Pesona Luwuk Banggai Dari Ujung Timur Sulawesi Tengah
Dari balik
jendela pesawat, saya melihat gradasi warna biru yang begitu indah membuat saya
tidak ingin memalingkan pandangan, pemandangan laut dan perbukitan kota Banggai sebelum
pesawat di Bandara Sultan Aminuddin Amir, Luwuk. Itulah kesan pertama ketika
pertama kali mengunjungi kota Luwuk.
Luwuk Banggai berada di ujung timur Sulawesi Tengah, secara geografis
Luwuk masih satu daratan dengan Pulau Sulawesi atau dikenal dengan "pulau huruf
K", nah Luwuk itu berada di ujung atas bagian tengah yang menghadap ke pulau
Maluku. Kalau masih bingung, coba buka atlas atau lebih gampangnya cari di Google Maps.
Landscape Kota Luwuk Banggai
Saya jatuh cinta
pada pandangan pertama dengan kota ini, memang benar kesan pertama yang
menakjubkan biasanya akan membuat kita merasa nyaman, mencintai pasangan
harusnya berlaku sama, Iya kan? Alhamdulillah, saya betul-betul nyaman,
buktinya saya sudah 2 tahun lebih bekerja di Luwuk. Kondisi kerja membuat saya
mengunjungi Luwuk setiap bulannya dan juga sekaligus mengunjungi beberapa tempat wisata, baik
itu yang mainstream maupun yang belum tergarap oleh pemerintah setempat,
merasakan kehagatan masyarakat lokal dan
mencicipi kuliner khasnya. Intinya Luwuk itu merupakan destinasi yang lengkap.
Seringkali
saya mendapatkan tanggapan dan pertanyaan dari teman-teman setiap memposting
keindahan luwuk di media sosial pribadi, baik itu di Instagram dan facebook.
Sudah di follow belum? Apa saja hal yang
menarik dari Luwuk Banggai.
1. Melihat panorama Kota Luwuk dari Bukit Keles
Setiap kota selalu
punya tempat yang wisata yang mainstream, ibaratnya kurang lengkap mengunjungi Luwuk jika
tidak datang ke Bukit Keles. Tempat terbaik melihat landscape kota Luwuk dari
ketinggian baik di pagi hari, sore menjelang sunset maupun di malam hari. Bukit
Keles selalu menarik untuk dikunjungi. Saya sudah sering mengunjungi Bukit Keles
di pagi dan malam hari, tapi sore hari, momen ketika matahari meninggalkan peraduannya
belum sempat saya saksikan, sepertinya menarik sekali, ada yang mau temani?
Bukit Keles Luwuk
2. Berenang di Pantai Kilo Lima
Hanya di kota Luwuk, saya melihat pantai yang begitu bersih padahal lokasinya dekat dengan jalan poros. Pantai Kilo Lima memang menjadi pariwisata utama kota
Luwuk, makanya masyarakat nya pun menjaga kebersihan pantai ini. Uniknya, tidak
ada biaya retribusi untuk mengunjungi tempat ini alias gratis. Saya biasanya
datang ke Pantai Kilo Lima ketika pagi hari, saat itu air laut masih surut jadi
pasir putihnya masih terlihat.
Pasir putih Pantai Kilo Lima
Pantai Kilo Lima
tidak hanya pantainya yang bersih tapi alam bawah lautnya juga meanrik untuk
bersnorkling ria, tanpa harus menyewa
perahu kamu sudah bisa melihat karang laut dan ikan-ikan beraneka warni
berseliweran hanya beberapa meter dari bibir pantai, cuma ini seakan menjadi ancaman kerusakan. Karang-karangnya bisa terinjak ketika surut.
Alam bawah laut Pantai Kilo Lima
3. Mengunjungi Air Terjun Piala
Air Terjun Piala
lokasinya tidak jauh dari kota Luwuk, sekitar 30 menit perjalanan menuju kompleks perumahan Maahas. Oiya, ada cerita
menarik ketika saya berkunjung ke Air Terjun Piala. Awalnya tidak ada niat datang
kesini, karena saya dan teman-teman saat itu tujuannya ke Air Terjun Laumarang.
Air terjun yang membuat saya tertarik ketika muncul di acara jalan-jalan di
Transtv. Kamu sudah pasti kenal acaranya?
Tersesat membawa
nikmat, seperti itulah sensasinya. Setelah menyusuri jalan setapak, akhirnya saya bertemu dengan air Terjun Piala secara tidak
sengaja. Tapi menurut saya ini tidak kalah menariknya, air terjun yang
bersusun dan kolam yang luas untuk berenang. Airnya mengalir menuju Pembangkit Listrik Mikro Hidro di hilirnya. Belakangan Air terjun ini sudah
muncul juga di acara Jalan-Jalan itu.
Air Terjun Piala
4. Berfoto sepuasnya di Bukit Teletubbies
Padang savana
yang luas dengan rerumputan hijau dengan kontur tanah yang berbukit cukup
mewakili tempat ini dinamakan Bukit Teletbbies. Menurut saya ini lebih mirip
jika dibandingkan dua Bukit Teletubbies yang pernah saya kunjungi, di Bromo dan
Maros.
Bukit Telettubies
Luwuk cukup jauh dari Luwuk, tapi semuanya terbayarkan ketika datang kesini,
rasa-rasanya tidak ingin berhenti mengabadikan setiap momen, lokasinya yang hitz untuk mempercantik feed Instagram. Instagramable banget deh.
Bukit Teletubbies Luwuk
5. Mendaki Puncak Pulau Dua
Berkunjung ke Pulau
Dua adalah perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan selama di Luwuk. Menuju
Pulau Dua, tidak banyak yang menyarankan datang kesini kalau hanya sebentar,
lokasinya yang jauh dan juga jalanan nya belum begitu mulus adalah dua hal
kendala yang akan dihadapi. Memang benar saya merasakan dua hal tersebut,
dibutuhkan 4 jam perjalaan dari Kota Luwuk untuk sampai Desa Kampangar, Kecamatan Balantak.
Yang menarik
dari Pulau Dua adalah bukitnya yang hitz, inilah yang membuat saya tidak
berpikir panjang untuk datang kesini walaupun jaraknya yang cukup membuat
pantat panas tapi semua terbayarkan ketika sudah berada di puncaknya.
Pulau Dua ini
sekilas mirip Pulau Padar di NTT. “belum kesampaian ke Pulau Padar minimal
kesini dulu” gumam saya dalam hati sambil mendaki Bukit Lukapan Konio, jalurnya lumayan
menguras keringat dan bikin dengkul gemetar. Tapi bukankah sebuah pengorbanan
akan mendapatkan hasil yang maksimal. Dari puncak bukit kita bisa melihat sekeliling dengan latar belakang Pulau Dua.
Bukit Lukapan Konio, Pulau Dua Balantak
6. Mencicipi Kuliner khas Luwuk
Wisata kuliner
setiap daerah wajib banget dicoba, apalagi kuliner yang langsung dari asalnya.
Luwuk punya banyak kulier khas, ada beberapa yang saya rekomendasikan seperti
lalampa dengan sambel cakalang dan ikan kerapu kuah asam.
Lalampa sekilas mirip lemper, terbuat dari beras ketan diisi dengan suir-suir ikan cakalang. Dibungkus daun pisang, ujungnya dijepit dengan paku agar panasnya merata. Kemudian dibakar di atas bara api.
Luwuk surganya pecinta seafood, tapi ada sajian masakan ikan kerapu kuah asam membuat saya ketagihan dengan kuliner ini. Kuahnya yang segar dan daging ikan kerapu merupakan paduan yang sempurna. Kalau di Luwuk, RM. Sunu Lestari adalahwarung makan paling saya rekomendasikan jika ingin mencicipi kuliner ini.
Lalampa sekilas mirip lemper, terbuat dari beras ketan diisi dengan suir-suir ikan cakalang. Dibungkus daun pisang, ujungnya dijepit dengan paku agar panasnya merata. Kemudian dibakar di atas bara api.
Luwuk surganya pecinta seafood, tapi ada sajian masakan ikan kerapu kuah asam membuat saya ketagihan dengan kuliner ini. Kuahnya yang segar dan daging ikan kerapu merupakan paduan yang sempurna. Kalau di Luwuk, RM. Sunu Lestari adalahwarung makan paling saya rekomendasikan jika ingin mencicipi kuliner ini.
Ikan Kerapu Kuah Asam
Mengunjungi
Luwuk Banggai sangat mudah dan cepat, kini sudah banyak penerbangan langsung
dari Makassar, Palu dan Manado. Pilihan harga tiketnya juga lumayan terjangkau
dengan banyak pilihan harga dari situs pencarian tiket online. Traveloka adalah favorit saya alasannya
karena harga yang tertera sudah termasuk pajak dan biaya lain-lain, jadi tidak
perlu bingung lagi sih.
Liburan ke Luwuk
Banggai bisa menjadi pilihan destinasi wisata, tinggal cari tiketnya di aplikasi Traveloka. Nah, berhubung februari ini saya mau berkunjung lagi ke
Luwuk, saya sudah memesan tiket pesawat di Traveloka
dengan hanya 4 Langkah sebagai berikut
1.
Booking - Pilih maskapai sesuai dengan budget
2.
Review - pastikan data yang dimasukkan sudah
benar
3.
Pay - Transfer uangnya sesuai dengan jenis
pilihan pembayaran (Internet Banking, Credit Card dan ATM)
4.
E-Ticket - E-ticketnya terkirim ke email saya dan
kode booking dikirimkan ke SMS atau E-mail juga.






20 comments:
Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh