Ngabuburit di Sate Maranggi Sari Asih

Wednesday, July 29, 2015 muhammad akbar 26 Comments

Bulan ramadahan identik dengan ngabuburit atau menunggu waktu bedug magrib tiba. Menunggu waktu berbuka puasa biasanya dilakukan dengan berbagai kegiatan, paling sering biasanya ngabuburit di warung makan bersama teman, sahabat, pasangan ataupun keluarga. Selain itu biasanya ngabuburit juga bisa menjadi ajang reuni tentunya.

Hari ke-28 Ramadhan, saya bersama teman kerja ngumpul di salah satu warung makan di kawasan Puncak, Sate Maranggi Sari Asih. Ngabuburit sambil bertukar cerita ditemani hidangan sate maranggi yang sangat terkenal di kawasan punca ini. Warung Sate Sari Asih milik Pak Maskur sudah ada sejak tahun 80'an dan belum ada cabang di tempat lain. Terletak di Jalan Raya Cipanas, Pacet, Cianjur. Tempat ini bisa menjadi pilihan berburu kuliner di Kawasan Puncak.  Lokasinya sebelah kanan dari arah Puncak setelah melewati Istana Cipanas, tepatnya seberang jalan kantor Pegadaian Pacet.

Sate Maranggi merupakan kuliner khas Purwakarta, Maranggi artinya daging. Sate Maranggi terbuat dari daging sapi yang direndam dengan bumbu khusus sebelum dibakar. Satenya dibakar kering tanpa diolesi sambal kecap atau saus. Sate ini merupakan sangat berbeda pada sate pada umumnya. Sate ini tidak disajikan dengan lontong seperti sate madura, tapi dengan ketan bakar.

Awal kami datang, tempat ini hanya beberapa orang yang mengisi kursi yang tersedia. Tempatnya hanya sebuah jejeran ruko yang diisi dengan kursi dan meja yang memanjang. Semua pelayannya sibuk dengan kerjanya masing-masing, sibuk memmembakar sate,sibuk menusuk sate dan sibuk mempersiapkan sambel oncom. Kami merasa terabaikan, hanya disuruh duduk sambil menunggu. Tak lama kemudian seorang pelayannya menghampiri kami untuk mencatat menu apa saja yang kami mau pesan.
Proses pembakaran sate dan Ketan
Sate Maranggi dan Ketan Bakar
Ada dua pilihan menu yang disajikan yaitu Sate Maranggi tanpa lemak yang dihargai IDR 3500 dan Sate Maranggi pake lemak dihargai IDR 2500. Saya memesan 10 tusuk Sate Maranggi tanpa lemak dan 2 potong ketan bakar. Hidangan satenya tanpa menggunakan saus kacang, semuanya secara terpisah. Di atas meja sudah terdapat semangkuk sambel oncom, cabe hijau dan kecap botol. Sambel oncomnya sangat khas dan sedikit mengeluarkan bau yang khas pula. Sambel oncom ini terbuat dari permentasi sisa pembuatan tempe dan tahu, jadi rasanya seperti tempe yang sudah lama, tapi yakinlah rasanya enak kok.
Ketan Bakar
Menu Berbuka puasa
Tak lama berselang, bedug magrib pun berkumandag. Tempat ini seketika ramai dan penuh. Deretan kursi kini penuh dan sesak, untungnya kami datang lebih awal sehingga masih kebagian tempat duduk. Para pelayannya sangat sibuk meladeni permintaan. Saya melihat banyak yang memesan ketan bakar dibanding dengan nasi. Bahkan ada pula yang memesan untuk dibawa pulang.

Meja Makan Penuh Dengan Menu Pesanan
Ngabuburit Bersama
Warung Makan Sate Maranggi Sari Asih
Pak Maskur / 087 820 019 473
Jalan Poros Puncak-Cianjur
Pacet, Kec. Cipanas
Kab. Cianjur, Jawa Barat

26 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Silaturahmi dan Berbagi Cerita di Acara Dare To Share

Tuesday, July 28, 2015 muhammad akbar 15 Comments

Sabtu sore 25/7/15, Kereta jenis Commuter Line membawa saya dan penumpang lainnya dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Tanjung Barat. Sudah lama saya tidak naik transportasi kereta, terakhir naik kereta ekonomi dari Stasiun Gubeng menuju Stasiun Surabaya dalam perjalanan pulang dari Bromo. Naik moda transportasi kereta api menjadi pilihan saya mengunjungi Ibukota bagian selatan karena lokasinya dekat dengan tempat tujuan saya dan tentunya bebas macet. Di dalam kereta saya masih kebagian tempat duduk walaupun ditengah perjalanan tepatnya persinggahan Stasiun Depok baru, saya harus berbagi tempat duduk dengan seorang ibu tua. 

Setelah melewati beberapa stasiun, tibalah saya di Stasiun Tanjung Barat. Sebelum menuju Taman Tanjung Barat, terlebih dahulu saya menunaikan sholat ashar di musholla. Selanjutnya saya keluar dari stasiun kemudian berjalan kaki menuju tempat tujuan saya, dimana nantinya saya akan bertemu para kawan pejalan/traveler yang sebelumnya saya kenal hanya di media sosial.

***
Semuanya berawal dari Instagram, setidaknya ada tujuh akun instagram yang saya ikuti semuanya mengundang untuk ikut acara Dare To Share. Dari postingan foto tersebut, saya melihat informasi nama kegiatannya Dare To Share sebagai ajang silaturahmi dan berbagi cerita untuk setiap orang yang datang. Lokasinya di Taman Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Waktunya tanggal 25 Juli 2015 pukul 15.00-18.00 WIB. Informasi inilah membuat saya kenapa harus datang ke Jakarta, karena saya ingin bertemu dengan kawan-kawan yang menurut saya sudah punya pengalaman, mungkin saja saya dapat mengambil sedikit pengalaman dari mereka.

Tiba di Taman Tanjung Barat ketika acaranya sudah dimulai sekitar 30 menit sebelumnya, saya pun berjalan mendekat kemudian mengisi daftar hadir dan berkumpul di salah satu kelompok kecil dan duduk diam sambil melempar senyum tapi beberapa diantara mereka hanya membalas senyum seadanya tapi beberapa diantara mereka terlihat bahagia dengan kelompoknya masing-masing. Saya yang datang sendiri merasa asing yang tidak punya teman, ingin rasanya menyapa tapi saya masih mempelejari situasi terlebih dahulu dan mencoba mengenali satu per satu yang hadir. Saya mah apa atuh dibanding dengan lainnya.

 Mengawali Acara dengan Permaianan
Sebelum acara dimulai, kak abex atau dikenal dengan anak bebek sebagai moderator acara membagi kami ke dalam 3 kelompok besar, saya tergabung di kelompok 1 bersama Ashari Yudha. Siapa sih yang tidak kenal dengan lelaki berewok ini man of behind Catatan Backpacker. Permainannya sangat mudah tapi dibutuhkan kebersamaan, kepercayaan dan kekompakan. Semua anggota kelompok membentuk lingkaran dan saling merapatkan kemudian setiap orang harus duduk di dengkul orang dibelakangnya selanjutnya disuruh berjalan memutar. Terlihat semua orang tertawa dan menikmatinya, menikmati duduk di pangkuan masing-masing. 

Ajang Perkenalan Para Pelopor
Suksesor dibalik Acara Dare To Share
Selanjutnya acara perkenalan oleh orang-orang dibalik kegiatan Dare To Share, mereka terlihat sangat kompak dengan memakai baju merah dan putih. 
Siapa saja sih mereka?

Anak Bebek, wanita cantik yang sudah malang melintang di dunia jalan-jalan baik itu Indonesia maupun luar negeri. Selain cantik pastinya tetap tangguh karena dia juga adalah seorang pendaki gunung. Dia punya mimpi mengunjungi 50 Taman Nasional yang ada di Indonesia. 
Yudha, Catatan Backpacker, lelaki brewok yang memutuskan meninggalkan kuliahnya demi sebuah mimpinya. Berjalan sendirian tapi tidak merasa sendiri karena di setiap daerah mereka selalu mengangap orang ditemui adalah kawan. Dialah orang dibalik akun instagram Catatan Backpacker. Apakah anda satu dari 45.1K pengikutnya? dalam akun istagramnya. dia berbagi cerita, informasi, dan tips tentang setiap perjalanannya bersama dengan Devanosa, yang hari itu tidak hadir.
Satya Winnie, wanita cantik asal sumatera ini yang sekarang tinggal di Jakarta. Pengalaman jalan-jalannya sudah tidak diragukan lagi. Sudah banyak tempat-tempat eksotis yang pernah dia kunjungi di Indonesia, jika tidak percaya lihat saja blog pribadinya www.satyawinnie.com
Laga Pualam dan Dewi Everaers, dua pasangan ini mempunyai tujuan mengenalkan Indonesia lewat Eye Indonesia. Eye Indonesia adalah video project yang merekam keindahan Indonesia yang diunggah di youtube setiap bulannya.
Angga Ata, man of behind Indonesia_Paradise akun instagram yang merepost setiap keindahan Indonesia. 
Dede Sunarya, lelaki berewok yang mirip dengan yudha, tapi dia punya kelebihan dalam tari perut. Seorang traveler yang juga sudah mengunjungi Indonesia, tidak hanya itu foto-foto instagramnya juga keren. Kamu tidak bakalan nyesal jika menjadi satu dari 8K pengikutnya, kamu akan disuguhkan keindahan Indonesia yang membuat orang tidak sabar untuk berpetualang.

Mereka tidak mengenalkan dirinya selengkap apa yang saya tuliskan, tapi apa yang saya tuliskan hanya bagian kecil yang saya ketahui.

Berbagi Cerita Perjalanan
Duduk Bersila sambil mendengarkan cerita
Inilah bagian utama dari rangkaian kegiatan acara Dare To Share. Tema cerita  ada tiga yaitu mountaineering, backpacker dan networking. Setiap kelompok mengutus tiga orang  untuk bercerita tentang pengalamannya, bebas memilih tema yang akan diceritakan dihadapan semua orang yang hadir. Dari semua cerita mereka, saya sangat tertarik dengan cerita Adli yang menceritakan perjalananya mengunjugi Pulau Buruh di Ambon. Entah kenapa saya sangat bersemangat ketika saya menceritakan tentang keindaha Indonesia Timur seperti Ambon. Adli menceritakan setiap detail perjalanannya baik dari segi transportasi, akomodasi dan hal lainnya. 

Bertemu dengan Travel Blogger
Bang Farhan gak fokus nih
Melalui acara ini juga saya bertemu dengan beberapa travel blogger papan atas. Saya tidak menyangka mereka akan hadir selain Satya yang memang pelopor dari acara ini. Saya bertemu dengan Bang Farhan efenerr.com setiap cerita dalam blognya membuat saya selalu merasa mahasiswa yang mendengarkan dosennya menjelaskan. Catatan perjalanannya mengunjungi Indonesia dan luar negeri ditulis dengan gaya cerita khasnya. Saya paling suka tulisannya yang berjudul Teman, Travelinglah Sekarang Selagi Sempat 

Saya juga bertemu dengan Acen, bapaknya jalan pendaki. Dia selalu menuliskan catatan perjalanannya dalam mendaki gunung tapi dia tidak mau dianggap seorang pendaki gunung, katanya dia cuma seorang penulis yang suka mendaki. Tulisannya dalam mendaki sangat berbeda dengan cerita perjalanan pendakian pada umumnya. Jalan pendaki sekarang sudah menjelma menjadi sebuah komunitas dan acen sebagai bapaknya. Mereka semuanya sangat terbuka dalam berbagi cerita, cerita yang kami bahas tentu tidak jauh-jauh dari dunia blogging dan jalan-jalan. Saya merasa beruntung bertemu dengan mereka.

Permainan Seru dan Pertanyaan Berhadiah
Sebelumnya sudah ada permainan kekompakan di awal, kali ini adalagi permainan yang tidak kalah serunya. Setiap orang menuliskan nama dan menyuruh orang lain untuk melakukan hal apapun yang ditulis. Dari semua kertas yang terkumpul, kemudian dikocok dan diambil seperti layaknya mengundi arisan. Ada tiga kertas yang terpilih, diantara kertas itu terdapat hal yang paling seru, dimana seorang menuliskan agar Dedesuryana melakukan tarian perut, dengan berat hati Dede Sunarya pun melakukannya. Semua orang yang hadir tertawa, kamu bisa bayangkan perut buncitnya dengan bulu tipis dibawahnya. Upzzzz, kamulah man of the match sesungguhnya.
Terima kasih Eye Indonesia
Selanjutnya ada pertanyaan berhadiah, dicari tiga orang yang berani untuk bertanya apapun. Saya dengan berani mengacungkan tangan dan bertanya kepada kak Abex tentang mimpi terbesarnya yang belum tercapai. Ternyata beliau punya mimpi mengunjungi 50 Taman Nasional di Indonesia, menurutku ini mimpi yang sangat berbeda dengan mimpi pada umumnya. Lewat pertanyaan itu, bak gayung bersambut saya mendapatkan sebuah topi dari Eye Indonesia, entah kenapa saya memang sangat suka dengan topi tersebut, secara saya kan pecinta Indonesia.

Cerita Penutup dan Foto Bersama
Sebelum menutup acara Dare To Share, kini giliran Satya,Yudha dan Kak Abex yang menyimpulkan dari semua cerita teman-teman. Satya berbagi cerita tentang betapa pentingnya social networking ketika mengunjungi tempat baru, banyak keuntungan yang bisa didapatkan. Yudha berbagi cerita tentang pengalamannya bahwa setiap pejalan harus selalu menghormati setiap aturan yang berlaku di tempat tersebut. Kak Abex berbagi informasi tentang safety high campaign, setiap pejalan harus memperioritaskan keselamatan, utamanya dalam hal pendakian.

Menutup acara Dare to Share dengan foto bersama, kami mengambil posisi masing-masing dengan ekspresi yang berbeda. Hari semakin gelap tapi kami tetap bersemangat dan tak ingin beranjak dari Taman Tanjung Barat. Sungguh acara yang benar-benar berjalan sukses, walaupun informasi yang saya dapatkan dari Kak Abex bahwa persiapan untuk acara ini sangat singkat dan publikasinya hanya lewat instagram tapi yang datang diluar perkiraannya.
Sempatkan Foto Bersama sebelum Pulang

Foto Bersama Dare To Share Part 1 (taken by Satya)
Acara Dare To Share berjalan sukses walaupun dengan konsep yang sederhana karena kita semua duduk dalam satu buah lingkaran, semua peserta duduk sama rendah dan berdiri kita sama tinggi. Tidak ada istilah senior, master, guru atau apapun itu karena disini semua berhak berbagi cerita. Saya berharap acara ini akan tetap berlanjut, tapi kiranya durasi pertemuannya lebih diperpanjang sehingga semua peserta yang hadir bisa saling mengenal dan saling berbagi cerita. Secara keseluruhan acara ini berjalan sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

15 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar

Destinasi Wisata Anti Mainstream di Maros

Friday, July 10, 2015 muhammad akbar 34 Comments

Saya tertarik dengan kata Mainstream yang lagi populer saat ini untuk para kalangan anak muda. Jika ngomongin tentang kata tersebut, kaum traveler pun meyakini adanya kata Mainstream, lantas apa sih itu yang dimaksud? Main artinya utama dan Stream artinya arus, jika digabungkan artinya arus utama. Arus utama jika disederhanakan memiliki arti sebagai kebiasaan utama atau perilaku umum. Masih mau lebih disederhanakan lagi? Jika dihubungkan dengan dengan traveler, hal-hal yang sering orang lakukan dan kunjungi sebagai acuan  untuk juga melakukan hal tersebut. Sebagai contoh, Jika sebagian orang berkunjung ke Makassar, kurang lengkap rasanya jika tidak datang ke Pantai Losari serta tidak lupa abadikan moment berfoto di depan tulisan Pantai Losari. Can you ever do that? Tidak ada yang salah, intinya mau itu Mainstream atau Anti mainstream tergantung cara kamu menikmatinya. 

Berawal dari ajakan Enda, kawan saya dari Makassar Backpacker mengajak saya dan beberapa teman lain mengeksplore destinasi wisata yang ada di Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Tujuan utama kami adalah mengunjungi sebuah Bukit dan Susur Gua. Kabupaten Maros memang memiliki banyak gua-gua diantara pegunungan karst. Destinasi wisata Air Terjun Bantimurung, Taman Purbakala Leang-Leang dan Rammang-Rammang. Ketiganya merupakan destinasi wisata yang sering banget orang kunjungi atau sudah mainstream. Apalagi Rammang-Rammang, destinasi wisata yang lagi puncak populernya dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Saya tidak akan menuliskan ketiga tempat tersebut karena bagi saya itu sudah mainstream, maka dari itu saya akan rekomendasikan 4 destinasi wisata anti mainstream di Kabupeten Maros. Ada apa aja? Mari bahas satu-satu.

BUKIT TELETUBBIES MAROS


Rasa penasaran membawa kami mengunjungi Bukit Teletubbies Maros yang terletak di Jalan Poros Camba-Maros. Kami berangkat hanya bermodalkan nekat tanpa alamat yang jelas. Sepanjang perjalanan entah berapakali singgah untuk menanyakan tempat ini, namun bukan jawaban yang tepat yang kami dapatkan tetapi muka kebingungan dan hanya geleng-geleng kepala. Tempat ini memang tidak begitu populer apalagi dengan namanya yang membuat penduduk lokal tidak percaya kalau Bukit Teletubbies itu ada di sini.

Gundukan bukitnya tidak sebanyak bukit teletubbies yang ada di Bromo tapi keindahan tempat ini punya arti sendiri. Udara pegunungannya terasa sekali, pemandangan pegunungan dari kejauhan yang sesekali ditutup awan. Tempat ini cocok untuk camping bersama teman atau pasangan dan atau sekedar foto-foto kemudian upload di instagram kamu.

So, jika berkunjung ke Maros sempatkalah datang ke Bukit Teletubbies, tempat ini juga cocok buat yang lagi galau, yakinlah kamu akan menemukan banyak inspirasi di tempat ini.

Pegunungan dengan selimut awannya
Tiduran ala-ala syahrini tapi ini lebih eleghant

Lokasi:
Jalan Poros Camba-Maros
Dusun Rebbo, Desa Bengo
Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros

HUTAN PINUS BENGO-BENGO


Tidak jauh dari Bukit Teletubbies terdapat sebuah hutan pinus, namanya Hutan pendidikan Bengo-Bengo Universitas Hasanuddin. Tempat ini menawarkan kesejukan apalagi dengan pohon pinusnya yang menjulang tinggi. Tak hanya itu, tempat ini juga memiliki camping ground area lengkap dengan beberapa arena outbound.

Menemukan tempat ini tidaklah terlalu sulit karena memang sudah dikenal cuma lokasinya agak masuk ke dalam melewat beberapa rumah warga. Sebelum masuk terdapat sebuah pos namun satpamnya jarang tinggal disana. Jika hanya ingin berkunjung sebentar dan sekedar foto-fot saja, tidaklah perlu harus melapor.

Hutan Pinus Bengo-Bengo juga menyediakan beberapa fasilitas guest house dan gedung pertemuan. Menggunakan beberapa fasilitas disini diharuskan melakukan registrasi atau mengirim surat ke pengelolanya. Tempat ini sering dijadikan ajang kaderisasi mahasiswa utamanya dari kampus Universitas Hasanuddin.

Pohon Pinus Menjulang Tinggi

Lokasi:
Jalan Poros Camba-Maros
Desa Bengo
Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros

TEBING TAK BERNAMA


Saya menghentikan laju motor ketika melihat sesuatu yang beda disisi kiri jalan dalam perjalanan pulang dari Hutan Bengo-Bengo. Rasa penasaran membawa saya untuk menelusurinya lebih dalam walaupun ada rasa keraguan sampai ke ujungnya. Sebenarnya tempat ini bukanlah tujuan dari daftar destinasi yang kami rencanakan. Sebuah lorong yang ujungnya entah kemana yang diapit oleh dua buah tebing yang  menjulang tinggi seakan membuat sekat dan sisinya ditumbuhi oleh beberapa pohon dan tumbuhan menjalar.

Saya menyebutnya Tebing Tak Bernama, karena memang tak punya nama. Tempat ini juga sepertinya tidak pernah ada yang menelusuri sebelumnya. Terlihat dari pinggir jalan, untuk sampai ke bawah dasarnya kami harus menuruni dan melewati sebuah gundukan sampah.

Tempat ini  tidak saya rekomendasikan, tapi bagi yang punya jiwa adventure kamu bisa menyelusurinya lebih ke dalam lagi.

Dinding tebingnya menyerupai bebatuan karst
Terlihat ujungnya sebuah cahaya, kami cukup sampai disini.

Lokasi:
Jalan Poros Camba "Sisi kiri jalan berkelok"
Kecamatan Cenrana
Kabupaten Maros



GUA ANJING TADDEANG


Perjalanan kami terhenti di kawasan Taddeang tepat di depan Masjid Taddeang. Tidak jauh dari tempat kami berhenti ada sebuah gua yang akan kami susur siang itu, namanya Gua Anjing. Walaupun nama guanya agak sedikit menakutkan tapi keindahan stalaktik dan staklakmiknya tidak usah diragukan. Yah, orang sekitar gua ini mengenalnya dengan nama itu. Dulunya gua ini ditemukan oleh seorang warga yang mencari anjingnya dan ternyata anjingnya bersembunyi di dalam gua.

Gua Anjing Taddeang memiliki dua lubang masuk, dengan ukuran yang berbeda. Lubang yang pertama memiliki ukuran yang besar sehingga kami masuk lewat disini sedangkan lubang yang kedua hanya bisa dileawati dengan merangkap, kami keluarnya lewat lubang ini. Panjang guanya sekitar 400 meter, ini gua paling panjang yang pernah saya masuki dibading Gua Bawaleang, Londa di Toraja dan Gua Kelelawar. Jika biasanya gua identik dengan udara yang terbatas tapi di Gua Anjing ini saya tidak merasakan sesak sama sekali.

Lubang Masuk dengan ukuran lebih besar
Dengan peralatan seadanya kami masuk dengan headlamp masing-masing, tanpa senter kami tak bisa melihat apapun karena memang sumber cahaya cuma ada di lubang saat kami masuk. Semakin menyusur kedalam kami menemukan beberapa kolam air yang tenang. Saya merasa takjub akan apa yang saya lihat pada saat itu, banyak spot-spot keren dengan bentuk yang berbeda-beda. Ujung dari Gua Anjing terdapat sebuah kolam yang dipenuhi dengan air, lagi-lagi kami tidak berani turun menyelaminya lebih dalam tanpa peralatan yang lengkap dan orang yang sudah paham dengan gua ini.


Airnya cuma seukuran lutut, masih ada lagi yang lebih dalam
Sebuah Kolam berada di Ujung Gua, Mentok!!
 Lokasi:
Dusun Ta'Deang, Desa Samanggi
Kecamatan Simbang
Kabupaten Maros

So, Tertarik untuk mengunjungi keempat destinasi wisata anti mainstream yang sudah saya kunjungi? saya ulangi kembali, Tidak ada yang salah, intinya mau itu Mainstream atau Anti mainstream tergantung cara kita menikmatinya kawan!!!.


34 comments:

Pembaca yang baik yang meninggalkan komentar