Toraja part 5 : Lokomata, Bori', Pasar Bolu, Singki' dan Rantepao

Thursday, October 31, 2013 muhammad akbar 2 Comments

Sabtu 24 Agustus 2014
Hari ini adalah hari kedua atau hari terakhir petualangan saya di Tana Toraja. Mencoba melirik remasan kertas yang berisi itinerary ternyata masih ada beberapa spot wisata yang belum terkunjungi. Rasanya belum ingin meninggalkan Batutumonga, saya sudah jatuh cinta dengan tempat ini sejak saya terpukau oleh indahnya sunrise dan lautan awannya.

Masih sibuk mengemas barang-barang sambil melihat itinerary dimana hari ini saya harus mengunujungi Lokomata, Bori', Singki' dan Kete' Kesu. Pertanyaan yang mucul dalam pikiran saya, apakah saya mampu mengunjungi semua tempat ini dalam sehari. Setelah check out dari penginapan tujuan pertama yaitu ke Lokomata, dimana jalurnya menuju arah keatas sekitar 10 km. Perjalanan pun kembali dimulai.

LOKOMATA
Perjalanan menuju Lokomata anda harus jeli melihat tanda arah. Jalanan yang sempit dan berbelok-belok itu yang saya rasakan menuju tempat ini, bahkan saya sempat ragu akan keberadaannya. Pemandangan area persawahan Toraja yang identik dengan bertingkat atau lebih dikenal dengan terasering menemani perjalanan sepanjang jalan. Saya juga melihat beberapa pipa air menyusuri setiap lika liku jalan. Perjalanan pun terhenti ketika saya melewati gerbang dimana bertuliskan Lokomata. Kuarahkan pandangan saya melihat sekeliling area ini. Pandangan saya terhenti di sebuah batu bulat besar. Lokomata yang katanya seperti kapal angkasa. Pikirku, inilah Lokomata.

Sebuah batu besar yang dilubangi, dimana setiap lubang itu terdapat jenasah didalamnya. Terlihat juga ada beberapa miniatur tongkonan tepat berada disampingnya. Berjalan menyusuri setiap sudutnya dan melihat beberapa lubang. Menurut pemahaman yang saya ketahui bahwa semakin tinggi suatu makam maka derajatnya kebagsawanan tinggi pula. Untuk meletakkan jenasah di atas lubang yang tinggi digunakan tangga bambu untuk menaikkannya.

Setelah saya merasa cukup mengerti dan melihat walaupun pada saat itu saya tak melihat pengunjung lain dan hanya ada kami berdua, tapi setidaknya saya cukup mengerti dengan penjelasan Tandik yang setia menemani saya dari kemarin.

Lokomata, Makam batu cada besar "mirip kapal angkasa"
BORI' dan PASAR BOLU
Perjalanan dari Lokomata kembali melewati jalan yang sebelumnya dimana perjalanan saya akan melewati Batutumonga. Sesuai itinerary, selanjutkan akan menuju Bori'. Perjalanan pulang terasa cepat sekali karena memang sudah meleawati jalan turun dari Batutumonga. Jalanan menurun dan sempit harus lebih hati-hati terutama dalam pengereman. Sebelum sampai di jalan beraspal, hujan gerimis pun turun walaupun tidak deras dan perjalanan pun tetap di lanjutkan.


Tak terasa selama perjalanan hingga harus melewati jalan masuk menuju Bori'. Saya pun sempat menyerah kalau memang sudah terlewati tak usahlah kembali. Bertanya disalah satu warga yang duduk di pinggir jalan, menurutnya jalan masuk bori' itu tidak terlalu jauh dari sini. Setelah berbincang dengan Tandik, akhirnya saya memutuskan untuk kembali lagian jalan masuk tidak terlalu jauh juga.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya kami tiba di kawasan wisata Bori'. Ternyata memang sangat dekat. sebelum masuk kami terlebih dahulu membeli karcis seharga Rp. 10.000.-/ 2 orang. Terdengar bunyi palu dibalik batu, ternyata ada 3 orang warga yang lagi membuat lubang sesuai dengan pesanan. Untuk membuat lubang dari batu ternyata membutuhkan waktu 1 bulan.

Kawasan wisata Bori' ini berbeda dengan makam yang lain, dimana disini terdapat batu menhir yang memanjang ke atas dan ditancapkan ke tanah. Saya berjalan menyusuri sekeliling tempat ini karena memang tidak terlalu luas dan mengambil beberapa gambar untuk dijadikan sebagai kenangan.

Batu menhir jadi ciri khas kawasan wisata Bori'
Indonesia kaya dengan keberagaman dan kerarifan lokal
Setelah mengunjungi Bori kami akan kembali ke Rantepao, tiba-tiba di tengah perjalanan saya melihat sebuah plang penunjuk bertuliskan Pasar Bolu. Kenapa tidak singgah sebentar mumpung lagi lewat. Sebenarnya hari itu bukan hari pasar jadi pasar bolu tidak ramai. Melihat beberapa kerbau didalam pasar yang diikat ditali. Mencoba mendekati seorang bapak yang sedang asyik duduk. Saya mencoba membuka pembicaraan hingga terjadi percakapan yang panjang dan membuat saya heran dan sedikit tidak percaya.

" Jangan pernah mengaku orang kaya jika tak mampu membuat pesta untuk orang tuamu " cetusnya secara lantang dengan logat orang Toraja.

" Pesta semacam apa pak? " balasku dengan rasa penasaran

" 1 bulan yang lalu, mertua saya dipestaskan dan kami memotong 110 ekor kerbau dan beberapa babi " sahutnya dengan berani.

" Intinya orang toraja itu cari uang untuk mati " masih menyambung penjelasannya.

Sungguh luar biasa, begitu besar pengorbanan orang toraja tentang sebuah pesta kematian. Kearifan lokal yang sampai saat ini masih dipegang teguh dan tetap dipertahankan.


Tedong Bonga yang harganya ratusan juta
SINGKI' dan KOTA RANTEPAO
Setelah dari Pasar Bolu, perjalanan dilanjutkan menuju Rantepao sesuai dengan rute sebelumnya. Hari sudah siang matahari sudah berada diatas kepala. Sebenarnnya Singki' tidak masuk dalam destinasi saya tapi karena hasutan tandik yang menyarankan saya harus ke Singki'. Kami terlebih dahulu membeli es buah di salah satu warung di kota Rantepao untuk bekal menuju Singki'.

Singki yang lataknya sangat dekat dari Rantepao. Tinggal melihat ke atas dan arahkan pandangan kalian ke arah barat maka anda akan melihat menara salib di atas bukit, itulah singki'. Sesampai di parkiran, tantangan naik tangga sudah menunggu. Ini bukan hal yang mudah menurutku, menaiki tangga demi tangga akhirnya kami tiba di puncak menara. Segerombolan anak sekolahan yang juga sedang menikmati juga angin sepoi-sepoi dari puncak menara tapi ada sesuatu hal yang mereka lakukan yang membuat saya geleng-gelang kepala. Sepasang muda-mudi yang sedang asyik berduan dibalik tembok. Saya melihat ada 3 pasangan yang sedang asyik bercengkrama dan melakukan sesuatu hal yang tak perlu saya tulis dalam tulisan ini. Bukan hanya itu beberapa anak laki-laki, jika saya lihat dari pakaian yang digunakan mereka ini anak SMP. Mereka melakukan hal yang berbeda dimana sedang asyik mengisap rokok dan bangganya mengeluarkan asap rokok dari mulutnya.

Ya sudah, biarkan mereka melakukan hal yang mereka sukai. Saya kesini hanya untuk menikmati pemandangan dari puncak menara. Atap-atap rumah yang terlihat sangat rapi dan pegunungan yang mengelilinginya. Saya sempat menunjuk Batutumonga yang mana tadi pagi saya berdiri disana sambil memandangi indahnya sunrise.

Saya membayangkan saya ditempat ini dikala senja sambil memandangi matahari terbenam dan menikmati indahnya lampu kota rantepao. Singki' dibangun sebagai simbol kota Rantepao seperti di Rio de Janeiro Brazil.

Pemandangan dari menara Singki'
Adzan terdengar dari menara ini, itu menandaka sudah waktunya sholat dzuhur. Rantepao memang mayoritas beragama nasrani tapi ada sebuah mesjid di kota Rantepao. Saya memutuskan untuk turun karena saya juga sudah merasa puas berada ditempat ini. Perjalanan turun juga tak sesusah dan seberat waktu naik tadi.

Kembali ke kawasan oleh-oleh Rantepao, Tandik memilih turun di sebuah toko di pinggir jalan dan menunjukkan arah menuju mesjid. Setelah cukup mengerti saya mengikuti instruksinya dan akhirnya menemukan juga mesjid. Bangunan mesjid lantai 2 dimana bagian depannya terdapat 2 buah bangunan tongkonan yang menjadi ciri khas mesjid ini.

Setelah sholat saya kembali menuju kawasan pusat oleh - oleh. Ada satu benda yang saya ingin miliki dan membeli langsung ditempat asalnya, sarung toraja. Sarung Toraja berbeda dengan sarung pada umumnya, dimana panjangnya sekitar 2 meter dan berwarna hitam harganya berkisar Rp. 100.000,-. Sebenarnya ada juga motif batik tapi karena saya menginkan yang hitam makanya pilihan jatuh ke sarung toraja hitam.

Kota Rantepao, Toraja Utara

mengenalkan Indonesia dengan apa yang kita mampu 
tak ada kata menyerah untuk mencintai Indonesia
INDONESIANHOLIC

2 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

Toraja Part 4 : Batutumonga, Kampung di atas awan

Monday, October 28, 2013 muhammad akbar 42 Comments

Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, langkah kaki semakin cepat menuju parkiran. Mengambil tas di pos tiket tanpa melupakan mengucapkan rasa terima kasih dan sedikit menunduk sebagai bentuk rasa hormat. Berkunjung ke tempat orang itu janganlah kita merasa sombong tapi cobalah bersikap merendah agar masyarakat sekitar juga menghargai dan menerima kita dengan baik.

Memacu motor menuju kota Rantepao, di tengah perjalanan saya mencoba bertanya ke tandik.

" Tandik, Malam ini kita menginap dimana?? "  tanya saya 

" Bukannya kamu mau ke Batutumonga melihat sunrise!!! Menginap disana saja " sahut tandik

Sepengetahuan saya tentang Batutumonga itu terletak di kaki gunung sesean, dimana disana kita bisa melihat gemerlap lampu kota Rantepao di malam hari dan menikmati sunsrise di pagi hari.

Sebelum menuju Rantepao, kami singgah dulu di sebuah minimarket yang lumayan besar membeli kaos kaki dan beberapa cemilan. Sebelum keluar dari minimarket saya sempat bertemu dengan seorang tourist asing berasal dari perancis yang hendak membeli peta Toraja, Inti dari percakapan kami adalah dia sudah menghabiskan waktunya selama 3 minggu di Indonesia dan masih punya waktu 1 minggu untuk keliling Toraja dan Bulukumba. Dia sangat cinta akan keindahan Indonesia.

Meninggalkan kota Rantepao menuju Batutumonga dimana jaraknya sekitar 30 km, perjalanan pun dimulai menuju arah utara keluar dari kota kemudian menyusuri jalan beraspal dan sedikit berlubang. Ada hal yang menarik, ternyata tandik yang aslinya orang Toraja belum sama sekali ke Batutumonga. Alhasil kami sering bertanya jika perjalanan kami terasa jauh atau mendapatkan persimpangan. 

" Malu bertanya sesat dijalan, Malu bertanya jalan terus "

Ucapan terima kasih kepada orang - orang yang telah membantu kami menuju Batutumonga. Perjalanan yang menanjak dan sempit memaksa motor saya kerja ekstra. Hari semakin gelap dan cuaca semakin dingin menemani perjalan kami. Tak terasa kami sudah tiba di daerah Tinambayo, dimana dari tempat ini sudah sangat dekat dengan Batutumonga. Pemandangan dari sini sangat menakjubkan tapi sayang hari mulai gelap jadi indahnya sawah-sawah bertingkat Toraja kurang begitu terlihat.

Tepat pukul 19.00 kami tiba di Batutumonga, tapi kami masih bingung mau nginap dimana. Beberapa homestay telah terlewati tapi saya masih memacu pelan menyusuri jalan sambil melihat kiri kanan jalan. Kami pun sempat putar balik mencari penginapan yang pas yang akhirnya kami memilih Mama Rina Homestay dengan harga Rp. 125.000,-/ malam (diluar breakfast)

Mama Rina Homestay dengan arsitektur Rumah khas Toraja
Kami sudah tak punya pilihan lagi untuk mencari penginapan lain, karena cuaca dingin yang membuat saya merindukan tempat tidur. Ternyata penginapan ini menjadi pilihan favorit para tourist asing. Setelah menyimpan barang di kamar dan sholat magrib dan isya. Kami memesan 2 porsi Indomie telur + nasi dan 1 cerek kopi Toraja untuk kami berdua. Makan malam yang begitu nikmat dengan cuaca yang dingin dan pemandangan gemerlap lampu kota Rantepao yang terlihat jelas. Ruang makannya tidak diberi dinding jadi kita bisa dengan langsung melihat keluar tanpa sekat tapi cuacanya dingin pake banget.

Memilih untuk tidur lebih cepat agar kami bisa bangun sebelum matahari terbit. Untunglah kamarnya double bed sehingga kami tidurnya terpisah, jadi jangan bertanya apa yang terjadi selama kami tidur. Biarkan itu menjadi rahasia kami.

Bunyi alarm yang terdengar semakin keras membangunkan saya di tidur lelapku. Rasanya ingin tetap berada didalam selimut, tapi niat untuk melihat indahnya sunrise membangkitkan saya dari tempat tidurku. Mengambil air wudhu kemudian sholat subuh. Selanjutnya bergegas keluar menuju spot sunrise. Cuaca yang dingin bukan penghalang bagi saya untuk keluar. Ada keindahan yang sudah  menunggu diluar sana.


Matahari sudah mulai keluar dari peraduannya
Lautan awan
Saya bangga lahir di Indonesia dan Aku Cinta Indonesia
Hanya rasa takjub yang saya rasakan akan keindahan panorama apa yang ada didepan mata saya. Lautan awan dan gradasi warna langit yang begitu indah memanjakan mata. Ingin rasanya melompat dan berselancar di lautan awan. Inilah keindahan yang membuat saya berada ditempat terindah ini. Rasa syukur tak hentinya saya ucapkan, tak ada rasa penyesalan sedikutpun walaupun perjalanan menuju tempat ini begitu sulit tapi semua terbayarkan dengan apa yang akan kamu lihat.
Batutumonga, kampung di atas awan. Letaknya yang berada di kaki gunung sesean sehingga awan dan desa ini berada di satu garis lurus. Rantepao yang malamnya terlihat gemerlap lampu, pagi ini semuanya ditutupi oleh awan. Terlihat beberapa puncak bukit masih keliatan serasa ingin melompat kesana kemari.

Matahari mulai keluar dari peraduannya untuk menghangatkan embun yang dan menerangi bumi ini dengan cahayanya. Aktivitas masyarakat desa Batutumonga mulai terlihat. Saya melihat beberapa anak SD berjalan menuju sekolahnya tanpa alas kaki dan pakaian yang tidak seragam. Begitu bersemangat mereka menuntuk ilmu walaupun dalam keterbatasan fasilitas. Adik - adik ini adalah generasi bangsa yang akan mengharumkan bangsa dan negara. Sangat kontras dengan kehidupan anak sekolahan di perkotaan yang dilengkapi dengan fasilitas pendukung tapi mengabaikan pendidikan. Kapitalisme dan teknologi yang membuat anak sekarang termanjakan dengan fasilitas seperti gadget, naik motor ke sekolah bahkan beberapa yang naik mobil juga.  Semoga anak muda sekarang menyadari begitu pentingnya pendidikan sehingga dengan fasilitas yang diberikan dari orangtuanya menjadi mereka lebih semangat belajar.

Syal trip Indonesia bersama dengan adik -adik dari desa Batutumonga
Gunung Sesean
Inilah sisi keindahan dari keindahan Tana Toraja. Sebagian orang mengenal Toraja dengan kuburan, rumah tongkonan, upacara kematian yang membuat mereka sedikit takut untuk berkunjung ke Toraja. Berkunjung ke Toraja datanglah ke Batutumonga, anda akan disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa dan menakjubkan.


mengenalkan Indonesia dengan apa yang kita mampu 
tak ada kata menyerah untuk mencintai Indonesia
INDONESIANHOLIC

42 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

Tips Backpacking ke Tana Toraja

Tuesday, October 22, 2013 muhammad akbar 110 Comments


Tana Toraja merupakan salah satu wisata andalan Sulawesi Selatan. Kamu akan melihat kearifan lokal masyarakaat Tana Toraja dimana dikenal dengan upacara kematian yang harus mengorbankan ratusan kerbau dan babi. Upacara kematian orang toraja sangat dikenal hingga mancanegara. Tak hanya itu pesona alam dari Tana toraja menawarkan pemandangan pegunungan. Suasana yang dingin karena memang lokasinya berada di dataran tinggi.

Saya akan berbagi tips-tips untuk menuju Tana Toraja:

Transportasi
  • Pilihlan penerbangan menuju Bandara International Sultan Hasanuddin, Makassar dari tempat asal anda. Ada beberapa maskapai penerbangan yang menuju Makassar tinggal sesuaikan dengan isi kantong anda.
  • Setelah tiba di Bandara, Naik Damri atau Taksi menuju kota Makassar 
  • Untuk menuju Toraja ada 2 pilihan, naik pesawat atau naik bus. Untuk pesawat tersedia 3x dalam seminggu dan untuk bus tersedia setiap hari.
  • Ada banyak Bus yang melayani Makassar - Toraja PP seperti:
    Bus Manggala Trans, Bus Metro Permai, Bus Charisma Transport, Bus Liman, Bus Litha. Co, Bus Bintang Prima, Bus Bintang Timur. Harga tiket berkisar Rp. 100.000,- sampai Rp. 150.000,- (Harga sewaktu - waktu  dapat  berubah menjelang Hari raya idul fitri dan Natal)
  • Perjalanan Makassar - Toraja sekitar 8 jam. Pilihlanh bus yang berangkat pada jam malam agar bisa tiba Toraja pada pagi hari. 
  • Pool Bus toraja pemberhentian terakhirnya di kota Rantepao, Jika anda hanya trip sehari jangan lupa beli tiket terlebih dahulu dan pilihlah yang pemberangkatan terakhir 
  • Transportasi selama di Toraja anda bisa rental motor atau rental mobil jika anda datang rombongan. 
Destinasi Wisata 
  • Jika anda punya waktu hanya sehari untuk eksplore Tana Toraja, ada 2 pilihan mau eksplore Toraja bagian utara atau Toraja bagian selatan.
  • Tana Toraja bagian selatan meliputi: Kete' kesu, Lemo, Londa, Tilanga, Kambira, Suaya, dan city tour Rantepao 
  • Tana Toraja bagian Utara meliputi Batutumonga, Bori', Pasar Bolu, Lokomata, Singki' dan City tour Rantepao 
  • Jika hanya sehari, saya sarankan eksplore Tana Toraja bagian selatan.
  • Wisata Toraja didominasi makam tebing dan goa, pemandangan alam, upacara kematian dan spot-spot indah lainnya 
  • Tiket masuk tempat wisata Rp. 10.000,- dan ada juga Rp. 5.000,-
Penginapan 
  • Penginapan Murah di kota Rantepao ada Wisma Maria I lokasinya dekat dari pusat kota Rantepao. 
  • Penginapan Murah di Batutumonga ada "Mama Rina Homestay" dan masih banyak lagi 
Kuliner 
  • Jika anda di Toraja hendaklah berhati hati dalam memilih warung karena sebagian warung menawarkan aneka kuliner dari Babi seperti Bakso Babi dan Pantollo. Jangan khawatir untuk yang beragama muslim, ada juga kok warung islam yang menyediakan aneka makanan halal. 
  • Anda juga bisa memilih Pappiong dan Tori - Tori.  
Lemo, Makam tebing dan Tongkonan

Batutumonga, Ada kampung di atas awan


    110 comments:

    Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

    Toraja part 3 : Tilanga, Lemo, dan Londa

    Sunday, October 20, 2013 muhammad akbar 7 Comments

    Lanjutan dari Toraja part 2

    Perjalanan di Toraja masih terus berlanjut, ada beberapa tujuan wisata yang saya harus kunjungi sebelum matahari kembali ke peraduannya. Sebenarnya trip sehari sudah cukup untuk mengunjungi bagian Toraja, tapi tidak untuk semuanya. Masih ada spot-spot indah lainnya.

    TILANGA
    Setelah dari Suaya, saya bergerak menuju spot selanjutnya yang kebanyakan orang masih belum tahu tempat ini karena akses kesana, harus mengikuti jalan bebatuan dan agak sedikit jauh masuk kedalam. Ada rasa penasaraan karena cerita mistis yang berhubungan dengan tempat ini. Masyarakat setempat mengenalnya dengan nama Tilanga.

    Tilanga merupakan sebuah kolam yang didalamnya terdapat moa belut berkuping (masapi). Airnya sangat jernih hingga kita bisa melihat dasar kolamnya. Jika Toraja identik dengan pegunungan dan kuburan, inilah tempat yang sedikit pembeda dengan anggapan orang tentang toraja. 

    Menurut teman saya, jika kita bisa melihat masapi keluar maka kita termasuk orang yang beruntung. Setelah sampai di area Tilanga, pandangan saya tentang tempat ini tidak terlalu menarik. Sebelum masuk pengunjung harus membayar tiket masuk Rp.10.000,-. Menuruni tangga menuju kolam yang dimaksud kami sudah dihampiri oleh beberapa anak kecil menawarkan jasa agar kami bisa melihat Masapi, tapi saya dengan halus menolak. Menurut info yang saya ketahui bahwa masapi itu bisa keluar jika dipanggil oleh seorang gadis dengan memukul-mukul jarinya ke air dan memancingnya dengan sebutir telur maka masapi itu akan keluar. Jika malam hari masapi keluar membersihkan dedauanan sehingga di pagi hari kolamnya kembali bersih.



    Air kebiruan dengan daun bambu diatas air. Suasana yang dingin dan tenang membuat saya berpikir bahwa inilah salah satu keindahan dari Tilanga. Tidak semua apa yang kita lihat dari luar begitu juga bagian dalamnya. Awalnya saya sedikit ragu dengan pesonanya tapi berdecak kagum dengan pesona keindahan yang ditawarkan. Jika anda mencari tempat yang tenang, adem, dan sejuk dengan suara gesekan daun bambu hingga menghasilkan suara yang khas maka Tilanga adalah jawabannya. Saya mendekati kolam dan menyentuh air nya yang dingin dan mengusapkan ke wajah rasanya itu luar biasa pakai banget.


    LEMO
    Puas menikmati ketenangan jiwa di Tilanga, perjalanan dilanjutkan ke Lemo. Suatu makam orang toraja yang mana ditempatkan di dinding. Lemo seperti suaya menurut saya, tapi ini sedikit berbeda. Sebelum masuk terlebih dahulu bayar Rp. 5.000,- kemudian berjalan kaki menyusuri  tangga dan pematang sawah. Tebing yang dilubangi dan dimasukkan jenasah dan didepannya terdapat tau-tau. Terdapat juga 2 buah tongkonan yang mana digunakan pada saat uupacara pemakaman.

    Tak berlama-lama di depan tebing Lemo, saya berjalan menyusuri sebuah jalan setapak yang membawa saya ke sebuah gubuk tua yang mana didalamnya terdapat banyak tau-tau yang dijual. Jika ada pengunjung yang berminat. Harga yang ditawarkan bervariasi dari harga Rp.25.000,- sampai Rp. 7.000.000,-. Harga yang ditawarkan membuat saya kaget dengan 1 buah patung yang terbuat dari kayu. Tak mudah juga membuatnya membutuhkan waktu berminggu-minggu apalagi tau-tau harus mirip dengan wajah asli yang dibuatkan.

    Koleksi tau-tau, pilih mana suka
    Lemo, Makam tebing.
    Tedong atau kerbau, hewan yang dipotong untuk upacara
    LONDA
    Tak jauh dari Lemo, Perjalanan dilanjutkan ke Londa. Salah satu tempat yang harus dikunjungi jika datang ke Toraja. Tidak terlalu sulit menemukan Londa karena di jalan poros Rantepao sudah ada tanda-tanda. Londa sendiri menawarkan pengunjungnya untuk menyusuri goa yang mana didalamnya terdapat banyak jenasah, tengkorak dan peti jenasah.

    Sebelum masuk ke dalam, saya membayar iuran masuk Rp.10.000,- dan menitipkan tas di petugas tiket. Beberapa guide menawarkan jasa untuk mengantar masuk ke dalam gua. Berhubung saya tidak bawa alat penerangan jadinya harus menyewa lampu petromak seharga Rp. 25.000,-. Kami berjalan berbaregan menuju Goa, terlihat di atas tebing terdapat peti jenash yang sudah mulai rapuh menggelantung.

    Peti mayat yang digantung berumur ratusan tahun
    Sebelum masuk, bapak yang menjadi guide mempersilahkan untuk berfoto terlebih dulu sambil dia menjelaskan setiap detail apa yang saya tanyakan. Mengantar kami masuk kedalam, nyali saya sedikit teruji dengan adanya tengkorak disamping kanan kiri, tapi jangan takut tengkorak itu tidak mengigit. Menyelusuri Goa dan mengarahkan saya untuk berdiri di spot yang keren kemudian di foto oleh teman saya, sepertinya bapak ini sudah paham betul dengan maksud pengunjungnya.

    Saya melihat tulang belulang yang berserakan dan tengkorak yang dipenuhi uang recehan dan rokok. Banyak peziarah yang memang masih punya keturunan keluarga biasanya menyimpan beberapa uang recehan dan juga uang seribuan. Ada juga beberapa pakaian bekas yang bertumpuk didekat peti jenasah, konon itu adalah pakaian kesukaan orang yang ada didalam peti itu. Ada satu yang membuat saya sedikit kagum, sepasang tengkorak yang disimpan berdampingan konon ceritanya itu adalah pasangan yang tak direstui karena masih ada hubungan darah (sepupu) tapi karena kekuatan cinta mereka akhirnya memilih jalan bunuh diri dengan maksud agar nantinya alam selanjutnya mereka akan bersatu.

    Uang recehan dan Rokok dan tengkorak. pilih mana??
    Peti jenasah dalam Goa
    Romeo and Juliet Versi Toraja

    Berhubung ini spot terakhir saya kunjungi karena hari sudah mulai sore juga. Rencananya untuk malam ini kami akan menuju tanah tertinggi Tana Toraja.

    Cerita perjalanan saya berlanjut
    Toraja part 4

    7 comments:

    Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

    Toraja part 2: Makale, Kambira dan Suaya

    Thursday, October 17, 2013 muhammad akbar 4 Comments

    Lanjutan dari Toraja Part 1

    Setelah perjalanan sekitar 4 jam, akhirnya saya sudah tiba di kota Makale ibukota dari kabupaten Tana Toraja. Tana Toraja sekarang sudah terbagi menjadi 2 kabupaten setelah terjadi proses pemekaran. Tiba di Makale sebelum pukul 12 itu artinya saya masih punya waktu untuk keliling dulu sebelum sholat jumat. Memilih istirahat di bawah pohon tepat berhadapan dengan kolam Makale. Saya melihat sekeliling dan mata saya sedikit silau dari cahaya matahari tapi cuaca tak begitu panas. Pandangan saya terhenti di sebuah bangunan bertuliskan Kantor Dinas kebudayaan dan Pariwisata Toraja, Makale. Saya mendekat untuk mendapatkan info tempat wisata dan brosur.

    Makale
    Makale adalah ibukota dari kabupaten Tana Toraja. Ini kota pertama yang saya akan eksplore sebelum ke destinasi selanjutnya. Ada mesjid Agung Makale yang merupakan mesjid terbesar. Samping mesjid terdapat sebuah warung yang menyediakan nasi campur dan dijamin halal. Bagi anda yang hendak berkunjung Toraja hendaklah berhati-hati dalam memilih warung makan. Nasi campur seharga Rp. 25.000,- saya pesan ke salah satu ibu yang menjaga warung tersebut.

    Adzan berkumandang di Mesjid Agung Makale, itu menandakan saya harus bergegas menuju mesjid. Memilih tempat paling belakang agar bisa bersandar di dinding agar rasa lelah sedikit terkurangi. Mendengarkan ceramah jumat dalam keadaan ngantuk itu sesuatu banget, godaan setan sudah merasuki pikiranku agar saya tertidur tapi sang malaikat melawan agar saya tetap bertahan. Ada hal yang membuat saya sedikit kagum dengan jemaah mesjid yang penuh, padahal kalau kita ketahui Tana Toraja didominasi beragama Kristen. Makale memang masih banyak warganya bergama islam. Salah satu warga mengatakan bahwa Makale itu aman karena rasa saling menghormati antar agama mereka junjung.

    Ada pesan masuk di HP saya ternyata salah satu teman saya bernama Tandik, menawarkan diri untuk menjadi guide selama di Toraja. Tandik adalah teman kerja saya yang tinggal di Toraja. Saya mengiyakan tawarannya kebetulan saya lagi solo traveller ini sangat membantu selama perjalanan. Janjian bertemu di depan mesjid. 

    Landmark Kota Makale
    Perjalanan kami mulai menuju Kambira.
    Baby Grave (KAMBIRA)
    Baby Grave "Kambira" adalah sebuah tempat pemakaman bayi yang mana bayi yang meninggal sebelum tumbuh gigi susunya yang mayatnya dimasukkan ke dalam pohon tarra'. Mereka percaya bahwa pohon tarra dapat menyusui bayi tersebut karena pohon tarra' dikenal kaya akan getah. 

    Sebelum masuk di area Kambira, terlebih dahulu pengunjung harus membayar iuran masuk Rp. 5.000,- kepada ibu tua yang menjaga. Terlihat banyak mobil pariwisata yang membawa tourist asing. Mereka datang jauh hanya untuk melihat suatu situs yang harus kita banggakan. Berjalan menuruni tangga sekitar 10 meter sudah terlihat sebuah pohon besar dimana pohonnya sudah terlihat makam-makam bayi yang tertutupi oleh ijuk.

    Baby Grave Kambira
    Wisatawan asal Jerman serius mendengarkan penjelasan tentang Kambira
    Miniatur tau-tau dijual sebagai oleh-oleh
    Perjalanan di lanjutkan ke Suaya,
    SUAYA
    Suaya adalah kompleks pemakaman untuk para bangsawan Sangalla. Kuburannya berada di dinding tebing batu yang dipahat sehingga terbentuk seperti lubang. Semakin tinggi mayatnya maka akan semakin tinggi pula derajat kebangsawanannya. Terdapat juga tau - tau (patung) yang disimpan berdiri di tebing. Untuk menggapai makam yang lebih tinggi terdapat sebuah tangga batu tapi saya sedikit ragu untuk menaikinya. Selain mayat di tebing juga terdapat makam bangsawan sangalla namun makamnya hanya ditanah seperti pemakaman islam pada umumnya. 

    Jarak Suaya dari Kambira sangat dekat, tinggal menyusuri jalan lurus tapi saya sempat tersasar karena memang tidak ada tanda-tanda yang jelas. Saat itu juga saya hanya masuk gratis, padahal sebenarnya pengunjung harus membayar Rp. 5.000,- mungkin penjaganya lagi istirahat. Tak banyak waktu saya habiskan disini karena masih ada destinasi yang saya akan kunjungi .

    Suaya, Makam para bangsawan Sangalla
    Tao - Tao di Suaya
    Syal Trip Indonesia terbentang di Suaya.
    Masih ada spot-spot indah yang lainnya, dimana saya akan menuju kolam yang airnya sangat jernih dan ada juga susur goa.

    Cerita Perjalanan saya berlanjut 

    4 comments:

    Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

    Toraja part 1 : Perjalanan Menuju Toraja

    Thursday, October 17, 2013 muhammad akbar 3 Comments

    Perjalanan liburan ke Toraja penuh dengan cerita dan kebimbangan. Menentukan destinasi liburan terkadang saya harus berfikir lebih tapi bukan berarti saya orangnya tidak konsisten. Masih teringat jelas ingatan saya ketika di penghujung 2012 ketika itu saya mendapatkan kebimbangan antara ke Toraja atau Palu Sulteng, namun akhirnya Palu yang terpilih.

    Liburan ke Toraja ini adalah liburan yang re-schedule yang akhirnya saya jadwalkan setelah lebaran idul fitri. Persiapan dan itinerary sudah tersusun rapi tapi kali ini ada lagi yang membuat saya sedikit bingung antara naik bus ke toraja atau naik motor. Hanya untuk diketahui bahwa jaraknya Makassar - Toraja sekitar 400 km dan lama perjalanan 8 jam dengan naik bus, tapi jangan parno dulu dengan lama perjalanannya karena bus menuju Toraja adalah bus kelas atas. Bus Toraja adalah bus paling nyaman, itu salah satu beberapa pendapat teman backpacker yang sudah naik bus toraja. Pikiran kembali tertuju bahwa jika saya naik motor saya akan lebih menikmati perjalanan demi perjalanan dan yang lebih penting akses selama di toraja pastinya akan lebih mudah. 

    Setelah melewati proses pemikiran yang alot, akhirnya pilihan saya jatuhkan dengan naik motor. Berhubung saya lagi pulang ke sidrap. Sidrap adalah sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan dimana berada ditengah-tengah antara Makassar dan Toraja. Jika dari Sidrap saya hanya butuh 3 jam untuk sampai di Makale dalam keadaan lalu lintas lancar.

    Jumat, 23 Agustus 2013
    Hari itu hari jumat, saya rencanakan akan tiba di kota Makale Tana Toraja sebelum jam 12 agar bisa sholat Jumat di Mesjid Agung Makale. Tepat jam 7.30 saya meninggalkan kota rappang dengan Jupiter Z. Sebelum sampai di Toraja saya akan melewati kabupaten Enrekang. Enrekang dikenal dengan tanah tertinggi di pulau Sulawesi dimana terdapat Gunung Latimojong 3680 mdpl (wikipedia). Sebelum sampai di Toraja saya terlebih dahulu singgah di salah satu rumah teman yang ada di Enrekang untuk silaturahmi dan sekedar ngopi bersama. 

    Pemandangan menuju Toraja sangat memanjakan mata dimana kita bisa melihat pegunungan di sisi kiri dan kanan. Ada satu tempat yang menjadi tujuan saya sebelum di toraja, tempat itu sedikit intrik dan unik. Masyarakat sekitar mengenalnya "Buntu Kabobong" atau Gunung Nona dimana bentuk dari gunung ini seperti kemaluan wanita. Tepat di seberang jalan ada juga Gunung Bambapuang yang mana jika di sore hari akan terjadi perpaduan bayangan antara Gunung Nona dan Gunung Bambapuang layaknya sepasang yang lagi memadu cinta.

    Gunung Nona "Buntu Kabobong"
    Buntu kabobong memang dijadikan sebagai rest point dengan banyaknya warung-warung di pinggir jalan. Saya memilih istirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Pemandangan yang hijau dari pegunungan dengan udara yang sejuk adalah serangkain keindahan yang saya nikmati. 

    Setelah merasa cukup puas, perjalanan pun di lanjutkan menuju Toraja. Perjalanan berbelok-belok dan jalanan naik turun membuat adrenalin saya terpacu untuk mengencangkan gas motor yang membuat saya seperti berada di jalur sirkuit. Tak lama berselang saya dikagetkan dengan gapura rumah tongkonan di atas jalanan, ternyata saya sudah memasuki area perbatasan. Menghentikan motor sejenak dan mengabadikan beberapa gambar.

    Perbatasan Enrekang - Tana Toraja

    Falsafah hidup masyarakat Tana Toraja
    Dari daerah perbatasan masih ada sekitar 30 km terlihat dari tugu kilometer bagian kiri jalan. Perjalanan sudah memasuki toraja, laju motor saya sedikit melambat karena jalanan tidak terlalu bagus. Sangat disayangkan beberapa jalanan kurang begitu mulus padahal Toraja merupakan pusat kunjungan wisatawan mancanegara yang harusnya jadi perhatian pemerintah agar pengunjung yang datang merasa nyaman. Selang beberapa menit perjalanan terhenti di pusat kota makale ditandai dengan kolam dimana di tengahnya terdapat patung lakipadada.

    SELAMAT DATANG DI MAKALE, TANA TORAJA
    Cerita selanjutnya
    Toraja part 2 : Makale, Kambira dan Suaya

    3 comments:

    Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

    One Day Trip Makassar - Gowa

    Monday, October 07, 2013 muhammad akbar 26 Comments

    Berkunjung ke Makassar tidak akan membuat anda menyesal walaupun anda tidak punya banyak waktu. Ada beberapa spot wisata, sejarah, kuliner yang ada di Makassar dimana lokasinya sangat berdekatan dan memungkinkan di jelajahi dalam sehari. Selain Makassar anda juga bisa berkunjung ke Gowa, kota yang dikenal kota sejarah yang terletak disebelah selatan kota Makassar.

    Mungkin beberapa diantara anda hanya mengetahui Pantai Losari dan Fort Roterdam sebagai wisata kota makassar, ini tidak salah tapi alangkah sempurnanya liburan anda jika bisa mengunjungi daerah wisata lainnya
    14 Agustus 2013, hari itu rabu pagi saya melakukan perjalanan keliling Makassar - Gowa. Itinerary sudah tersusun dengan baik dengan memasukkan wisata kota, kuliner dan sejarah menjadi agenda saya. Untuk menghemat waktu perjalanan saya memilih naik motor agar bisa leluasa dari tempat yang satu ke tempat lainnya. 

    Berikut Spot yang berhasil saya kunjungi :
    Spot 1: Anjungan Bugis - Makassar "City Of Makassar"
    Pukul : 08.00 - 08.30
    Anjungan Bugis Makassar adalah salah satu bagian dari Anjungan Pantai Losari, tempat ini diresmikan di penghujung Tahun 2012. Tulisan Makassar - Bugis menjadi andalan para pengunjung untuk mengabadikan kedatangannya. Patung Becak, Patung Pa'raga dan beberapa patung pahlawan asal sulsel juga terpampang indah. Berkunjunglah di pagi hari agar kalian bisa melihat sunrise dan leluasa berphoto ria tanpa banyak gangguan sehingga anda bisa mengabadikan photo anda dengan sempurna. Setelah saya merasa cukup untuk mengabadikan beberapa gambar, saya melanjutkan ke spot selanjutnya




    Spot 2 : Anjungan Pantai Losari
    Pukul 08.30 -08.45

    Spot selanjutnya adalah Anjungan Pantai Losari, hanya berjalan kaki karena memang lokasinya masih satu kawasan. Pantai Losari adalah landmark kota Makassar, perjalanan anda kurang lengkap jika tidak berkunjung ke sini. Tulisan Pantai Losari menjadi sasaran pengunjung untuk mengabadikan kunjungannya. Setelah puas mengambil gambar, saya menuju spot selanjutnya untuk menikmati kuliner andalan kota Makassar.


    SPOT 3 :  Warung Coto Nusantara
    Pukul : 08.50 - 09.15
    Warung Coto Nusantara adalah warung paling direkomendasikan untuk hidangan Coto Makassar". Coto Makassar adalah makanan berkuah yang berisi jeroan seperti paru, lidah, babat, usus dan daging yang dimakan bersama ketupat. Memang benar ini salah satu warung favorit terbukti dengan banyaknya pengunjung hingga kita harus antri tempat duduk. Harga 1 porsi coto makassar Rp. 18.000,- dan ketupat Rp. 1.000,- dan spesialnya kita mendapat es teh tawar gratis. Harganya memang sedikit lebih mahal dari harga coto makassar pada umumnya tapi cita rasanya sangat setimpal dengan harganya.


    Spot 4 : Societeic de Harmonie
    Pukul : 09.20 - 09.25
    Setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan ke salah satu gedung tua peninggalan belanda yang sekarang dialih fungsikan sebagai Gedung kesenian Sulsel. Societic de Harmonie terletak di jalan Riburane nomor 15, tepat berada di depan gedung RRI. Seringkali tempat ini dijadikan ajang tempat ngumpul para komunitas motor di malam minggu.

    Spot 5 : Museum Kota Makassar
    Pukul : 09. 25 - 09.30
    Tak jauh dari Gedung societic de Harmonie terdapat sebuah Museum kota Makassar tepatnya di samping gedung Balaikota Makassar. Museum ini memang tidak terlalu dikenal tapi bagi anda yang pecinta sejarah tak ada salahnya mengunjunginya.

    Spot 6 : Monumen Mandala
    Pukul : 09.30 - 09.45
    Monumen mandala dibangun dalam rangka mengenang pembebasan irian barat atau yang lebih dikenal operasi trikora dimana pada saat itu pasukan dipimpin oleh mayor jendral soeharto yang ditunjuk langsung oleh presiden soekarno. Monumen Mandala seringkali disebut "Monas kota Makassar". Pengunjung juga bisa masuk ke dalam karena terdapat museum didalamnya. Mari Lanjut Perjalanan ke gowa.


    Spot 7 : Museum Balla Lompoa
    Pukul : 09.45 - 11.00

    Setelah menyusuri sebagian kota makassar kini perjalanan dilanjutkan ke arah gowa. Gowa merupakan kota bersejarah dimana kerajaan islam pertama di sulawesi selatan "Kerajaan Gowa - Tallo".

    Balla artinya Rumah dan Lompoa artinya Besar dimana diartikan sebagai rumah kebesaran. Museum Balla Lompoa menyimpan koleksi benda-benda berharga yang tinggi akan nilai sejarahnya. Museum Balla Lompoa terletak di Jalan Sultan Hasanuddin No. 48 Sungguminasa, Gowa.

    Sebelum masuk ke museum pengunjung harus mengisi buku registrasi denga menuliskan nama, asal dan tujuan kedatangan.
     

    Spot 8 : Istana Tamalate
    Pukul : 11.00 - 11.15
    Istana tamalate masih terletak di kawasan balla lompoa. Bangunan istana tamalate lebih besar dari balla lompoa. Istana tamalate adalah replika dari istana yang asli. Pada saat saya berkunjung, Istana Tamalate dalam proses renovasi jadi hanya bisa lihat dari luar. Bangunannya juga berasitektur rumah Bugis.


    Spot 9 : Makam Raja - Raja Gowa
    Pukul : 11.15 - 12.00
    Makam Raja - Raja Gowa masih terletak di Gowa, lokasinya berjauhan dari Balla lompoa. Tujuan utama saya datang adalah ingin melihat langsung makam Sultan Hasanuddin.


    Spot 10 : Mesjid Katangka
    Pukul : 12.00 - 12.30 
    Mesjid Katangka adalah Mesjid tertua di Sulsel, dibangun pada tahun 1603. Ornamen dalam mesjid berartistik china.  Lokasinya dekat dari makam raja - raja gowa. Menunaikan sholat dzuhur di mesjid tertua sulsel adalah kebanggaan saya pribadi.


    Spot 11 : Kuliner Pisang Ijo dan Jalangkote
    Pukul 12.30 - 13.30
    Setelah sholat dzuhur saya kembali ke makassar dan melanjutkan perjalanan ke spot selanjutnya. Saatnya mencari kuliner khas kota makassar yaitu Pisang Ijo dan Jalangkote.


    Spot 12 : Benteng Somba Opu
    Pukul : 13.30 - 14.30

    Benteng Somba opu merupakan bekas benteng pertahanan Kerajaan Gowa saat berperang melawan Belanda. Kawasan Benteng Somba opu juga diajadikan sebagai pusat rumah adat se-sulsel. Rumah adat tiap kabupaten terdapat disini.



    Spot 13 : Mesjid Al Markas
    Pukul : 14. 30 - 15. 30
    Mesjid Al Markas adalah salah satu mesjid terbesar di Makassar.  Untuk naik ke lantai 2 terdapat tangga lift dan parkirannya sangat luas. Waktu yang tepat untuk sholat ashar sebelum menuju spot selanjutnya.

    Spot 14 : Fort Roterdam
    Pukul : 15.45 - 16. 30fort Roterdam adalah benteng peninggalan kerajaan gowa tallo. Masyarakat dulu mengenalanya benteng pannyua (Penyu) dengan filosofi kekuatan perang bisa berjaya di darat dan di lautan. Berkunjung ke makassar kurang lengkap jika tidak berkunjung ke roterdam. Pengunjung akan merasa seperti di belanda.



    Spot 15 : Pantai Losari
    Pukul 16.30 - 18.00
    Inilah Penutup dari semua perjalanan selama 1 hari full dimana ditutup dengan menikmati sunset di pantai losari. Banyak yang mengatakan bahwa "gold sunrise ada di bromo dan gold sunset ada di pantai losari". Pantai losari di waktu sore hari sangat ramai karena memang salah satu tempat favorit menikmati sunset. Setelah menikmati sunset saya ingin menutup rangkaian perjalanan dengan sholat magrib di mesjid terapung Mesjid Amirul Mukminin.
     


    Terima Kasih sudah mengikuti perjalanan saya, beberapa pilihan bisa anda masukkan jika berada di losari pada malam hari dengan menikmati Pisang epe' dan Mie titi' di kawasan Kuliner Makassar. 
    #VISITMAKASSAR

    Indonesia adalah bagian dari surga dunia
    Tak pernah lelah untuk mencintai
    Indonesia Kenalkan indonesia dengan apa yang kita mampu  
    INDONESIANHOLIC




    26 comments:

    Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh