Menyusuri Kawasan Menteng Bersama @JKTgoodguide
Kawasan menteng tidak
sekedar hanya kawasan perumahan elit Jakarta, tapi apakah kamu tahu kalau di
Menteng itu banyak catatan sejarahnya tentang pemimpin dunia, sebut saja
Soeharto, bapak presiden kedua Indonesia yang rumahnya di Jalan Cendana, ada
Obama si anak Menteng, presiden Amerika saat ini, yang pernah sekolah di SDN 1
Menteng, ada juga cerita Soekarno, yang lagi merundingkan teks proklamasi di
rumah Laksamana Maida. Menteng yang dulu masih seperti menteng yang sekarang,
ceritanya juga masih sama belum ada yang berubah.
Minggu pagi (18/10) saya
berjalan menuju Taman Suropati, lokasinya lumayan dekat dari stasiun Cikini,
tempat saya turun dari commuter line
kemudian melanjutkan jalan kaki ke Taman Suropati, lokasi meeting point pagi itu sebelum menyusuri kawasan menteng bersama
@JKTgoodguide. Ini walking tour kedua yang saya ikuti, sebelumnya saya sudah
ikut juga di walking tour Pasar Baru.
Konsep wisata yang ditawarkan @JKTgoodguide berbeda, dimana ingin mengenalkan
Jakarta tidak sebagai kota metropolitan tapi sebagai kota yang penuh dengan
sejarah masa lalu.
Pagi itu peserta lumayan
banyak, makanya kami dibagi beberapa kelompok. Saya tergabung dengan kelompok
dua bersama Citra, Adlin, Winny, Fahmi dan Putri. Ada banyak travel blogger
yang ikutan jadinya kami seperti kopdar
sambil berjalan, seperti Citra, blogger asal Aceh yang akhirnya kami dipertemukan di
acara walking tour ini.
“
Walking Tour Menteng kali ini kita akan mengunjungi 9 tempat bersejarah,
siapkan uang lima ribu dan dua ribu untuk tiket masuk dua museum yang berbeda ”.
kata pemandunya dalam briefing sebelum memulai walking tour
Saya semakin bersemangat
menyusuri kawasan menteng, Oiya ada yang tahu gak sejarah nama Menteng? Jadi
kata Menteng itu adalah nama sebuah pohon yang dulunya banyak tumbuh disini
tapi saat ini sudah tidak ada lagi, tapi jika penasaran seperti apa pohon
menteng itu, kita bisa menemukannya di Kebun Raya Bogor.
Taman Suropati - Gedung Bappenas - Gereja Paulus
Perjalanan dimulai dari Taman Suropati, taman yang sejuk nan
rimbun dengan pohon-pohon yang besar menjulang, ada air mancur dan ada juga
patung-patung. Patung yang ada di Taman Suropati merupakan sumbangan dari enam
negara pendiri ASEAN sebagai simbol persahabatan. Bentuk patungnya
bermacam-macam dan lokasinya ditempatkan secara terpisah
.
Selanjutnya berjalan menuju
depan Gedung Bappenas. Sebuah patung
Pangeran Dipenogoro dengan kudanya dibangun tepat diseberang Taman Suropati dan
dikelilingi Taman Bunga, tapi sayang banget ada banyak coretan-coretan dan bau
pesing yang menyengat.
| Tampak depan Gereja Paulus |
Gedung Bappenas hanya bisa
dilihat dari luar, tapi konon ceritanya gedung ini dulu bekas bangunan Belanda
yang dulunya dijadikan tempat berkumpul para penganut kepercayaan mistis.
Seberang Jalan Gedung Bappenas terdapat Gereja
Paulus, di ujung atapnya terdapat patung ayam. Mirip seperti Gereja Ayam di
Kawasan Pasar Baru, ceritanya juga sama. Sebenarnya pengunjung bisa masuk dalam
gereja tapi berhubung hari minggu jadi kita tidak diperbolehkan masuk dengan
alasan agar kami tidak mengganggu jemaat yang sedang beribadah. Disini kami
sempat ditegur oleh petugas keamanan.
“Dilarang
memotret disini, kalian ini darimana?” kata bapak kemanan lengkap
dengan pakaian seragamnya
“Maaf
pak, kami dari Jakarta Good Guide” Balas pemandu kami dengan
ramah
Belakangan baru saya tahu
kalau di daerah sini memang aturan memotretnya agak ketak, karena disini
terdapat banyak kantor kedutaan besar salah satunya kedutaan besar Amerika.
Museum Perumusan Naskah Proklamasi
Selanjutnya perjalanan
dilanjutkan menuju Museum Perumusan
Naskah Proklamasi, lokasinya tepat disamping Gereja Paulus. Tampak dari
luar hanyalah sebuah rumah tua dengan ciri khas arsitektur Eropa, tingkat dua dengan
warna dominan putih, Iya memang ini adalah bekas rumah yang dijadikan Museum Perumusan
Naskah Proklamasi.
Ada yang tahu tidak
sejarahnya? Kalau tidak, buka kembali buku sejarah. Jadi rumah itu milik
Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira tinggi angkatan laut Jepang. Sejak
penjajah beralih dari Belanda ke Jepang, rumah ini dijadikan sebagai kediaman
Laksamada Maeda. Ceritanya panjang, kenapa harus di rumah Laksamada Maeda?
ternyata perwira ini menaruh cinta terhadap Indonesia, hingga dia mau dijadikan
rumahnya sebagai tempat terjadinya peristiwa penting bangsa Indonesia walaupun
di akhir hayatnya dia dianggap sebagai penghianat oleh pemerintah Jepang, tapi
tidak usah khawatir pilihanmu sudah benar dan kami bangsa Indonesia akan selalu
mengenang jasamu Laksamana Maeda.
| Museum Perumusan Naskah Proklamasi |
Tampak dalam museum,
terlihat beberapa ruangan yang saling berhubungan, setiap ruangannya
memperlihatkan sedetail mungkin bagaimana cerita di rumah itu. Ada meja panjang
lengkap dengan kursinya, disitulah duduk Ir. Soekarno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo
sedang merundingkan naskah proklamasi. Di ruangan lain juga terdapat patung
bapak Sayuti Melik sedang mengetik naskah proklamasi yang sudah dirundingkan.
Kejadian malam itu benar-benar bisa dirasakan dengan jelas. Saya sungguh
beruntung bisa berkunjung kesini.
| Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan Ahmad Soebardjo lagi berunding, Bukan cinta segitiga yah!! |
| Naskah pertama teks Proklamasi, kalau kata-katanya tidak sesuai langsung dicoret. |
| Naskah Pertama Teks Proklamasi |
Didalam museum juga terdapat
beberapa hiasan dinding berupa foto para tokoh yang hadir di malam itu, lengkap
dengan biografinya. Juga terdapat sebuah ruangan yang saat ini dijadikan
sebagai mini bioskop. Sayangnya saat kami berkunjung tidak sempat masuk karena
masih harus melanjutkan perjalanan lagi.
| Dibelakang museum terdapat lorong bawah tanah, yang katanya bisa sampai di Taman Suropati. |
SDN 1 Menteng
Tibalah kami di SDN 1
Menteng, tempat Barry, nama kecil Barrack Obama yang saat itu mengenyam
pendidikan disini ketika tinggal di Indonesia. Berhubung hari libur, jadi kami
tidak bisa masuk kedalam. Dari luar, kami bisa melihat sebuah patung Obama
ketika kecil, yang katanya dibangun saat Barrack Obama hendak berkunjung ke
Indonesia.
Selain itu di gapura
gerbangnya tersimpan sebuah plakat besi bertuliskan nama Barrack Husein Obama, the 44th the presiden of United States
of America, attended this school from 1969-1971.
| Inilah sekolah, tempat Obama pernah mengeyam pendidikan. |
Museum Jendral AH. Nasution
Sebuah patung berseragam
lengkap di depan sebuah rumah. Inilah rumah Jenderal Besar Dr. AH. Nasution
yang terletak di Jalan Teungku Umar No. 4 yang kemudian menjadi Museum Sasmita Loka Jenderal AH. Nasution
di tahun 2008 setelah beliau wafat.
Waktu kecil dulu saya sering
ikut nonton bareng di rumah kepala dusun di kampung saya, karena cuma dialah
salah satunya yang punya televisi tabung saat itu. Setiap malam tanggal 30
September, kami menonton kekejaman PKI yang menculik dan membunuh para jenderal,
tapi di salah satu adegan film terdapat cerita tentang Jenderal AH. Nasution
yang berhasil kabur dari rumahnya tapi beliau harus mengorbangkan Ade irma
Nasution, putri pertamanya yang tertembak oleh para tjakrabirawa (saat ini
namanya pasampres). Tapi apakah film itu benar adanya?
Untuk masuk ke Museum ini,
pengunjung diharuskan membayar lima ribu. Adegan malam itu terlihat jelas
dengan patung yang sengaja dibuat, ada patung Ade Irma Nasution yang sedang
digendong ibunya diberondong senjata oleh para tjakrabirawa, ada tetesan darah
Ade Irma Nasution di lantai, ada patung Jenderal AH. Nasution bangkit dari
tempat tidurnya dan melompat di pagar rumahnya. Semuanya itu terlihat jelas
dalam rumah ini. Tidak hanya itu, bekas peluru di pintu kamar dan didalam
dinding dibiarkan begitu saja sebagai saksi. Apapun alasannya ini sangat tragis
dan kejam.
Pengunjung juga diantar
menuju kamar Ade Irma Nasution, tempat tidurnya masih seperti dulu dan terdapat
beberapa lemari yang berisikan pakaiannya. Saya sempat melihat foto Ade Irma
Nasution yang tergantung di dinding, ketika hendak memotretnya, saya ditegur
Winny agar tidak usah mengambil gambarnya. Dia mengerutkan kening sambil
mengusap tangannya, bulu kuduknya berdiri dan dia merasakan sesuatu yang beda
dengan foto itu, saya pun menurut dan keluar dari ruangan itu. Bukan bermaksud
menakuti, tapi saya sangat merekomendasikan untuk mengunjungi museum ini.
| Bagian depan rumah Jenderal AH. Nasution |
| Adegan sebelum Jenderal AH. Nasution kabur dari rumahnya. |
Jalan Cendana - Galeri Seni Kunstkring - Masjid Cut Meutia
Setelah dari Museum, kami
menuju Jalan Cendana. Apa yang kamu
tahu tentang Jalan Cendana? Jalan Cendana yang begitu terkenal di era orde
baru, bahkan jalan ini hanya bisa dilewati oleh keluarga Cendana. Rumah
kediaman Soeharto terletak di Jalan Cendana, saat kami berkunjung kesana
rumahnya masih dijaga walaupun terlihat kurang terawat.
“
Seandainya rumah ini mau dijadikan Museum, tapi sayangnya keluarga dari
Soeharto tidak mau. Mungkin takut kalau kisahnya diungkit kembali “
Kata seorang bapak yang ikut dalam rombongan walking tour.
Saya juga ikut sepakat
dengan bapak tersebut. Rumah mantan presiden Indonesia yang memimpin negeri ini
selam 33 tahun tentunya menyimpan banyak cerita.
| Rumah Mendiang Soeharto di Jalan Cendana |
Tidak jauh dari Jalan
Cendana, kami menuju sebuah gedung tua namanya Galeri Seni Kunstring. Gedung ini sudah beberapa kali berganti
fungsi. Terdapat sebuah tulisan IMMIGRASIE
NST- DJAWA N IMMIGRASI di dinding luar atasnya, iya gedung ini pernah
dijadikan sebagai kantor imigrasi Jakarta Pusat. Gedung ini juga pernah
dijadikan sebagai café buddha bar tapi tidak bertahan lama karena mengundang
banyak protes. Saat ini Galeri Seni Kunstring sebagai café dan restaurant,
tempat ini juga sering dijadikan sebagai tempat pameran, saat kami berkunjung
sedang ada pameran foto.
| Galeri Seni Kunstring, ada kemiripan dengan bangunan Lawang Sewu. |
Tibalah kami di destinasi
terakhir, Masjid Cut Meutia. Sebelum
dijadikan masjid pada tahun 1987, bangunan ini juga beberapa kali berganti
fungsi. Awalnya dari Kantor Biro Arsitek, kemudian berganti menjadi Kantor
Jewatan Kereta Api. Namun setelah Indonesia merdeka, gedung ini berganti fungsi
lagi menjadi Kantor Urusan Agama. Hingga akhirnya menjadi Masjid Cut Meutia,
makanya ini salah satunya masjid yang dari luar tidak seperti masjid, karena
memang sejarahnya tidak dibangun sebagai Masjid.
Menyusuri Kawasan Menteng
bersama Jakarta Good Guide
memberikan saya banyak cerita tentang sejarah Menteng, sejarah yang mungkin
kini terlupakan. Belajar sejarah bukan berarti kita tidak bisa bangkit dari
cerita masa lalu, tapi bukankah Ir Soekarno sudah mengingatkan kita agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Setelah mengunjungi Menteng, saya masih mau ikut lagi di acara walking tour Glodok, Kota Tua dan Monas. Tiga dari 5 destinasi walking tour yang belum saya datangi. Jika kamu tertarik untuk ikutan, bisa liat infonya di twitter @JKTgoodguide












30 comments:
Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh