Pesona Lebaran Bersama Keluarga di Kampung Halaman

Friday, August 28, 2015 muhammad akbar 10 Comments

Momentum pulang kampung menjelang lebaran idul fitri tahun 2015 tentunya sudah di tunggu oleh semua para perantau yang tersebar di seluruh pelosok nusantara bahkan yang berada di luar negeri. Terlahir dari keluarga suku bugis, suku yang dikenal dengan suku perantau. Orang tua selalu mengajarkan bahwa sejauh mana kamu pergi maka kamu harus selalu mengingat bahwa tempat terbaik itu adalah kembali ke rumah. Saya sudah tak sabar menunggu momen ini karena lebaran tahun 2014 kemarin saya tidak bisa pulang karena tuntutan pekerjaan, maka tahun ini saya sudah niatkan untuk pulang.

Lebaran tahun ini merupakan tahun ke empat saya berada di rantauan, empat tahun dengan empat kota yang berbeda, masih jelas teringat kalau tahun lalu saya ditugaskan di Bontang, kota industri gas di Kalimantan Timur, namun tahun ini saya kembali ditugaskan untuk mengenyam pendidikan di Puncak Bogor.

Anyway, untuk mencapai Makassar, tentunya saya harus naik pesawat, saya juga bisa naik kapal laut tapi waktu tempuhnya jauh lebih lama.  Jatah libur 5 hari memang paling efektif naik pesawat walaupun dengan harga tiket yang mahal. Menjelang lebaran harga tiket melambung tinggi tapi rasa rindu dengan kehangatan keluarga jauh lebih tinggi, itu sudah menjadi hal yang umum di dunia pertiketan. Sebenarnya berapapun harganya pasti akan dibeli tapi seminimal mungkin mencari harga paling murah. Entah berapa kali saya intip semua aplikasi pemesanan tiket online tapi harganya masih tetap sama, tiket paling murah yang saya dapatkan 1.2 juta, padahal kalau hari biasa sekitar 700 ribu, jauh banget kan perbedaannya.

Hari yang ditunggu pun tiba, kali ini tak cukup banyak barang yang saya bawa hanya satu tas daypack dan satu dos yang berisi oleh-oleh khas Bogor. Cindera mata memang selalu saya sempatkan untuk membawa ketika pulang kampung, tidak jauh dari oleh-oleh makanan berupa cemilan. Kalau di Bogor, paling khas itu roti talas sangkuriang.

Pagi itu 16/7/2015, Bandara Soekarno Hatta lagi ramai-ramainya, sepertinya sudah seperti terminal karena sudah H-1, memang benar yah kalau bandara ini disebut bandara paling ramai di Indonesia apalagi ini momennya menjelang lebaran. Dari selembar tiket yang saya pegang, maskapai singa merah akan membawa saya ke Makassar. Saya sengaja mengambil jadwal penerbangan paling pagi pukul 5 dini hari, setidaknya kalau delay masih bisa menunggu lebih lama dan penerbangan paling pagi membuat saya bisa menyaksikan matahari terbit dari ketinggian, lebih tinggi dari puncak gunung.

Menikmati sunrise dari balik kaca jendela
Setelah menempuh 2 jam perjalanan, pesawat dengan mulus mendarat di Bandara Hasanuddin Makassar. Aroma kampung halaman mulai terasa dari logat loe-gue kini berubah menjadi logat ayomi-cepatmi-sudahmi-apaji. Tiba di Makassar, perjalanan masih berlanjut ke Rappang, Sidrap, salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan.

Dari Bandara Hasanuddin, saya masih harus melanjutkan perjalanan sekitar 4 jam ke Rappang dengan mobil fanther sebutan angkutan antar daerah di Sulawesi Selatan. Jika kamu pernah ke Tana Toraja maka kamu akan melewati kampung saya. daerah yang dikenal sebagai lumbung pangan Sulawesi Selatan karena sejauah mata memandang maka anda hanya bisa melihat sawah-sawah yang berbaris rapi. 

Hamparan sawah menguning dengan langit biru
Padi-padi di sawah mulai menguning menyambut kedatangan saya. pikiran ke masa kecil mengingatkan saya kehidupan masa kecil dulu bersama teman sepermainan kala kita bermain bola di sawah yang sudah di panen, tak sabar rasanya berjumpa dengan mereka semua. mengulang cerita dulu yang tidak ada habisnya untuk diceritakan. 

Sambutan keluarga ketika tiba di rumah membuat saya ingin menitikkan air mata, berjalan menuju bapak saya yang sudah menunggu depan rumah dan memeluknya erat, inilah alasan yang membuat saya kenapa harus pulang. Kami bersaudara semuanya merantau, tidak ada yang tinggal di rumah, jadinya bapak lah yang tinggal sendiri semenjak ibu meninggal. Jadinya momen lebaran menjadi salah satu cara kami berkumpul dari kota tempat kami bekerja.

Malam harinya kami berkumpul di ruang keluarga sambil berbagi cerita. Kak Ani, kakak saya yang merantau di Donggala sebagai bidan juga sudah datang, Kak Ina, kakak saya yang sudah berkeluarga juga datang bersama kedua anaknya, namun Kak Toni, kakak saya yang di Mekkah sebagai TKI tidak bisa pulang karena kontrak kerjanya belum selesai. 

Dentuman bedug dan takbiran bersahut-sahutan dari Mesjid dekat rumah, seolah membuat kami semakin semangat bertukar cerita. Saya bercerita banyak tentang tempat-tempat wisata yang saya datangi selama di Bogor, begitupula Kak Ani, menceritakan bagaimana suka dukanya menjadi seorang bidan desa yang tidak mengenal waktu dalam melayani warga disana. Kalau Kak Ina sendiri, lebih banyak diam dan hanya mendengar. Bapak saya terlihat sangat bahagia melihat anak-anaknya, dan kedua cucunya berkumpul. 

Foto Keluarga setelah lebaran
Kami 3 bersaudara, tanpa kak Toni
Hari lebaran pun tiba, pagi itu suasananya sangat berbeda, pagi kemarin saya masih dalam perjalanan kini saya sudah berada di rumah bersama keluarga. Kehangatan keluarga tak bisa saya bandingkan dengan harga tiket yang mahal. Pesona lebaran memang tiada duanya. Apa yang saya rasakan, itu juga lah yang dirasakan para perantau yang kembali kekampungnya walaupun harus bermacet-macet, terombang-ambing tapi yakinlah kembali ke rumah memang menjadi perjalanan terbaik.

Momentum lebaran bukan hanya cerita tentang kehangatan bersama, tapi yang membuat saya senang itu aneka kuliner yang terhidangkan di meja makan. Kalau di Sidrap, kuliner paling saya rindukan itu palekko itik dengan burasa, ada juga tape dan barongko. 
Kue Barongko, pernah nyobain?
Tape Ketan Hitam
Kue Barongko berbahan dasar buah pisang yang ditumbuk kemudian dicampur dengan santan, telur dan gula. setelah itu dibungkus dengan daun pisang kemudian di kukus. Saya paling suka kalau dimakan dalam keadaan dingin dari kulkas. Beda barongko beda juga dengan tape, kalau tape terbuat dari beras ketan hitam dicampur dengan ragi/bakteri kemudian di permentasi. Kue ini butuh keahlian dan pengalaman khusus, kalau buatan tante saya tidak pernah salah atau gagal, hasil permentasinya selalu sempurna. KueTape ini paling nikmat dipadukan es cendol atau es seruk. Apakah kamu pernah mencoba dari kedua kue tersebut? Kalau belum kamu harus mencobanya.

Selain kuliner, saya juga senang mengunjungi tempat wisata, momen lebaran tahun ini saya sempatkan berwisata bareng keluarga. Kabupaten Sidrap bukanlah kota tujuan wisata, tapi tidak jauh dari kota Sidrap sekitar 20 km arah ke Toraja, ada sebuah lahan yang luas yang kini disulap menjadi tempat wisata baru, lokasinya berada di Kabupaten Enrekang, kabupaten yang berbatasan langsung dengan Sidrap. Kebun raya Masrempulu, itulah nama tempatnya,cukup mudah ditemukan karena lokasinya hanya di pinggir jalan poros menuju Tana Toraja.
Danau di Kebun Raya Masrempulu
Kebun Raya Masrempulu menawarkan kesejukan, kami menggelar karpet di bawah pohon yang teduh sambil membuka bekal makanan. tempatnya asyik buat camping ceria. bahkan kemanakan saya yang paling kecil senang sekali di sini, dia bebas berlarian menikmati kebebasannya. Entah berapa kali dia terjatuh tapi tak membuatnya jerah, itulah karakter anak kecil. 

Kebersamaan keluarga lebaran tahun ini sangatlah berkesan, walaupun keluarga kami belum lengkap, tapi saya berharap lebaran tahun depan kami bisa berkumpul lagi, mungkin saja saya sudah membawa istri. Aminnnn. #kode

Ingin rasanya tetap berada di kampung, disini saya merasa sangat menyatu dalam kenyamanan tanpa ada beban kerjaan yang menumpuk. Saya merasa bebas terbelenggu dari jam kerja, 5 hari di kampung rasa-rasanya belum cukup tapi apa daya saya harus kembali ke tanah rantauan.



Kamu punya momen lebaran bersama keluarga, sahabat dan siapapun itu, 
Ayo berbagi foto terbaikmu dengan mengikuti kontes Foto Instagram dari Indonesia.travel
Yuk ikutan Kontes Foto Instagram Pesona Lebaran dengan hastag #Pesonalebaran.
Ditunggu yah.


10 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

70 Tahun Indonesia Merdeka

Monday, August 17, 2015 muhammad akbar 25 Comments


17 Agustus 2015, hari paling bersejarah untuk seluruh bangsa Indonesia. Bendera merah putih berkibar di seluruh pelosok Indonesia dari Sabang sampai Merauke dan dari Miangas sampai Pulau Rote. Euforia kemerdekaan bisa dijumpai dimana-mana. Semua elemen masyarakaat ikut bergembira dalam suasana hari kemerdekaan.

17 + 8 + 45 = 70, Refleksi 70 Tahun Indonesia Merdeka dengan slogan Ayo Kerja
70 Tahun yang lalu tepat di Jl. Pegansaan Timur No. 56 telah terjadi sebuah peristiwa tak terlupakan, dimana para pemimpin bangsa Indonesia saat itu memproklamirkan kemerdekaan Indonesia lewat sebuah pembacaan Teks Proklamasi yang dibacakan oleh Bapak Ir. Soekarno dan ditanda tangani atas nama bangsa Indonesia Soekarno-Hatta.

Ucapan rasa syukur tak terhingga atas segala pengorbanan yang telah gugur di medan perang, yang dibunuh secara diam-diam, yang dibuang dan diasingkan dan yang hilang entah kemana. Apa yang telah pahlawan lakukan semata-mata hanya ingin negara yang kita cintai ini merdeka. Merdeka dari segala hal, merdeka dari perintah para penjajah. Harta benda, waktu bahkan nyawa sekalipun kalian korbankan. Kini sudah 70 Tahun Indonesia Merdeka , saya sebagai generasi penikmat kemerdekaan belum bisa berbuat banyak untuk bangsa Indonesia.

Mari Merayakan hari kemerdekaan dengan cara kita masing-masing namun dengan rasa cinta dan nasionalisme yang sama. Sudah saatnya kita berbuat untuk bangsa Indonesia dengan apa yang kita mampu, tidak sebagai seorang yang mengeluh tapi sebuah tindakan nyata. Ayo kerja!!!!!!



25 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Ahmad Hasanela, Sang Penjelajah Indonesia Timur

Tuesday, August 04, 2015 muhammad akbar 26 Comments

"Traveling bukan hanya tentang keindahan alam, tapi rasa syukur ketika saya melakukan hal lain yang bermafaat di daerah yang saya jelajahi" Ahmad Hasanela
Kenalkan kawan saya dari Pulau Maluku, namanya Ahmad Hasanela atau Nyong ambong. Dia dikenal dengan travel intagramer yang menceritakan perjalanannya lewat media instagram. Rela meninggalkan rumahnya dan tempat bekerjanya dan memulai sebuah perjalanan panjang demi sebuah mimpinya. Mimpi Keliling Indonesia Timur dalam waktu 100 hari. Ketika saya bertemu dengan beliau, dia sudah mengunjungi Ambon, Raja Ampat, Manado, Gorontalo, Pulau Togean, Palu, Mamuju, Toraja dan Makassar dalam waktu 66 hari .(April 2015)

Awalnya saya tidak mengenal siapa itu Ahmad Hasanela, saya dikenalkan lewat Fadli Mustamin, kawan saya yang kebetulan juga berkawan dengan Ahmad Hasanela. Fadli meminta saya untuk menemui beliau karena dia percaya bahwa saya bisa diajak bertukar cerita tentang kota Makassar dari segi hal destinasi wisata. Singkat cerita saya menghubunginya dan mengajaknya bertemu di salah satu warung sarabba yang belokasi di kawasan workshop Universitas Hasanuddin. Tak butuh waktu lama, akhirnya kami ketemu dan saling mengenalkan diri. Saya mengajaknya menuju warung  sarabba dan mengajaknya mengobrol. Ternyata nyong Ambon ini, orangnya sangat ramah dan terbuka diajak bercerita, perbincangan sangat lancar karena memang topiknya tentang keindahan Indonesia. 

Ahmad Hasanela bercerita banyak tentang keindahan Raja Ampat, salah satu surga yang dititipkan di Indonesia dan itu ditempatkan di Papua. "Jika ingin ke Raja Ampat, pilihannya ada dua yaitu kamu punya banyak uang dan banyak waktu" kata-kata itu yang disampaikan malam itu dan masih saya ingat sampai sekarang.
Gili Padar, Taman Nasional Komodo
Q : Saya telah mengenalkan sekilas tentang dirimu, Apakah ingin menambahkan?
A : Sepertinya sudah cukup

Q : Alasan apa yang membuat kamu meninggalkan rumah dan memulai sebuah perjalanan panjang?
A : Niat awal saya, hanya ingin mencari pengalaman baru dan cara traveling yang berbeda dari biasaya saya lakukan. Misalnya tidak hanya sekedar traveling tapi juga ingin mencari kawan dan keluarga di setiap daerah yang saya jelajahi
 
Q :  Apakah mimpi keliling Indonesia Timur dalam waktu 100 hari tercapai?
A :  Saat memulai perjalanan, saya tidak memasang target berapa lama di jalan, rencana awal estimasinya hanya 1-2 bulan namun ternyata pesona keindahan dan keramahan Indonesia Timur membuat saya betah berlama-lama di setiap daerah yang saya kunjungi. sambutan yang hangat dan penuh kekeluargaan dari setiap kawan dan saudara baru akhirnya saya menjelajah sampai 150 hari.
Ujung Pandang dan Papua, Kita samua basudara
Q : Setiap detail perjalananmu kamu tuliskan lewat instagram, Kenapa memilih media Instagram?
A : Saat memulai perjalanan, saya sudah berniat berbagi kisah perjalanan saya dengan harapan dapat menjadi referensi dan inspirasi bagi yang membaca, saya memilih instgram dan facebook karena saya bisa bercerita melalui gambar dan cerita tidak harus langsung panjang dan mendetail seperti menulis blog karena saya akui saya belum mahir menulis. Lewat instagram dan facebook, saya bisa bercerita dengan lebih sederhana tentang momen-momen penting dan spot-spot menarik sepanjang perjalanan.

Q : Siapa sih inspirasi kamu dalam melakukan perjalanan senekat ini?
A : Ada banyak sekali traveler yang menginspirasi saya. saya pengagum Mbak Trinity, penulis buku The Naked Traveler. Beberapa kawan saya juga punya punyan kisah yang menginspirasi saya, salah satunya adalah Ashari Yudha, founder sekaligus admin di akun Catatan Backpacker. Yudha ini pernah menjadi travelmate saya selama hampir dua bulan.

Q : Kapan pertama kali tertarik dengan dunia traveling?
A : Saya mulai jatuh cinta dengan dunia traveling sejak tahun 2011, ketika saya mendapat pelatihan di Manado. Saya diajak teman-teman untuk menjelajah Bunaken, Kota Manado dan Kota Tomohon. Setelah itu saya mulai mencari informasi tentang traveling dan mulai rutin merencankan traveling.

Q : Dari perjalanan yang telah kau lewati, ceritakan pengalaman yang paling berkesan waktu dimana dan kenapa?
A :  Sangat banyak pengalaman yang paling berkesan, bahkan saya merasa setiap daerah memberikan pengalaman yang begitu luar biasa bagi saya, slah satunya adalah ketika saya bisa mengajak komunitas-komunitas di Makassar untuk bersinergi dalam kegiatan donasi buku untuk disalurkan ke sekolah dasr terpencil di salah kabupaten di Sulawesi Selatan melalui Komunitas Sokola Kaki Langit. Alhamdulillah, kegiatan tersebut mampu menarik puluhan donatur buku dan alat tulis. Buku yang terkumpul jauh lebih banyak dari yang kami perkirakan. Saya memilih kisa ini karena traveling bukan hanya tentang keindahan alam, tapi rasa bersyukur kita ketika melakukan hal laain yang bermamfaat di daerah yang saya jelajahi.


Q : Dari semua tempat yang kamu kunjungi, Sebutkan 3 tempat terindah yang  paling kamu rekomendasikan untuk dikunjungi?  
Aa : Pertanyaan susah nih,. Sangat banyak tempay yang indah di Indonesia, mungkin 3 terbaik yang pernah saya jelajahi adalah:
1. Pantai ora, Desa Saleman, Pulau Seram, Provinsi Maluku
2. Pianemo, Raja Ampat, Provinsi Papua Barat.
3. Pulau Gili Lawa dan Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Q : Dari sekian banyak pengalaman traveling yang kau dapatkan, sebutkan tips-tips solo traveling versi kamu?
A :  Beberapa Tips dari saya yang mungkin bisa bermamfaat bagi kalian semua
1. Perbanyak kawan dan bantulah kawan traaveler yang berkunjung di daerahmu
2. Bergabung dan aktiflah berinteraksi di mkomunitas-komunitas traveling, bisa juga dengan cara follow akun-akun yang berbagi kisah perjalanan atau informasi terkait traveling di sosial media.
3. Jelajahi dulu daerahmun sendiri. Selain untuk bekal pengalama jika nanti menjelajahi daerah yang lebih jauh. Informasi tentang daerahmu bisa juga membantu bagi orang-orang yang yang mungkin kau temui di perjalanan atau daerah lain. Jadi bisa bertukar informasi sekaligus bisa promosikan wisata daerahmu.



Q : Perjalanan selama itu, berapa banyak biaya yang telah kamu habiskan?
A :  Selama 150 hari saya menghabiska sekitar 13 juta rupiah, namun saya terbantu dari hasil penjualan kaos dan sempat mengadakan 2 kali open trip semi backpacker ke Ternate.

Q : Bagaimana cara membiayai perjalananmu selama 150 hari? 
A :  Ini adalah pertanyaan yang paling banyak diatnyakan terkait perjalanan saya. Jawabannya cukup simpel, hanya dibutuhkan kerja cerdas, hemat dan rajinnlah menabung.

Danau Kelimutu, Nusa Tenggara Timur
Q : Kamu pernah bilang ""Jika ingin ke Raja Ampat, pilihannya ada dua yaitu kamu punya banyak uang dan banyak waktu" Kenapa kamu bisa bilang seperti itu? 
A :  Biaya paling mahal di Raja Ampat adalah biaya sewa perahu untuk keliling pulau. Jadi kalau kamu mau hemat harus menyediakan waktu lebih lama dan mencari rombongan untuk diajak patungan, tapi ini juga bergantung lagi pada keberuntungan.

Q : Apa mimpi terbesarmu yang belum tercapai?
A :  Saya ingin menjelajah Indonesia.

Pianemo Raja Ampat, Papua
Setiap orang punya mimpi tapi yang membedakan hal apa yang sudah kita lakukan demi mimpi kita terwujud. Ahmad Hasanela punya mimpi terbesar menjelajah Indonesia begitupula dengan saya ingin mengunjugi 34 Provinsi Indonesia. Mari bermimpi dan bermimpilah setinggi langit karena jika kita jatuh, kita akan jatuh diantara bintang-bintang.

Semoga perjalanan Ahmad Hasenela bisa menginspirasi kita semua bahwa tidak perlu ada keraguan untuk bermimpi keliling Indonesia karena dimana ada kemauan disitu ada jalan. Berjalanlah maka akan mengetahui banyak hal yang tidak kau dapatkan sebelumnya.

26 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar