Foto : Kawasan Kelapa Gading Jakarta

Thursday, February 27, 2014 muhammad akbar 16 Comments

View in The Night ( taken from top of Patra Jasa Hotel )
View in the Afternoon ( taken from top of Patra Jasa Hotel )
Kelapa Gading Jakarta Utara dikenal sebagai kawasan metropolitan yang tertata rapi dan sangat berkembang pesat. Kota Metropolitan diindikasikan dengan banyaknya gedung bertingkat. Mall Of Indonesia, Mall Kelapa Gading dan Apartemen Summarecon Agung dan gedung bertingkat lainnya adalah pemadangan pavorit saya di kala malam hari dimana saya dapat menikmati indahnya kelap kelip lampu. Dibalik keindahannya di malam hari tersimpan kesemrawutan, kawasan Kelapa Gading - Jalan Layang Cempaka Putih merupakan sarang kemacetan pada saat sore hari menjelang malam. 
 
" Kelapa Gading dalam pandangan dua sisi yang berbeda "

Foto ini diikutsertakan dalam Turnamen Foto Perjalanan edisi 37 dengan tema Pencakar Langit oleh 
www.catatanruslan.blogspot.com

16 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Liburan Bersama di Air Terjun Tirtosari Sarangan

Tuesday, February 18, 2014 muhammad akbar 18 Comments

Kunjungan saya di Telaga Sarangan dalam sebuah liburan bersama teman, liburan kali ini lebih banyak mengikuti jadwal yang sudah diatur. Sesuai dengan schedule, hari minggu pagi tanggal 26 januari 2014 kami akan menuju Air Terjun Tirtosari yang lokasinya sekitar 3 km dari Telaga Sarangan. Berhubung Lokasinya yang tidak terlalu jauh maka kami memutuskan untuk berjalan kaki sambil olahraga pagi. 

Semua diharapkan berkumpul di depan hotel sesuai dengan waktu yang ditentukan, namun pada akhirnya beberapa teman terlambat termasuk saya sendiri dan teman lainnya. Bak gayung bersambut membuat pembimbing melampiaskan kemarahannya atas kelakuan kami yang tak menghargai waktu. Ada benarnya juga, dimana kami harus memperhatikan hal-hal yang kecil.

Perjalanan dimulai dengan kami berjalan beriringan menuju lokasi air terjun, dimana lokasinya berada di sebelah barat daya Telaga Sarangan, untuk menemukannya sangat mudah dimana di depan pintu gerbang masuk terdapat tugu pesawat tempur lengkap dengan pesawat tempurnya. Melalui pintu masuk hanya dengan melemparkan senyum dan lambaian tangan ke penjaga karcis karena semua karcis sudah dibayarkan jadinya kami hanya lewat saja. Harga tiket masuknya Rp. 7.000,-/orang.

Pemandangan yang Terlihat Menuju Air Terjun Tirtosari
Melewati pintu gerbang terdapat dua jalur, jalur pejalan kaki dan jalur kendaran bermotor. Pengunjung yang punya kendaraan bisa memilih jalur pertama sampai di desa terakhir kemudian melanjutkan jalan kaki sekitar 1 km. Kami meimilih jalur kedua sesuai dengan kesepakatan awal kami ingin berjalan kaki maka kami lebih memilih jalan setapak yang diperuntukkan untuk pejalan kaki. Menyusuri jalan setapak permanent dimana pemandangan yang disuguhkan sangat indah memanjakan mata kepada setiap orang yang melihatnya. Saya sangat menikmati setiap langkah demi langkah menyusuri perbukitan ditemani pemandangan sawah yang tersusun dengan rapi dan sesekali kabut tipis berseliweran, sungguh pemandangan yang hanya bisa di dapatkan di Sarangan. Terlihat sebuah desa yang terletak di sebuah lembah yang diapit oleh dua buah gunung. Betapa beruntungnya masyarakat yang tinggal disini dimana setiap hari bisa menikmati udara segar dan pemandangan nan elok setiap pagi, kontras dengan kehidupan di perkotaan yang penuh dengan kemacetan dan kesemrawutan.

Hampir setiap sudut yang kami lewati seakan menarik kami untuk mengabadikannya dengan foto kebersamaan. Seperti semut menemukan gula, ibaratnya dengan beberapa teman saya dimana jika sudah melihat kamera makan dalam hitungan detik semua sudah berkumpul untuk dijadikan model jepretan.

Jalan setapak yang kami tempuh itu panjangnya 3 km dan normalnya bisa ditempuh sekitar 45 menit, namun perjalanan kami berbeda, rasa capek menyusuri perbukitan membuat kami ngos - ngosan tapi rasa itu seketika hilang ketika melihat panorama keindahan sambil menghirup udara segar. Tak ayal lama perjalanan kami sekitar 1 jam lebih karena harus menuruni perbukitan sehingga terkadang harus melewati penanjakan yang membuat kami berhenti untuk istirahat. 

Setiap perjalanan itu harus dinikmati, bukan hanya bagaimana mencapai tujuan destinasinya

Foto Bersama Sambil Berjalan Menyusuri Jalan Setapak

Bendungan Aliran Air  Terjun Tirtosari
Air Terjun Tirtosari memiliki ketinggian air terjun sekitar 50 meter, airnya dingin karena lokasinya berada di ketinggian 1200 mdpl. Ada cerita yang berkembang, jika kita membasuh muka dengan air dari air terjun maka bisa membuat kita akan awet muda dan tampak cantik bagi wanita.

Tiba di lokasi air terjun membuat saya sedikit kecewa karena apa yang saya lihat jauh dari harapan. Pemandangan sepanjang jalan masih lebih indah jika dibanding Air Terjun Tirtosari, kenapa saya mengatakan hal itu karena Air Terjun Tirtosari sudah mengalami proses pemugaran dan dibangun jalan bertingkat sehingga terlihat seperti bendungan. Air terjunnya memang bertingkat tapi itu tidak terbentuk secara alami sehingga saya merasa kurang puas. Niat awalnya untuk mandi saya urungkan dan lebih memilih berdiam sejenak dan  mengambil beberapa jepretan lewat kamera. Saya juga lebih memilih menikmati segelas teh dan gorengan di sebuah warung dekat dari lokasi air terjun.

Memilih menikmati keindahan dengan cara saya sendiri karena persepsi keindahan tergantung cara kita menikmatinya.
 
Air Terjun Tirtosari
Pose Wajib #IndonesianHolic
This is Indonesia
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

18 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

My Daypack is My Travelmate (#WeAreTravelBlogger)

Thursday, February 06, 2014 muhammad akbar 58 Comments

My Daypack is My Travelmate
Setiap orang pastinya punya barang kesayangan, tentunya bermacam - macam baik yang bernyawa maupun yang tidak bernyawa. Ada teman saya seorang penyayang kucing yang tak perlu saya sebutkan namanya disini, intinya dia menghabiskan uang dan waktunya hanya untuk mengurusi kucing kesayangannya,  mengantarnya ke salon untuk perawatan, memberikan makanan khusus bahkan untuk mencegah dari virus setiap bulannya harus check up ke dokter hewan, bukan uang yang sedikit untuk itu melakukan itu semua. Teman saya ini sudah menjadi seorang budak untuk kucing kesayangannya, namun tak bisa dipungkiri jika saya juga seorang penyayang namun bukan penyayang kucing atupun hewan lainnya melainkan sayang terhadap wanita yang saya cintai.

Ngomongin tentang barang kesayangan tentunya saya lebih memilih si consi, ini bukan nama kucing ataupun hewan lainnya melainkan hanya sebuah tas. kenapa saya begitu sayangnya?? karena si consi sudah setia menemani saya selama tiga tahun semenjak kuliah sampai saat ini. Tas warna hitam dengan memiliki 3 sekat, punya tempat khusus untuk penyimpanan laptop dan bentuknya yang elegan dan nyaman berada di pundak.

Berhubung dengan adanya #WeAreTravelBlogger sebuah konsep lomba menulis dengan tema Ransel Kesayangan maka saya langsung teringat untuk menceritakan pengalaman ngetrip saya dengan si consi.

Tak salah kan jika saya memilih si consi sebagai barang kesayangan karena tak harus mengeluarkan banyak uang untuk proses perawatannya, cukup menyimpannya di tempat yang kering dan sesekali dicuci ketika mulai kotor. Setiap benda pastinya punya sejarah !!!  masih teringat jelas ketika saya membelinya menggunakan uang sendiri tanpa meminta dari orang tua. Jika kita menggunakan uang sendiri tentunya kita akan lebih sayang, begitupun dengan cinta jika melewati perjuangan yang berat untuk mendapatkannya maka kita akan susah untuk melupakannya. Ingat itu!!!

Tana Toraja
Pulau Kelor, Kepulauan Seribu
Pulau Onrust, Kepulauan Seribu
Tas kesayangan " si consi " selalu menemani saya tiap travelling ataupun tugas kerja,  jadi saya berpendapat bahwa dialah travelmate dan workmate yang tak tergantikan. Tiap travelling pastinya teman jalan berbeda atau berganti tapi tas saya tak pernah tergantikan. Catatan perjalanan selama tiga tahun tak bisa dihitung berapa mil sudah ditempuh. 

Sudah banyak cerita petualangan bersamanya. Tak ada destinasi khusus untuknya mau diajak naik gunung, susur pantai dan ngebolang semuanya bisa. Beda dengan teman jalan seringkali milih - milih destinasi tapi si consi tak pernah memilih destinasi mau diajak kemanapun pasti sanggup dan lebih penting tak pernah mengeluh. 

Memasuki tahun 2014 saya memilih untuk tidak membawanya lagi untuk ngetrip. Bukannya sudah tak sayang dengan si consi tapi dengan pertimbangan lain. Warna hitamnya mulai pudar tapi masih kuat walaupun salah satu resleting sekatnya terkadang susah untuk dibuka. Memilih untuk menyimpan sebelum menjadi benda yang tak berguna dan ujung-ujungnya dibuang atau dijadikan benda rongsokan dan saya tak mau itu terjadi dengan si consi.

Tentunya setiap traveller atau backpacker punya ransel kesayangan, yang selalu menemani seperti si consi saya ini, bagaimana dengan kamu ?? Ayo share ransel/daypack/carrier/tas kesayangan kamu di kolom komentar.

Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

58 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Pesona Keindahan Telaga Sarangan di Kaki Gunung Lawu

Thursday, February 06, 2014 muhammad akbar 27 Comments

Kunjungan ke Telaga Sarangan merupakan program liburan yang sudah terjadwal dari Instansi Pendidikan dan Pelatihan Cepu, tempat saya mengambil sertifikasi keahlian saat ini. Sebenarnya Telaga Sarangan adalah program liburan yang ketiga semenjak saya berada di Cepu. Sebelumnya kami sudah pernah ke Malang dan Jogja. Keduanya termasuk liburan yang tergolong mewah dan paling penting semuanya gratis. Waktu ke Malang kami menginap di Hotel Sahid Montana dan jalan-jalan ke Jatimpark 2 dan waktu ke Jogja kami menginap di Hotel Grand Zuri terus jalan-jalannya ke Candi Borobudur. hanya sekedar informasi

Entah kenapa setelah diumumkan bahwa kami akan liburan ke Sarangan saya tak begitu tertarik, tempat yang masih awam bagi saya pribadi. Saya juga tak terlalu bersemangat untuk mencari info lebih jelas. Kami hanya diinstruksikan untuk membawa jaket tebal karena cuaca disana sangat dingin.

Biarkanlah ini menjadi liburan yang berbeda dibanding liburan - liburan saya sebelumnya dimana setiap ingin mengunjungi tempat saya biasanya rajin browsing untuk cari info tempat menarik disekitarnya.
Pagi hari kami berangkat meninggalkan Cepu menuju Sarangan. Melintasi Bojonegoro, Ngawi dan Magetan. Setelah meninggalkan kota Magetan, kontur jalan mulai berubah yang tadinya landai menjadi menanjak, cuaca juga mulai berubah menjadi dingin dan gerimis. Pemandangan bukit - bukit berselimut kabut menemani perjalanan kami sampai tiba di sebuah jalan masuk telaga sarangan. Hanya sekitar 2 jam perjalanan untuk tiba di lokasi. 

Tiba di Telaga Sarangan saya sudah melihat hamparan air yang tertutupi kabut sehingga terlihat seperti laut. Lokasinya yang berada di atas gunung yang membuat saya berdecak kagum dan telah membuat saya tertipu karena sudah mengira telaga sarangan adalah laut kesasar di atas gunung. Telaga Sarangan adalah kawasan wisata Kabupaten Magetan, berada di ketinggian 1287 mdpl tepatnya di kaki Gunung Lawu. Memiliki kedalaman sekitar 14 meter dan luas sekitar 3 km. Sebenarnya Telaga Sarangan bukanlah nama sebenarnya melainkan Telaga Pasir tapi memang lebih populer dengan nama Telaga Sarangan.

Telaga Sarangan Mulai Tertutup Kabut
Untuk liburan kali ini kami menginap di Hotel Telaga Mas Internasional, hotel dengan dua lantai dan lokasinya persis berada di depan telaga dan bagian belakangnya adalah perkebunan warga. Hotelnya terbilang berumur tapi fasilitas kamarnya cukup memuaskan. Hawa dingin diluar membuat saya merasa betah dan malas beranjak dari kamar. Hawa yang dingin membuat saya lapar, itu sudah bagian yang tak terpisahkan.

Makanan sudah tersedia di ruang makan tinggal menunggu untuk dilahap, menunya bervariasi dan terlihat segar membuat nafsu makan saya lebih lahap dari biasanya. Sayur mayurnya terlihat lebih segar karena langsung didapatkan dari perkebunan warga yang ada disekitar hotel.

Berkunjung ke telaga sarangan adalah saatnya saya menikmati hari bebas tanpa ada beban, waktu dua hari sudah cukuplah bagi saya untuk menelusuri telaga sarangan dan sekitarnya. Telaga sarangan sudah didesain oleh pemerintah dan masyarakat setempat sebagai tempat wisata. Pengunjung bisa menikmati dengan fasilitas yang sudah tersedia seperti naik kuda Rp. 50.000,-/putaran menelusuri sepanjang pinggiran telaga atau naik speedboat Rp. 50.000,-/tiga putaran mengarungi Telaga Sarangan. Tak hanya itu bagi anda yang suka beli oleh-oleh, pengunjung dengan mudahnya mendapatkan di sepanjang jalan sebelah timur telaga.

Kawasan Pusat Oleh - Oleh Sarangan
Mengarungi  Telaga dengan Speed Boat
Malam pun tiba, dimana sebelumnya dari siang hingga sore kami menhabiskan waktu di tempat outbond. Pemandangan Telaga Sarangan di malam hari begitu indah, deretan villa memantulkan cahaya lampunya ke telaga merupakan sebuah keindahan tersendiri bagi saya. Apa yang terlihat sungguh memanjakan mata saya untuk terus memandanginya. Hawa udara semakin dingin tak menyurutkan langkah saya untuk berjalan menyusuri telaga untuk mencari spot - spot keindahan dari berbagai sudut pandang.

Warung makan mulai  menjajakan jualannya dari tadi sore hingga malam hari. Deretan warung dengan aneka kuliner Sarangan sudah tersedia, tergantung kita mau makan apa. Ada satu hal untuk berbeda, dimana jika anda adalah salah satu penyayang kelinci, saya sarankan jangan berkunjung kesini, kenapa? alasannya setiap warung menyajikan menu sate kelinci dan itu sudah menjadi kuliner khusus di Telaga Sarangan, harga satu porsinya Rp. 10.000,- sudah termasuk dengan lontongnya. Apakah anda tertarik?

View Telaga Sarangan di Malam Hari
Jika pemandangan tadi malam sangat indah, di kala pagi pun tak kalah indahnya. Panorama sunrise dan lautan awan menjadi pemandangan di pagi hari. Saya sudah menunggu indahnya sunrise walaupun sedikit terlambat karena bangunnya telat tapi masih sempat melihat gradasi warna langitnya yang tersusun dari deretan warna hitam, kuning keemasan dan biru mengingatkan saya sunrise di Bromo. Saya memilih duduk balkon belakang kamar karena viewnya langsung menghadap ke arah timur sambil menunggu matahari muncul. Saya melihat lautan awan yang sedikit bercampur kabut perlahan matahari pagi mulai muncul namun perlahan dengan pasti semakin tinggi meninggalkan peraduaanya dan menyapa dunia dengan hangat cahayanya.

View Sunrise dan Lautan awan dari Balkon Belakang Kamar
Panorama Telaga Sarangan di Pagi Hari
Aroma udara pagi hari sangat sejuk, terlihat banyak pengunjung yang jogging dan melakukan aktivitas pagi lainnya. Saya dan tiga orang teman memilih melakukan hal yang berbeda dimana kami berjalan menuju perkebunan warga di atas bukit, sehingga saya bisa melihat dengan jelas landscape Telaga Sarangan, sungguh indah pemandangan pagi itu. Sepertinya tak pernah habis kata untuk mendeskripsikan keindahan telaga sarangan. Saya bersyukur bisa menginjakkan kaki di Telaga Sarangan dan merasakan sendiri keindahannya.

Sebelum menutup tulisan ini yang penuh dengan sanjungan dan pujian, saya juga punya sedikit kritikan untuk para penyedia jasa naik kuda harap memperhatikan air kencing kudanya karena itu sangat mengganggu dengan bau pesin kuda sepanjang jalan. Ada satu lagi, kurang lengkap rasanya jika saya tak melakukan pose wajib di Telaga Sarangan sebagai bukti nahwa saya pernah berkunjung.

Pose Wajib #IndonesianHolic
Lets travel to experience the beauty of Indonesia
@indonesianholic
www.indonesianholic.com

27 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar