di puncak sebelum matahari terbit, tapi tuhan berkata lain kami tiba di pra puncak dengan penuh harapan. Awan hitam yang menutupi sang mentari kini mulai bergeser membiarkan cahaya matahari menyapa kami dengan kehangatannya. Sungguh terharu bisa menyaksikan matahari pagi ini, kami bersuka cita menyambutnya. Wajah lelah diantara kami terbayarkan juga.

Matahari Pagi 10 November 2013
Menyapa Keindahan Indonesia
Kami bersuka cita dengan pencapaian kami dan mengapresiasi segala usaha dan kerja keras kami hingga bisa berada di titik ini. Kami sempatkan beribadah kepada sang khalik dengan menunaikan sholat subuh berjamaah. Selanjutnya kami beristirahat sejenak sambil menikmati logistik yang kami bawa, kami berbagi dengan lainnya. Cerita perjalanan dari tadi malam masih terbersit di pikiran kami masing-masing.

Kami tersadar bahwa kami masih berada di pra puncak, itu artinya kami harus lanjutkan perjalanan lagi. Para pendaki  yang lain mulai berdatangan dan mendahului kami. Setelah kami merasa cukup lama istirahat kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Puncak Gunung Ungaran sudah terlihat, semangat kami semakin bertambah pula. Jalur kali agak menanjak lagi tapi lebih mudah karena matahari sudah menerangi langkah kami.


Jalur Menuju Puncak
Akhirnya kami tiba di puncak Gunung Ungaran yang mana memiliki ketinggian 2050 mdpl. Beberapa pendaki sudah memenuhi puncak. Puncaknya sendiri memiliki tanah yang landai dan terdapat tugu yang di bangun oleh militer setempat dan terdapat pula sebuah tiang berdiri kokoh mengenggam bendera merah putih.

Inilah akhir dari perjalanan dengan menapaki jejak - jejak sejarah para pahlwan yang telah mendahului, dengan mengorbankan jiwa raganya demi merah putih. Setelah istirahat sejenak kami yang sudah tergabung dari beberapa kelompok pendaki  dan akan melakukan upacara bendera hari pahlawan dengan dipimpin oleh seorang pemuda yang kami percayakan. Ada ratusan orang memberi hormat dan melantunkan Indonesia raya. saya terharu, bergetar dan merinding mendegar dentuman suara teman-teman, ini upacara terkhitmat yang pernah saya ikuti walaupun tanpa susunan konsep tapi kami sangat merasakan aura nasionalime upacara kali ini. Setelah Indonesia raya, dilanjutkan lagu padamu negeri, dan ditutup lagu syukur. Saya merasakan betul arti sebuah perjuangan walaupun masa kami tidak melawan penjajah tapi kami melawan bangsa kami sendiri. Semoga kami dapat mengambil pesan dari pendakian ini agar jiwa nasionalisme semakin membara dan tak akan lekang oleh waktu dan zaman.

Upacara Hari Pahlawan 10 November
Hormatku untuk Pejuang Indonesia
Jempol untuk Indonesia dengan background Gunung Merbabu
Setelah tujuan kami tercapai kami pun turun kembali menuju pos mawar. Perjalanan turun lebih cepat tapi tak semudah yang dibayangkan. Saya harus menahan kaki agar tak tergelincir turun. Untuk sampai di pos mawar, perjalanan sekitar 3 jam itupun sudah jalan sedikit lambat karena kami berlama - lama menikmati udara pagi di kebun teh promasan .

Sebelum menutup catatan perjalan saya, tak lupa saya ucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan dan keselamatan kepada kami selama pendakian. Terima kasih pula untuk teman muncak saya, kalian semua luar biasa. Semoga bisa mencapai puncak yang lain di lain kesempatan.

Best Travelmate Gunung Ungaran 2050 mdpl
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

32 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Al Hilal Katangka, Masjid Tertua di Sulawesi Selatan

Wednesday, January 08, 2014 muhammad akbar 8 Comments

Masjid Tua Al Hilal Katangka

 Masjid Al Hilal Katangka (1603) merupakan bangunan sejarah dan ditetapkan sebagai masjid tertua di Sulawesi Selatan, sesuai dengan plakat oleh Dirjen Depdikbud pada tanggal 6 februari 1981 yang terpasang di dinding pintu utama. Bangunan dengan ciri khas satu kubahdan atap dua lapis menyerupai bangunan joglo. Tak hanya itu di bagian dalamnya terdapat mimbar dengan ukiran arsitektur china dan terpasang dua buah bendera pinggir kiri kanannya. Masjid ini terletak di kabupaten Gowa, tepatnya berada di kawasan makam raja-raja gowa dan makam syekh yusuf. Masjid ini juga merupakan simbol jejak sejarah islam di Kerajaan Gowa Tallo, yang didalam sejarah merupakan awal masuknya islam di Pulau Sulawesi. 


Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan edisi 33 dengan tema Rumah Ibadah oleh http://ceritasikiky.wordpress.com/


8 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Rasakan Sensasi Liburan Bersama Withlocals

Tuesday, January 07, 2014 muhammad akbar 19 Comments

Dunia travelling saat ini sangat berkembang pesat. Informasi tentang destinasi liburan sangat mudah didapatkan. Peran travel blogger tak bisa dipungkiri dalam mempromosikan daerah wisata, sejalan dengan itu maka animo orang-orang untuk melakukan perjalanan mengunjungi tempat baru dan merasakan sesuatu yang baru semakin meningkat pula. Namun jika berbicara tentang destinasi liburan, setiap orang pasti punya jawaban yang berbeda. Semuanya tergantung dari kesukaan anda, apakah anda tergolong seorang yang menyukai wisata outdoor atau indoor, wisata kuliner, wisata sejarah dan wisata belanja. Bahkan ada juga beberapa orang yang lebih menyukai berkunjung ke suatu tempat untuk bercengkrama dengan masyarakat lokal. 
" Apapun destinasi anda tentu punya cara sendiri untuk mewujudkanya " 

Banyak hal mode travelling yang bisa dipilih, ada yang lebih menyukai paket tour dimana kita tinggal bayar sesuai dengan paket yang diinginkan kemudian kita tinggal mengikuti jadwal liburan yang sudah ditentukan. Ada juga mode travelling share cost dimana kita mencari beberapa orang yang sesuai dengan tujuan liburan kita, kemudian seluruh biaya akan dibagi rata sesuai dengan jumlah orang. Disamping itu ada juga mode travelling solo travelling dimana kita sendiri yang menentukan destinasi liburan kita mau kemana dan seluruh biaya akan menjadi tanggungan sendiri. 

Pengalaman traveling saya masih di Indonesia. Namun beberapa mode travelling sudah pernah saya lakukan. Ketika saya ikut one day trip 3 pulau di Kepulauan seribu, saya memilih ikut paket tour di salah satu travel agent. Saya bertemu dengan banyak orang namun saya merasa kurang bebas, intinya saya seperti orang yang hanya nurut kemana orang pergi maka saya juga harus kesana. Ketika saya ke Cavetubing Kalisuci di Jogjakarta, saya mengajak beberapa teman untuk ikut body rafting dengan sistem share cost tapi saya mengalami kesulitan mencari teman dan meyakinkan mereka bahwa liburan akan menyenangkan. Ada lagi ketika saya ke Semarang, saya hanya seorang diri berkeliling kota semarang mengunjungi Kota Lama, Lawang Sewu, Mesjid Agung Jawa Tengah dan mencicipi Soto Semarang. Saya yang menentukan sendiri destinasi saya mau kemana dan seluruh biaya yang saya keluarkan. 

Setiap liburan saya punya sensasi dan cerita yang berbeda, hal ini yang membuat saya sudah kecanduan untuk terus berjalan dan menemukan hal-hal yang baru dalam hidup saya. Mode travelling yang saya jalani terasa kurang lengkap dan saya menginginkan mode travelling yang membuat saya bebas, biaya murah dan tentunya saya bisa bercengkrama dengan masayarakat lokal. Saya pun menemukan withocals, dengan mode travelling yang berbeda.

Withlocals adalah terobosan mode travelling dari belanda yang beroperasi di wilayah asia. Ada beberapa negara yang sudah terdaftar seperti Thailand, Vietnam, Srilangka, Singapore, Nepal, Malaysia dan Indonesia. Konsepnya sebagai perantara turis dan dan penduduk lokal. Ada 3 hal yang yang bisa kita lakukan Eat with locals, Tours with locals dan Activities with locals. Withlocals akan membuat liburan terasa lengkap dengan konsep simbiosis mutualisme, dimana turis dan penduduk lokal memiliki keuntungan masing-masing. Turis akan merasakan pengalaman baru sedangkan penduduk lokal akan mendapatkan pendapatan lebih.
 
Batik Workshop with Ibu Susi, Jogja Indonesia
Relax Like a Local : Sticky Waterfall Thailand
Enjoy Organic Food, Bali Indonesia
Dengan withlocals sangat cocok untuk kita yang terkadang susah untuk berinteraksi dengan penduduk lokal dengan alasan yang berbeda. Tak perlu khawatir lagi, tinggal pilih destinasinya dan sesuaikan dengan hal apa yang ingin kalian dapatkan dari masyarakaat lokal. 


" selamat liburan dan rasakan sensasi yang berbeda bersama withlocals "

Nb: semua gambar dari withlocals

19 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar