Cerita Tentang Pemahat Kayu dari Tana Toraja #SMESCONV

Tuesday, October 20, 2015 muhammad akbar 33 Comments


Dari kejauhan saya melihat sebuah pondok di tengah sawah, saya pun berjalan mendekati karena ada rasa penasaran untuk melihatnya lebih dekat. Seorang bapak tua dengan baju kaos putih sedang sibuk dengan pekerjaannya, beliau lagi mengukir kayu. Dari sebuah batang kayu disulap menjadi sebuah tau-tau, sebutan replika atau tiruan patung orang yang terbuat dari kayu yang biasanya banyak ditemukan di situs-situs pemakaman Tana Toraja. Jika yang pernah ke berkunjung ke Tana Toraja pasti akan mengerti kenapa sih harus membuat tau-tau. Untuk membuat sebuah tau-tau, beliau menghabiskan waktu dua minggu bahkan sampai satu bulan tergantung dari kesulitannya, semakin mirip dengan orangnya maka butuh waktu juga untuk mengerjakannya dan tentunya juga semakin mahal.



Deretan hasil karyanya disandarkan di pinggir pondoknya, ternyata beliau tidak hanya membuat tau-tau tapi juga membuat pajangan dinding,  keranjang dari bambu, miniatur orang toraja lengkap dengan balutan kain khas torajanya dan patung orang yang sedang bepelukan mesra. Barang-barang yang dibuatnya bisa juga dijadikan sebagai hiasan di dalam rumah, sebut saja ukiran kayu seni torajanya yang khas dengan motif corak warnanya.

“Silahkan dilihat-lihat pak, siapa tau berminat” kata bapaknya sambil menunjuk karyanya.

Sambil saya melihat-lihat karyanya, beliau menyelipkan cerita bagaimana dia bertahan hidup dengan pekerjaannya ini. Dari pekerjaannya dia bisa menghidupi keluarganya. Beliau menuturkan banyak cerita tentang apa yang dikerjakannya. Namun pendapatannya sekarang tidak sebanyak seperti dulu. Banyak hal yang menjadi kendalanya baik dari segi bahan baku maupun dari segi pemasaran dalam penjualan. Namun dia tetap bangga akan pekerjaanya, apa yang dia kerjakan ini tidak semua orang bisa melakukannya. Beliau diberi keahlian dalam memahat kayu, maka itulah dia jadikan kelebihan dalam menggantungkan hidupnya.

Mahakarya Indonesia dari sebuah batang kayu
Cindera Mata dari Tana Toraja

Apa yang menjadi kendala bapak pemahat kayu dari Tana Toraja, cukup mewakili apa yang terjadi oleh para industri kreatif yang kian hari semakin sulit bersaing dengan gempuran bahan-bahan impor. Yang dibutuhkan sekarang adalah wadah bagi mereka dalam memasarkan produknya. 

Sudah saatnya memikirkan permasalahan ini, karena masyarakat bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan kreatifitas. Sudah seharusnya kita berbangga dengan menghadirkan secercah harapan buat mereka para seniman yang memiliki tangan-tangan kreatif, bukankah local brand lebih keren jika kita membandingkan dengan barang dari luar negeri, dari segi harga jauh lebih murah namun tidak murahan.

Kembali ke bapak pemahat kayu yang di Toraja, saat itu saya tidak sempat membeli barang jualannya. Ada rasa penyesalan, Liburan ke Tana Toraja namun tidak sempat membeli cindera mata dari bapak pemahat kayu sepertinya masih mengganjal sampai sekarang. Terlintas di pikiran saya tentang Smesco kenapa tidak ke sana saja setidaknya bisa menjadi penawar rasa sesal yang membelenggu.

Smesco, sebagai pusat cindera mata dan produk nusantara. Sepertinya ukiran Toraja bisa saya temukan di smesco,  saya sih belum pernah ke sana namun info dari teman blogger, bahwa di smesco kita bisa menemukan produk-produk Indonesia. Terdapat stand 34 provinsi. dari seluruh penjuru Nusantara. Ada banyak barang dari tangan-tangan kreatif yang bisa ditemukan tanpa harus keliling Indonesia.

Lukisan Batik 
Kreatif gak?
Hadirnya smesco sebagai awal kemajuan industri kreatif Indonesia apalagi dengan misi dari smesco, sebagai wadah dalam mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada dunia internasional, maka dari itu dibutuhkan pelayanan yang professional terbaik kepada seluruh mitra yang terlibat.

Peluang dan tantangan Indonesia menyambut pasar bebas Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan semakin berperan besar,  kita hadir sebagai produsen bukan hanya sebagai konsumen. Produk kita bisa bersaing dengan produk luar negeri yang lain, namun semuanya kembali lagi ke diri kita masing-masing. Apakah kita sudah cukup bangga dengan produk lokal? 

33 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

Ragusa Es Italia, Es Krim Legendaris di Jakarta

Saturday, October 17, 2015 muhammad akbar 34 Comments

Siang hari kota Jakarta kini tak terbendung lagi, namun tidak menyurutkan langkahku dalam menemukan Toko Ragusa, toko es krim dari Italia yang sudah sangat melegenda. Berbekal informasi bahwa lokasi tokonya tidak jauh dari Stasiun Juanda, itulah kenapa saya lebih memilih naik commuter line. Turun di Stasiun Juanda, mata saya terperanga melihat perubahan Stasiun Juanda, wajahnya kini tidak seperti dulu. Deretan toko-toko dan jajanan fast food berjejer rapi di sisi kanan kirinya. Dinding dan ubinnya didominasi warna biru, intinya lebih terstrukturlah, salut deh dengan perbaikannya.

“Hanya es krim yang bisa menjadi pelepas dahaga”, pikirku siang itu.

Saya berjalan keluar dari stasiun Juanda, tawaran dari tukang ojek yang mangkal di parkiran luar stasiun, saya indahkan sambil tetap berjalan. Sempat mengambil arah yang salah karena terlalu fokus dengan aplikasi Google Maps, jadi Kalau kalian mau ke Toko Ragusa, hanya modal maps jangan diikuti secara detail karena lokasinya tidak persis sesuai yang ditunjukkan.


Deretan mobil terparkir dan gepulan asap didepan Toko Ragusa seakan menjadi penyambut kedatangan saya, namun dugaan saya salah karena siang itu pengunjung lagi ramai-ramainya. Saya pun melangkah masuk, mencari tempat duduk, cukup lama saya berdiri hingga bisa mendapatkan kursi kosong.

Toko Ragusa menerapkan sistem mandiri, pesan sendiri dan antri sendiri semuanya serba sendiri. Seperti saya yang datang sendiri. Saya memesan seporsi es krim banana split seharga 35 ribu. Dihidangkan dengan streefon, agar bisa langsung dibawa pulang jika tidak dapat tempat. 

Suasana di dalam Es Krim Ragusa
Sibuk dengan para pengunjungnya
Sejak 1932, Itu artinya toko es krim ini sudah eksis sebelum indonesia merdeka
Sambil menikmati es krim, saya pun memperhatikan sekeliling ruangan yang sesak dan panas ini tanpa dilengkapi pendingin ruangan, namun semuanya berubah adem ketika saya menikmati es krimnya. Toko es krim yang sudah ada sejak 1932, bisa dibilang warung legendaris yang ada di Jakarta. Memang benar, datang ke Ragusa saya seperti terbawa ke zaman tempo dulu dengan warna dinding putih pucat dan interior ruangannya. Sekeliling dinding digantung foto-foto lama Toko Ragusa, aneka menu dan sebuah piagam penghargaan dari MURI sebagai toko es krim tertua tertua yang masih buka sampai sekarang. Tidak ada kesan modern, dari kursi dan meja yang masih terbuat dari rotan, benar-benar klasik. 


Pengunjung silih berganti, ketika ada yang beranjak maka setelah itu datang lagi pengunjung yang baru. Sepertinya kursi-kursi tidak pernah dibiarkan lama kosong. Saya hampir satu jam duduk dengan dua menu yang saya pesan semuanya terlahap tanpa sisa.Sebelumnya pesan banana split, karena penasaran dengan es krim spagheti, maka saya pesan lagi menu itu. Saya suka es krimnya yang lembut, belum pernah makan es krim selembut ini. Entah kenapa setelah makan es krim, saya biasanya agak kehausan, tapi es krim ini itu beda, saya sama sekali tidak merasakannya. Mungkin karena es krimnya tidak menggunakan pengawet, seperti yang tertulis di atas dinding tengah kalau Es Krim Ragusa tidak menggunakan pengawet

Banana Split dengan toping kacang dan irisan buah kering
Es Krim Spagheti, mirip kan?
Saya tidak mencoba semua menunya, agar saya tetap punya alasan untuk datang kembali. Perubahan akan selalu ada seiring dengan perkembangan zaman, tapi Es Krim Ragusa tetap seperti dulu tanpa mengalami perubahan. 


ES KRIM RAGUSA ITALIA
Jalan Veteran I, No. 10 Gambir, Jakarta (Samping Masjid Istiqla)
Buka setiap hari dari pukul 09.00 - 22.00 WIB
Harga mulai dari 15K - 35 K
 

34 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh

Yuk, Berwisata Keliling Jakarta

Monday, October 05, 2015 muhammad akbar 66 Comments

Jakarta, kota metropolitan dengan segala aktifitas yang tiada henti. Kota yang menjanjikan harapan, namun terkadang tidak sesuai dengan ekspektasi para perantau, alhasil Jakarta semakin ramai, semakin sesak dan semakin riuh. Namun dibalik semua itu, Jakarta selalu punya cerita, yang tidak pernah habis untuk diceritakan. 

Lupakan sejenak permasalahan Jakarta, mari kita bertamasya. Tidak melulu harus ke Bogor atau ke Bandung. Dua tempat yang selalu menjadi pilihan tempat berwisata orang Jakarta. Kenapa harus keluar kota, kalau Jakarta punya destinasi yang jauh lebih asyik untuk ditelusuri.  

Jakarta memang bukan kota tujuan wisata, tapi bisa dibilang semuanya ada disini dengan pesonanya sendiri. Jakarta menyimpan keindahan yang kadang membuat orang tidak sadar. Apa yang kamu cari semuanya ada, ingin menikmati sunrise cukup membuka jendela (apartemen lantai atas), ingin menikmati indahnya pantai cukup menyebrang ke pulau-pulau yang ada di Kepulauan seribu, ingin menikmati sajian kuliner nusantara cukup datang ke kawasan Kelapa gading dan jalan Sabang, Ingin melihat aneka macam binatang maka datanglah ke Taman Margasatwa Ragunan, ingin menikmati indahnya sunset dan kelap kelip kota Jakarta datanglah ke cafe roof top Jakarta. Apalagi wisata sejarahnya, Jakarta bisa menjadi pilihan destinasi paling lengkap untuk dijelajahi.

Keliling kota Jakarta di hari libur sangat  mengasyikkan untuk dijelajahi, jika punya waktu sehari pun bisa mengunjungi beberapa tempat. Mari berpetualang...

Monumen Nasional Jakarta
Memulai petualangan di acara car free day, menikmati sejuknya udara pagi kota jakarta tanpa polusi kendaraan, maka datanglah ke kawasan Monas hingga Senayan. Sepanjang jalan Tamrin - Sudirman ditutup setiap hari minggu, mulai pagi hari hingga pukul 11 siang. Kapan lagi bisa merasakan Jakarta dengan kebebasan seperti ini, ada banyak yang bisa kamu lakukan mulai dari berolahraga, menonton beberapa pertunjukan yang ditampilkan oleh beberapa komunitas. Selain itu, di kawasan Monas terdapat beberapa penjual kaki lima yang menjajakan aneka kuliner dan cindera mata. Sempatkanlah juga naik ke atas puncak Monas, dengan membayar 3500 kamu sudah bisa menikmati 360 derajat kota jakarta dari ketinggian


Pemandangan kota Jakarta dari Puncak Monas
Kawasan Kota Tua
Selanjutnya mari melanjutkan petualangan menuju Kota Tua, dari Monas cukup naik Transjakarta menuju halte Kota Tua. Tiba di Kawasan Kota Tua, pengunjung akan terasa kembali ke zaman tempo dulu, gedung-gedung tua menjadi ciri khasnya. Ada banyak museum disini, tapi saya lebih merekomendasikan Museum Bank Indonesia dan Museum Fatahillah, dua museum yang cukup mewakili. Tak hanya itu disini kamu bisa menyewa sepeda untuk keliling kawasan kota Tua. Jangan lupa berfoto dengan manusia patung di depan Museum Fatahillah. 



Es Krim Italia Ragusa
Matahari jakarta sudah mulai meninggi, panas jakarta mulai tak tertahankan. Mari menuju stasiun kota, lalu naik commuter line menuju stasiun Juanda. Tidak jauh dari stasiun Juanda, mari menuju Ragusa Es Italia, toko yang menjual es krim dari italia yang sudah melegenda sejak 1932. Panasnya kota Jakarta akan langsung hilang setelah menikmati es krim yang rasanya tiada duanya. Es krim tanpa pengawet yang begitu lembut. saya baru saja mengunjunginya minggu kemarin, rasanya memang juara.
Banana Split Es Krim
Bakmi Gang Kelinci 
Puas menikmati es krim, tapi belum cukup kenyang maka destinasi selanjutnya adalah  Bakmi Gang Kelinci, Warung Bakmi yang cukup terkenal. Lokasinya di Gang Kelinci kawasan Pasar Baru, cukup berjalan kaki dari Ragusa Es Krim. Pilihan semangkok bakmi akan membuat perut keroncongan menjadi kenyang. Bakmi Gang Kelinci memiliki cabang dimana-mana, tapi menikmati langsung dari asalnya bukankah menjadi liburan yang menyenangkan.

Taman Margasatwa Ragunan
Selanjutnya mari melanjutkan petualangan menuju Ragunan, berhubung lokasinya agak jauh mari kita naik Gojek, transportasi ngehits di Jakarta. Ragunan ini lokasinya di Pasar Minggu Jakarta Selatan. Kebun binatang ini memiliki banyak koleksi hewan mulai dari binatang yang kecil hingga yang besar. Kalau di ragunan saya paling suka kawasan pusat primata schumutzer karena disini saya bisa membedakan gorilla dan sejenisnya

Bisa Bedakan??
Sky Dinning Plaza Semanggi
Sore pun tiba, petualangan belum berakhir. destinasi selanjutnya Sky Dinning, tempat dimana bisa menyaksikan sunset kota Jakarta. Lokasinya berada di lantai 10 plaza semanggi. Saya paling suka menunggu matahari terbenam disini, tempatnya strategis dimana bisa melihat senja dari ketinggian sambil menunggu malam tiba yang juga tidak kalah indahnya. Gedung-gedung disekitarnya akan menjadi pemandangan yang membuat saya tak ingin beranjak. 

Matahari terbenam, malam pun tiba. Petualangan keliling Jakarta berakhir disini. Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa ditelusuri namun waktu sehari tidak akan pernah cukup untuk menjelajahinya.



Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog “Blog Competition #TravelNBlog 4 Jakarta 24 Jam” yang diselenggarakan oleh @TravelNBlogID

66 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar. Spam Komentar silahkan pergi jauh