Terpesona Dengan Keindahan Luwuk Banggai

Sunday, May 24, 2015 muhammad akbar 9 Comments

Mungkin tidak banyak yang mengetahui tentang kota Luwuk, ibukota dari Kabupaten Banggai. Kabupaten banggai terletak di ujung paling timur Provinsi Sulawesi Tengah. Letaknya sekitar 607 km dari ibukota Palu. Tapi kini Luwuk dapat ditempuh hanya butuh waktu 1 jam dari kota Makassar. Luwuk kini menjelma menjadi kota yang berkembang, terlihat dari pengembangan kotanya dengan adanya beberapa hotel ternama seperti Hotel Aston sudah ada di kota Luwuk. Dulu penerbangan Makassar - Luwuk hanya ada dua kali seminggu tapi kini bandaranya semakin ramai dengan jalur Makassar -Luwuk sudah tiga kali dalam sehari.

Saya datang pertama kali di kota ini awal tahun 2015 kemarin, dari balik jendela pesawat saya bisa melihat keindahan kota Luwuk dari ketinggian. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama, Iya, itulah yang saya rasakan ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di kota dengan julukan kota berair. 

Landscape kota Luwuk diapit oleh pegunungan dan pantai, struktur kotanya berbukit tapi disinilah letak keindahannya. Saya tak bisa menjelaskan lebih detail, mungkin beberapa foto dibawah ini bisa membuat anda percaya, bahwa Luwuk memang kota Indah di Sulawesi Tengah. Saya pun terpesona dibuatanya.

Sunrise di seberang Jalan depan bandara
Bandara Aminuddin Amir
Keindahan Luwuk dari Perbukitan
Pantai Kilo Lima
Sunrise dekat Pasar Luwuk
Selamat pagi  kota Luwuk
Kota Luwuk dari Bukit Inspirasi Keles
Menikmati Keindahan Kota Luwuk dengan secangkir kopi

9 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Catatan Pendakian Bersama KSR 121 Menuju Gunung Bulusaraung (Part 2)

Sunday, May 10, 2015 muhammad akbar 45 Comments

Hujan gerimis semalaman mengguyur pos 9 malam itu membuat saya sedikit terganggu dengan tidur saya, tenda tak mampu melindungi kami dari rembesan air di sedut-sudut tenda. Kami bertiga di dalam harus saling merapatkan diri ke tengah agar tidak kebasahan, perlahan masalah itu kami bisa atasi dan akhirnya tertidur dengan lelap walaupun kontur tanah dibawah kami tidak rata tetapi bagi saya pribadi tidak menjadi masalah besar. Suara dengkur bersahut-sahutan mengalahkan suara gerimis diluar, banyak orang tak bisa tidur dengan kondisi seperti ini tapi bagi saya suara dengkur adalah dongeng pengantar tidur.

Alarm handphone tak mampu membangunkan saya dari tidur lelap, akhirnya kami agak kepagian walaupun cuaca di luar masih gelap dan kelihatannya gerimis sudah tidak turun lagi. Saya kemudian keluar dari dalam tenda dan memperhatikan area sekitar, ternyata yang lain masih berkutat di tenda masing-masing. Setelah itu, saya mengajak dua orang untuk menemani saya menuju sumber air untuk mengambil air wudhu karena persedian air di sekitar tenda sudah habis. 

Jaga dan Lestarikan
Kesempatan menyaksikan sunrise di puncak Gunung Bulusaraung masih bisa asalkan kami bisa bergerak cepat, seketika mungkin personil sudah siap summit attack, tak lupa membawa persediaan air minum dan cemilan sebagai bekal di puncak. Selain itu saya juga tak lupa pula membawa kamera, ini barang paling penting dan tak boleh ditinggal.

Kami berjalan beriringan menuju puncak, walaupun yang lainnya masih mempersiapkan dirinya masing-masing, tapi saya memilih berjalan lebih awal agar masih bisa melihat sunrise. Pos 9 menuju Pos 10 merupakan jalur menanjak dan berbatu, inilah aslinya pendakian Gunung Bulusaraung jika dibandingkan jalur yang sudah dilalui kemarin ketika menuju Pos 9. Saya beberapa kali berhenti sambil menghela nafas panjang. Saya pun menerapkan tips berjalan menuju puncak dimana ketika kita berjalan menanjak jangan pernah melihat keatas tetapi menatap ke bawahlah dan nikmati setiap langkap kakimu, ini terbukti berhasil dan membawa saya sedikit lagi berada puncak. Menara radio puncak Gunung Bulusaraung sudah terlihat, itu sebagai pertanda kalau puncak sedikit lagi.

Semangat yah..
Akhirnya saya dan beberapa teman yang lain akhirnya tiba di puncak sebelum matahari terbit. Terlihat juga beberapa pendaki yang lain sudah berada di puncak. Sambil menunggu semua tim lengkap, saya memilih sibuk sendiri dengan kamera untuk mengabadikan moment dan mengmabil beberapa foto landscape. Gradasi warna sunrise sudah tidak terlihat dan mulai tertutupi kabut tapi mataharinya belum keluar. Tak lupa juga  berfoto bersama dengan kamera Gopro, kamera mini anti hujan dengan hasil foto landscapenya membuat saya iri karena dari kemarin kamera Nikon D5100 ku belum bisa keluar karena cuaca yang tak menentu. Disinilah awalnya saya tertarik dengan kamera Gopro hingga akhirnya sepulang dari pendakian saya langsung membeli Gopro Hero4.

* * *

Setelah semuanya berada di puncak, tampak sebuah keharuan dari raut muka mereka karena berhasil mencapai puncak, terutama bagi perempuan yang ikut, apalagi beberapa diatara dari mereka ini adalah pertama kalinya mendaki. Salut dengan kegigihan mereka, mengingatkan saya ketika pertama kali ikut mendaki dan akhirnya saya merasa mendaki itu menyenangkan.

Memang cuaca di puncak memang sulit ditebak, yang awalnya cerah tiba-tiba berselimut kabut. Sekeliling puncak hanya terlihat kabut berseliweran menutup keindahan puncak pagi itu. Foto dengan cuaca seperti ini sama halnya foto dengan latar belakang tembok. Perlahan tapi pasti, kabut mulai membuka diri dan menampakkan keindahan apa yang dari tadi dia sembunyikan. Kami pun tak ingin ketinggalan dan secepatnya saling bergantian untuk berfoto. Pagi itu mengajarkan saya arti sebuah kesabaran, sabar menunggu cuaca bersahabat. 

Sisi puncak yang lain sudah menampakan dirinya.
Berdiam diri atau melompat
Kabut tipis datang lagi menutup dirinya

Mendaki kali ini juga mengajarkan saya arti sebuah perjuangan, berjuang menuju puncak walau tubuh sudah tak mampu lagi tapi dengan keyakinan tekad puncak Gunung Bulusaraung bisa saya capai. Sebuah pencapaian yang luar biasa bukan karena saya sudah berada di titik tertinggi Gunung Bulusaraung tapi saya berhasil mengalahkan semua keraguan saya. Bukankah begitu?

Puncak Gunung Bulusaraung memiliki ketinggian 1353 mdpl, memang terlihat lebih rendah jika dibanding Gunung Bawakaraeng yang memiliki ketinggian 2883 mdpl. Jumlah posnya pun sama walaupun jalur Gunung Bulusaraung sedikit lebih bersahabat, namun cukup membuat saya kewalahan hingga bisa berdiri di puncaknya. Setiap gunung beda cerita, tapi pendakian kali ini memiliki arti tersendiri bagi saya bersama keluarga besar KSR 121 PNUP. 

Senyum sumringah
Matahari sudah mulai meninggi, kami pun turun dari puncak menuju pos 9. Setelah tiba, tak perlu menunggu lama untuk membongkar tenda dan membereskan semua untuk kembali. Tak lupa pula kami membawa pulang sampah kami, karena gunung bukan tempat sampah. Setidaknya kami bertanggung jawab dengan sampah kami sendiri ketika kami tak mampu membersihkan semua sampah plastik di pos 9. 

Kami pun kembali pulang menuju desa Tompobulu, tempat kami memarkir motor dan selanjutnya kembali menuju Makassar. Sebelum tiba di Makassar, kami sempat singgah di salah satu warung dekat pertigaan jalan poros Pangkep untuk mengisi perut yang memang dari pagi belum terisi. Nasi goreng telur dadar lengkap dengan ayam cabik-cabiknya menu siang itu, namun entah kenapa saya jauh lebih menikmati makanan semalam walaupun dengan menu seadanya tapi itu sungguh nikmat. Selanjutnya kami pun kembali ke Makassar dengan cerita masing-masing.

Akhir kata, semoga masih ada kesempatan untuk kembali mendaki bersama karena di alam kita jauh lebih merasa dekat. Terima kasih untuk semuanya.

Let's Explore Indonesia
INDONESIANHOLIC

45 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar