Belajar Banyak dari Pengalaman Trinity, The Naked Traveler

Wednesday, September 30, 2015 muhammad akbar 26 Comments

Seorang wanita mengenakan baju terusan warna biru dipadukan dengan celana jeans, tas selempang di sampingnya serta kacamata hitam di atas kepalanya. Dengan mudahnya dia membuka pintu dan memasuki ruangan kami, kemudian dia melambaikan tangan menyapa kami yang sedang asyik dalam diskusi kelompok, membahas tentang blog dan tulisan kami masing-masing yang dipandu oleh Kak Mumun.

Ini sebuah keberuntungan bagi kami, peserta #TravelnBlog 4 mendapatkan kesempatan bertemu dengan Mba’ Trinity, wanita yang menghabiskan waktunya selama 10 tahun keliling dunia. Dibalik catatan perjalanannya dia tuliskan di blog pribadi nya naked-traveler.com, bisa dikatakan dialah pelopor  penulis kisah perjalanan di Indonesia.
Talkshow Bersama Trinity 
Minggu sore, 27/9/2015, Acara Talkshow bersama Mba’ Trinity menjadi penutup dalam rangkaian acara #TravelnBlog 4. Kali ini Kak Mumun yang centil dan interaktif sangat tepat menjadi host, dia seolah menguasai acara sore itu, setiap pertanyaan yang disampaikan, seketika juga dijawab dengan lugas dan lucu yang membuat kita tertawa terbahak-bahak. Kadang juga saya tertawa, bukan dari cerita lucu Mba’ Trinity tapi tingkah spontan Kak Mumun.

“Dulu sebelum menulis di Blog, cerita perjalanan saya ketik manual, kemudian di copy untuk dibagi-bagikan” Kata Mba Trinity

Kedengarannya agak lucu, tapi itulah cerita awalnya. Setiap pulang dari jalan-jalan selalu diberondong pertanyaan, maka dia menuliskan setiap ceritanya untuk dibagi-bagikan ke teman-temannya. Tidak ada kesuksesan yang instan, semuanya melalui proses panjang, seperti halnya bayi yang baru lahir butuh proses untuk bisa berlari. Itulah hal yang dilalui Mba’ Trinity untuk menggapai kesuksesannya kini.

Sebelum menjadi freelance sukses seperti saat ini, dia memulainya dari pekerja kantoran, menabung dari gajinya perbulan demi hasrat jalan-jalannya. Hingga di suatu waktu, dia memutuskan untuk resign untuk menjadi traveler. Satu hal yang paling penting untuk diketahui, dia tidak pernah mengatakan dirinya adalah seorang backpacker, Terus dikatakan apa dong? Dia hanyalah seorang traveler biasa. Semakin salut deh, sifatnya selalu merendah walaupun sudah mengunjungi 69 Negara.

Suasana Talkshow bersama Trinity
Tidak mudah untuk menjadi konsisten, 10 tahun bukan waktu yang singkat. Sudah banyak temannya yang tergusur oleh waktu, namun dia tetap di jalur apa yang dia yakini sudah menjadi jalur hidupnya. Satu pesannya yang dia sampaikan di hadapan peserta #TravelnBlog, “Jadi penulis harus punya ciri dan menulislah dengan jujur. Tulislah apa yang kau lihat dan rasakan” katanya dengan tegas.

Siapa sih yang tidak mengenal Trinity? 11 buku setidaknya sudah menjadi saksi bahwa dia seorang penulis perjalanan terkenal, yang sebentar lagi akan hadir buku ke-12nya. Iya dia memang terkenal, seantero nusantara sudah mengenalnya, karyanya di berbagai media, baik itu di majalah,koran, radio, bahkan punya acara jalan-jalan sendiri di salah satu televisi swasta. segala prestasinya lebih lengkap kamu bisa baca disini

Ada cerita dibalik kepopulerannya, populer buka berarti hanya punya fans yang setia menunggu setiap karyanya tapi selalu ada juga haters yang selalu meluangkan waktunya untuk mengkritik setiap karyanya. Baginya haters tidak harus dibuat pusing karena tanpa dia layani, para fans setianya yang akan membalasnya.

“Buat haters, Pembalasan terbaik adalah tidak memperdulikannya”  kalimat ini yang membuat kita semua riuh dan bertepuk tangan.

Setelah dia menjelaskan panjang lebar kisah perjalanannya, kami pun diberikan kesempatan untuk bertanya. Bak gayung bersambut, saya pun mengankat tangan untuk bertanya. Setidaknya saya bertanya hingga tiga kali, terlalu serakah banget yah.

“Dalam kurun waktu 10 tahun, Bisa diceritakan pengalaman yang paling mengesankan tak terlupakan?” tanyaku dengan sedikit memaksa

“Ini pertanyaan paling sulit, karena setiap perjalanan semuanya berksesan” kata Mba Trinity

1 year round the world trip merupakan perjalanan panjang 1 tahun keliling 22 negara, ini salah satu perjalanan yang tidak bisa saya lupakan. Bukan tentang perjalanannya, tapi saya ingin membuktikan bahwa paspor Indonesia juga bisa keliling dunia. Saya ingin mengenalkan bahwa Negara Indonesia itu ada, karena di luar sana masih ada beberapa orang tidak mengenal Indonesia. Memang benar karena terkadang wisatawan asing lebih mengenal Bali dibanding Indonesia.

Tidak terlihat raut wajah yang kelelahan dari Mba' Trinity, padahal sudah hampir 2 jam kami membrondongnya dengan pertanyaan. Dia dengan semangatnya menceritakan detail demi detail hal yang kami tanyakan. Jika tidak ada waktu yang membatasi, mungkin tidak akan pernah usai, karena kisahnya tidak cukup habis untuk diceritakan.Ada kabar gembira buat kita semua, kulit manggis kini ada ekstrakya bahwa kisah perjalanan si naked traveler akan di filmkan di layar lebar, Tidak sabar rasanya menunggu film tersebut diluncurkan. 

Sebagai penutup, izinkan saya mengucapkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kesempatan untuk bertemu langsung, mengenal Trinity lebih dekat memberi saya aura semangat untuk menjelajah Indonesia dan melihat dunia.

Foto Bersama Panitia #TravelnBlog dengan Trinity
Foto Bersama dengan Seluruh Peserta #TravelnBlog4

P.S, All photos taken by Iphone 5s and from Twitter +TravelNBlog 

26 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

Menyusuri Jejak Sejarah di Pasar Baru Jakarta

Saturday, September 26, 2015 muhammad akbar 19 Comments

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya, banyak tempat yang sudah saya jelajahi sore ini namun entah kenapa, saya seolah tersugesti untuk mendekatinya obyek ini. Sesuatu itu berada di sudut ruangan, semburan cahaya dari lampu kuning diatasnya semakin memperjelas penampakannya. Saya mencoba mendekatinya, walaupun yang lainnya masih asyik dengan kegiatannya masing-masing.

Saya mencoba mendekat, kemudian saya melemparkan senyum tanda permisi kepada kedua orang di dekatnya. Bak gayung bersambut, salah satu diantara mereka membalas senyum sebagai pertanda izin untuk mendekatinya. Kini saya tepat berdiri di depannya tanpa ada sekat yang membatasi, saya pun dengan leluasa mebidiknya. Iya, saya terpesona oleh sebuah tulisan

Sejarah itu penting
Sadar atau tidak sadar, kalau sejarah itu penting agar kita tidak kehilangan identitas. Bukankah bung Karno sudah mengingatkan agar kita jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya memang bukan ahli dalam sejarah, tapi saya senang kalau orang ngomongin tentang sejarah apalagi kalau mengunjugi tempat-tempat bersejarah.

Sore ini 26/9/2015, saya bersama peserta #TravelnBlog mendapatkan kesempatan jalan-jalan di kawasan Pasar Baroe, kawasan yang penuh dengan sejarah Jakarta dengan sisa-sisa peninggalannya. Menelusuri jejak sejarah peninggalan Belanda bersama Jakarta Good Guide. Peserta dibagi dalam kedua kelompok, saya masuk di kelompok pertama bersama 16 peserta lainnya, kami dipimpin oleh kak Farid sebagai tour guide. 

Saya baru tersadar, kalau kawasan Pasar Baru itu punya nilai sejarah juga. Selama ini saya cuma taunya wisata sejarah itu di Kota Tua dan Monas. Kawasan Pasar Baru bukan cuma tentang Bakmi Aboen, Cakue Ko Atek, Es Kedondong dan Kue Ape. Ada banyak tempat-Mari simak penelusuran saya mengunjugi kawasan wisata sejarah Pasar Baru.

1. Sekolah Santa Ursula

Indonesia tetap berkibar
Kegiatan walking tour diawali dengan mengunjungi sekolah santa ursula, kesan pertama dengan gedung ini tidak ada yang terlalu istimewa, hanya sebuah gedung berasitek belanda. Namun yang membuat saya tertarik bahwa sekolah ini hanya menerima perempuan, tapi sampai kita meninggalkan sekolah ini, saya tidak kunjung melihat para siswi-siswi. 

Jadi dulunya Sekolah Santa Ursula, hanya dikhususkan untuk melayani anak-anak yang miskin, dimana mereka diajar oleh suster-suster dari Belanda. Semuanya berawal dari gagasan kelompok Noorwidjk mengutus Suster Angele Cleeren. 

Yuk, lanjut ke destinasi berikutnya

2. Gedung Filateli Jakarta

Gedungnya mirip stasiun jakarta kota
Tidak jauh dari Sekolah Santa Ursula terdapat Gedung Filateli. Tampak dari luar lebih mirip sebuah stasiun, namun ternyata ini bukanlah stasiun melainkan kantor pos. Iya, bangunan tua ini dulunya sebuah kantor pos, dijadikan sebagai kantor informasi oleh para pemerintah Belanda. 

Apakah ada yang tau, kenapa kantor pos warnannya orange? Tanya Farid

Saya langsung jawab kalau warna orange berasal dari negara Belanda, dan ternyata jawaban saya benar. Itulah sejarahnya kenapa kantor pos warnanya orange. 

Bagi pengoleksi perangko kamu harus datang kesini. Tepat disamping gedung filateli terdapat sebuah deretan toko kaki lima yang menjajakan aneka perangko beraneka macam, selain itu ada juga koleksi-koleksi tua lainnya. 

Lanjut lagi yuk, masih banyak banget....

3. Gedung Kesenian Jakarta
Gedung Kesenian Jakarta
Gedung Kesenian Jakarta jauh lebih tertata dan teratur dibanding dua bangunan sebelumnya yang kami kunjungi. Bangunannya sangat megah, tapi kami tak bisa masuk kedalam hanya bisa melihat dari luar.

Mungkin tidak banyak yang tahu,Gedung Kesenian jakarta ini dulunya adalah tempat dilaksanakannya sumpah pemuda pertama di tahun 1926. Setelah itu berlanjut menjadi bioskop di tahun 1968, namun hanya bertahan dua tahun. Kemudian berubahlah menjadi Gedung Kesenian Jakarta hingga saat ini.

4. Kantor Antara

Gedung Antara
Kawasan wisata sejarah Pasar baru itu terbagi dua, dipisahkan oleh kali ciliwung sebagai sekat pemisah antara pemerintah belanda dan pribumi serta masyarakat tiongkok. Pemerintah Belanda dipusatkan di sisi selatan, itu terbukti tiga gedung yang sudah didatangi meninggalkan kesan bangunan khas Eropa.

Tempat ke empat ini sebagai kantor surat kabar antara, bangunannya lebih terjaga. gedungnya terdiri dari dua lantai. Kunjungan kami kali ini lagi ada pameran foto masa proses kemerdekaan. Deretan foto berbaris rapi di sisi kiri dan kanan dinding, seolah kita terbawa dalam suasana kemerdekaan. 

Lanjut lagi yuk...
5. Pasar Baroe

Jalanan tengah pasar masih lowong
Kalau kami lihat dari atas pasar baroe ini seperti kelabang, memiliki satu jalan utama kemudian sisi kiri dan kanannya terdapat gang-gang kecil. Pasar baru sendiri sudah seperti pasar pada umunya, bahkan sudah ada toko Matahari di bagian tengah pasar.

Kami berhenti sejenak di sebuah warung minuman, yang menjual aneka minuman. Ada lemon tea, es cendol, es kelapa dan es kedondong. Terus saya beli apa? Saya hanya melihat mereka tanpa membeli, bukan karena tidak mau tapi karena saya tidak punya uang. Dompetnya tertinggal di Bus. sedih banget kan, cuma ngeliat merek minum, hanya bisa menahan air liur. Sedihhhh

6. Toko Kompak 

Toko Kompak
Bangunan tua yang sudah berumur 300 tahun dengan cat dasar merah, di depannya terdapat tulisan "Toko Kompak" yang sangat jelas. Ini bekas rumah mayor keturunan tiongkok, nama tokonya diubah karena aturan pemerintah dahulu untuk tidak menggunakan nama toko yang identik dengan tiongkok/china maka diubahlah dengan nama Kompak dengan tujuan agar yang tinggal di rumah ini selalu Kompak. Iya, dulu deskriminasi kepada etnis tiongkok sangat keras. untungnya sekarang sudah tidak.

"Silahkan dilihat-lihat asal jangan foto yah" celoteh penjaga toko

Kami masuk mengamati setiap sudut ruangan, iya kami cuma bisa melihat saja, tidak diperkenankan mengambil foto. Entah apa alasannya, saya pun tidak tau. Setidaknya kita harus mematuhi setiap aturan walaupun terkadang kita tidak mengerti.

Oiya didalam rumah terdapat sebuah ruangan yang luas, tempat ini dulunya dijadikan sebagai tempat ngumpul para keluarga atau mengadakan acara-acara. Tak hanya itu di sisi kiri dan kanannya terdapat sebuah pintu sebagai pintu penghubung.

7. Toko Lee ie Seng

1873 -2015, 145 tahun yang lalu
Selain Toko Kompak, terdapat juga toko tua yang sudah dibangun tahun 1873. Kini sudah berganti menjadi toko alat tulis. Tidak banyak saya ketahui tentang tempat ini karena saya sudah tertinggal dengan yang lainnya. Nanti lain kali, saya coba untuk menulusurinya lebih dalam lagi,

Saya sudah tertinggal di belakang, saya harus segera menyusul mereka...

8. Pecinan Hok Tek Bio

Belum masuk kedalam, kami sudah didatangi oleh pak tua yang meberikan buku yang berisi tentang sejarah Pecinan Ho Tek Bio. Aura penyambutannya sangat terasa bersahabat, beda dengan tempat lain sebelumnya agak sedikit jutek kecuali di Kantor Antara. 

Pecinan Ho Tek Bio sudah ada sejak 1968. Di dalamnya banyak banget lilin, mulai dari kecil-kecil hingga yang paling besar seukuran batang pisang. Setiap lilin ada namanya, mereka percaya bahwa nama di lilin itu akan memberikan penerangan. 

Selain lilin banyak juga patung-patung khas china, ukurannya juga ada yang kecil dan besar. Setiap patung memiliki arti tersendiri, paling saya ingat patung dewi kuwa'in. 

Kaki mulai pegal, tenggorokan semakin kering
Hingga tibalah di destinasi terakhir...
9. Gereja Ayam
Patung ayam di pucak gereja ini sebagai penanda arah
Gereja patung ayam menjadi destinasi terakhir, Kenapa dinamakan Gereja Ayam? bukan karena gerejanya mirip ayam tapi jika kamu perhatikan baik-baik, di pucuk gedung itu terdapat patung ayam. Ada filosofi dibalik ayam tersebut.

Ahh, akhirnya selesai juga. Secara keseluruhan perjalanan menyusuri pasar baru cukup melelahkan tapi sangat menyenangkan,  Sebelum menutup walking tour ini, saya sempat bertanya ke Kak farid tentang Jakarta Good Guide. Ternyata selain wisata sejarah Pasar Baru, masih ada lagi 4 paket wisata lainnya, ada Wisata Kota Tua, Monas, Glodok, dan Menteng. Kamu Tertarik ?

19 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh